Tingginya IPM Sumatera Utara Pada Tahun 2021

(Beritadaerah-Sumut)Pertumbuhan IPM merupakan salah satu cara untuk melihat perkembangan pembangunan manusia di suatu wilayah. Selama periode 2010-2019, IPM di Sumatera Utara setiap tahunnya rata-rata tumbuh sebesar 0,75 persen per tahun. Adanya Pandemi Covid-19 pada tahun 2020 menyebabkan pertumbuhan hanya sebesar 0,04 persen. Dengan melambatnya pertumbuhan pada tahun 2020, rata-rata pertumbuhan IPM periode 2010-2021 menjadi sebesar 0,64 persen per tahun. Perlambatan di masa pandemik Covid ini disebabkan oleh penurunan dimensi standar hidup layak yang diwakili dengan variabel pengeluaran per kapita yang disesuaikan.

Selain pertumbuhan, status pembangunan manusia juga menjadi salah satu indikator untuk melihat kemajuan pembangunan manusia. Capaian pembangunan manusia di suatu wilayah pada waktu tertentu dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok. Pengelompokan ini bertujuan untuk mengkategorikan wilayah-wilayah menjadi kelompok-kelompok yang sama dalam hal pembangunan manusia. Indeks Pembangunan Manusia Sumatera Utara tahun 2021 mencapai 72,00 tahun. Dengan capaian IPM tersebut, Sumatera Utara berada pada posisi status pembangunan manusia kategori “tinggi”.

Angka IPM dihitung dari agregasi tiga dimensi, yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, serta standar hidup layak. Setiap dimensi diwakili oleh indikator. Dimensi umur panjang dan hidup sehat diwakili oleh indikator Umur Harapan Hidup (UHH)saat lahir. Sementara itu, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan Harapan Lama Sekolah (HLS) merupakan indikator yang mewakili dimensi pengetahuan. Terakhir, dimensi standar hidup layak diwakili oleh indikator pengeluaran per kapita yang disesuaikan.

Umur harapan hidup saat lahir di Sumatera Utara mencapai 69,23. Angka ini menunjukkan bahwa rata-rata bayi yang lahir tahun 2021 dapat bertahan hidup hingga usia 69,23 tahun. Dari sisi pendidikan, secara rata-rata penduduk 25 tahun ke atas di Sumatera Utara telah menempuh pendidikan hingga 9,58 tahun atau setara dengan kelas 3 SLTP. Sementara anak berusia 7 tahun yang masuk dunia pendidikan diharapkan mampu bersekolah hingga 13,27 tahun atau mencapai Diploma I. Pada aspek ekonomi, rata-rata pengeluaran mencapai 10,50 juta rupiah per kapita per tahun. Daya beli masyarakat mencerminkan kemampuan masyarakat dalam membelanjakan uangnya dalam bentuk barang maupun jasa.

Capaian IPM Sumatera Utara merupakan agregasi dari tiga dimensi. Dimensi pertama yaitu umur panjang dan hidup sehat yang diwakili oleh umur harapan hidup (UHH) saat lahir. Umur harapan hidup saat lahir merupakan indikator yang dapat mencerminkan derajat kesehatan suatu wilayah, baik dari sarana prasarana, akses, hingga kualitas kesehatan.

Perkembangan umur harapan hidup saat lahir dari tahun 2010 sampai 2020 menunjukkan capaian yang bagus. Pada tahun 2010, UHH saat lahir hanya sebesar 67,46 tahun, sedangkan pada tahun 2021 rata-rata bayi yang baru lahir dapat bertahan hidup hingga usia 69,23 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa harapan bayi yang baru lahir untuk hidup semakin besar karena membaiknya derajat kesehatan masyarakat. Beberapa faktor yang mempengaruhinya, diantaranya kemajuan teknologi di bidang kesehatan, peningkatan sarana dan prasarana kesehatan serta kepedulian masyarakat terhadap pola hidup sehat.

Dimensi pengetahuan dalam penghitungan IPM merupakan agregasi dari angka harapan lama sekolah (HLS) dan rata-rata lama sekolah (RLS). HLS merupakan indikator proses pembangunan yang menggambarkan ukuran keberhasilan program pendidikan dalam jangka pendek, sedangkan RLS menggambarkan indikator output pembangunan dalam jangka panjang. HLS dan RLS dapat memberikan gambaran tentang penambahan (flow) dan capaian (stock) kualitas sumber daya manusia di suatu wilayah.

