Senja di Pantai Panmuti di Dusun Kuannoah, Desa Noelbaki, Kupang Tengah, NTT (Foto: Yorim/ Kontributor BD)

Persentase Penduduk Miskin NTT September 2021 Turun Menjadi 20,44 persen

(Beritadaerah – NTT) Persentase penduduk miskin pada September 2021 sebesar 20,44 persen, menurun 0,55 persen poin terhadap Maret 2021 dan menurun 0,77 persen poin terhadap September 2020. Jumlah penduduk miskin pada September 2021 sebesar 1.146,28 ribu orang, menurun 23,0 ribu orang terhadap Maret 2021 dan menurun 27,3 ribu orang terhadap September 2020.

Persentase penduduk miskin perkotaan pada Maret 2021 sebesar 8,60 persen, turun menjadi 8,57 persen pada September 2021. Sementara persentase penduduk miskin perdesaan pada Maret 2021 sebesar 25,08 persen, turun menjadi 24,42 persen pada September 2021.

Dibanding Maret 2021, jumlah penduduk miskin September 2021 perkotaan naik sebanyak 0,12 ribu orang (dari 118,76 ribu orang pada Maret 2021 menjadi 120,58 ribu orang pada September 2021). Sementara itu, pada periode yang sama jumlah penduduk miskin perdesaan turun sebanyak 24,85 ribu orang (dari 1.050,55 ribu orang pada Maret
2021 menjadi 1.025,70 ribu orang pada September 2021).

Garis Kemiskinan pada September 2021 tercatat sebesar Rp437.606,-/kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp344.666,- (78,76 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp92.941,- (21,24 persen). Pada September 2021, secara rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 5,38 orang anggota
rumah tangga. Dengan demikian, besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp2.354.320,-/rumah tangga miskin/bulan.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2021 mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. IPM Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2021 adalah sebesar 65,28 atau tumbuh 0,14 persen (meningkat 0,09 poin) dibandingkan capaian tahun 2020. Peningkatan IPM 2021 didukung oleh peningkatan pada komponen kesehatan dan pendidikan, walaupun pada komponen pengeluaran per kapita yang disesuaikan terjadi penurunan sebesar 0,58 persen dibanding tahun 2020. Umur Harapan Hidup (UHH) yang mewakili komponen kesehatan mengalami kenaikan sebesar 0,21 persen. Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) yang mewakili komponen pendidikan mengalami kenaikan masing-masing sebesar 0,15 persen dan 0,79 persen.

Dari sisi pendidikan, pada tahun 2021 anak-anak berusia 7 tahun memiliki harapan dapat menikmati pendidikan selama 13,20 tahun atau hampir setara dengan lamanya waktu untuk menamatkan pendidikan hingga setingkat Diploma I. Angkaini meningkat 0,02 tahun dibandingkan tahun 2020 yang mencapai 13,18 tahun. Selain itu, rata-rata lama sekolah penduduk umur 25 tahun ke atas juga meningkat 0,06 tahun, dari 7,63 tahun menjadi 7,69 tahun pada tahun 2021. Dari sisi kesehatan, bayi yang lahir pada tahun 2021 memiliki harapan untuk dapat hidup hingga 67,15 tahun, lebih lama 0,14 tahun dibandingkan dengan mereka yang lahir pada tahun sebelumnya.

Jumlah angkatan kerja pada Agustus 2021 sebanyak 2,92 juta orang, naik 0,04 juta orang dibanding Februari 2021. Sejalan dengan kenaikan jumlah angkatan kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga naik sebesar 0,49 persen poin. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Agustus 2021 sebesar 3,77 persen, naik 0,39 persen poin
dibandingkan dengan Februari 2021.

Penduduk yang bekerja sebanyak 2,81 juta orang, meningkat sebanyak 0,03 juta orang dari Februari 2021. Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase terbesar adalah Sektor Industri Pengolahan (2,37 persen poin). Sementara sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu Sektor Pertanian (5,87 persen poin). Sebanyak 2,13 juta orang (75,97 persen) bekerja pada kegiatan informal, turun 2,76 persen poin dibanding Februari 2021.

Persentase setengah penganggur naik sebesar 0,42 persen poin, sementara persentase pekerja paruh waktu naik sebesar 0,86 persen poin dibandingkan Februari 2021. Terdapat 336,05 ribu orang (8,50 persen penduduk usia kerja) yang terdampak COVID-19. Terdiri dari pengangguran karena COVID-19 (14,37 ribu orang), Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena COVID-19 (9,09 ribu orang), sementara tidak bekerja karena COVID-19 (19,93 ribu orang), dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena COVID-19 (292,66 ribu orang).