Lahan bawang merah di daerah Kupang, NTT (Foto: Bobby/ Kontributor Beritadaerah)

Ekonomi NTT 2021 Tumbuh Sebesar 3,10 Persen (y-on-y)

(Beritadaerah-Ekonomi) BPS NTT Mengumumkan Perekonomian Nusa Tenggara Timur (NTT) berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2021 mencapai Rp 110,89 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 70,54 triliun. Ekonomi NTT tahun 2021 tumbuh sebesar 2,51 persen (c-to-c). Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh lapangan Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang sebesar 11,34 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran komponen PK-LNPRT mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 6,61 persen. Ekonomi NTT triwulan IV-2021 tumbuh sebesar 3,10 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2020 (y-on-y).

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Jasa Kesehatan dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 15,96 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit Yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) mengalami pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 14,92 persen. Bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (q-to-q), ekonomi NTT pada triwulan IV-2021 mengalami pertumbuhan sebesar 2,59 persen.

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 24,49 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 52,36 persen. Struktur Ekonomi NTT pada tahun 2021 masih didominasi oleh lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan dengan kontribusi sebesar 29,17 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran masih didominasi Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yaitu sebesar 68,95 persen.

Januari 2022, gabungan 3 Kota di Nusa Tenggara Timur mengalami inflasi sebesar 1,01 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,83. Kota Kupang mengalami inflasi sebesar 0,99 persen, Kota Maumere mengalami inflasi sebesar 1,31 persen dan Kota Waingapu mengalami inflasi sebesar 0,92 persen. Inflasi Januari 2022 di Nusa Tenggara Timur terjadi karena adanya kenaikan indeks harga pada 7 dari 11 kelompok pengeluaran. Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga terbesar adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik sebesar 3,07 persen.

Pada Januari 2022, dari 90 kota sampel IHK Nasional, 85 kota mengalami inflasi dan 5 kota mengalami deflasi. Kota yang mengalami inflasi tertinggi adalah Kota Sibolga sebesar 1,53 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Manokwari sebesar 0,02 persen. Sedangkan deflasi terbesar terjadi di Kota Kotamobagu sebesar 0,66 persen dan deflasi terendah terjadi di Kota Jayapura sebesar 0,04 persen.