Indikator harapan lama sekolah penduduk Provinsi Sumatera Utara tercatat memiliki pola yang semakin meningkat selama kurun waktu 2010-2021. Pada tahun 2021, angka harapan lama sekolah mencapai 13,27 tahun yang memiliki arti bahwa secara rata-rata anak berusia 7 tahun yang masuk jenjang pendidikan pada tahun 2021 diharapkan mampu bersekolah hingga 13,27 tahun atau setara Diploma I. Demikian pula, indikator rata-rata lama sekolah meningkat kurun waktu 2010-2021. Pada tahun 2021 rata-rata lama sekolah mencapai 9,58 tahun. Hal ini menggambarkan bahwa secara ratarata penduduk Sumatera Utara yang berusia 25 tahun ke atas telah menempuh pendidikan sampai kelas IX atau setara pada kelas 3 jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Standar hidup layak diwakili oleh indikator pengeluaran per kapita per tahun yang disesuaikan, mencerminkan kemampuan masyarakat dalam membelanjakan uangnya dalam bentuk barang maupun jasa. Agar kemampuan daya beli masyarakat antar wilayah menjadi terbanding, perlu dibuat standarisasi. Misalnya, satu rupiah di suatu wilayah memiliki daya beli yang sama dengan satu rupiah di Sumatera Utara. Dengan adanya standarisasi ini, maka perbedaan kemampuan daya beli masyarakat antar wilayah dapat dibandingkan.

Selama kurun waktu 2010-2019, indikator ini selalu tumbuh dengan rata-rata 1,65 persen. Tetapi akibat dampak Covid-19, di tahun 2020 daya beli masyarakat menurun. Sehingga rata-rata pertumbuhan pengeluaran per kapita periode 2010-2021 menjadi 1,22 persen per tahun. Pada tahun 2020, pengeluaran per kapita di Sumatera Utara sebesar 10,42 juta rupiah terkontraksi 2,15 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun pada tahun 2021, kembali meningkat menjadi sebesar 10,50 juta rupiah meskipun belum mencapai seperti tahun 2019 namun diharapkan menunjukkan tandatanda perbaikan perekonomian. Sebagai catatan, pengeluaran perkapita di sini adalah pengeluaran per kapita dengan tahun dasar 2012 yang sudah disesuaikan antar daerahnya (pengeluaran perkapita disesuaikan).

Pembangunan manusia merupakan isu yang strategis sehingga capaiannya perlu dipantau. Sebagai indikator komposit, jika IPM disajikan tersendiri, hanya menunjukkan status pembangunan manusia suatu wilayah. Manfaat IPM dapat diperluas jika dilakukan perbandingan antar waktu dan antar wilayah. Kemajuan pencapaian IPM antar waktu di suatu wilayah dengan pencapaian wilayah lain juga dapat dilakukan kajiannya. Berdasarkan hasil penghitungan, IPM Sumatera Utara pada tahun 2021 sebesar 72,00, angka ini adalah angka yang tinggi untuk kemajuan sebuah daerah.

Provinsi Sumatera Utara bersama sembilan provinsi lain terletak di Pulau Sumatera. Jika dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Sumatera, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sumatera Utara berada di tengah-tengah, yaitu posisi kelima dari sepuluh provinsi. Mayoritas provinsi di Pulau Sumatera sudah berada pada kategori “Tinggi” yaitu Provinsi Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Barat, Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Jambi dan Sumatera Selatan. Hanya IPM Provinsi Lampung yang berada pada posisi “sedang”. Tidak ada provinsi di Pulau Sumatera yang berada pada kategori pembangunan manusia “sangat tinggi” maupun “rendah”.

IPM Sumatera Utara tahun 2021 sebesar 72,00, merupakan urutan kelima setelah Provinsi Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Barat dan Aceh. IPM tertinggi di Pulau Sumatera yaitu Provinsi Kepulauan Riau dengan nilai 75,79. IPM terendah di Pulau Sumatera yaitu Provinsi Lampung dengan IPM sebesar 69,90. Secara nasional, IPM Sumatera Utara tahun 2021 menduduki rangking ke 15 dan masih berada dibawah angka nasional yang mencapai 72,29 tahun.