Papua
Anak-anak di Kampung Buetkwar, Distrik Akat, Kabupaten Asmat, Papua saat sosialisasi hidup sehat dari petugas Puskesmas (Foto: Tin Rumbo/ Beritadaerah)

Apakah Indikator Hasil Pembangunan Mencerminkan Kebahagiaan Masyarakat?

(Beritadaerah – Kolom) Indeks Kebahagiaan yang dikeluarkan oleh BPS disusun dari 19 indikator pendukung yang dikelompokkan ke dalam 3 dimensi. Dimensi kepuasan hidup terbagi dalam 2 subdimensi, yaitu kepuasan hidup personal dan sosial. Indikator penyusun untuk subdimensi kepuasan hidup personal terdiri dari 5 indikator kepuasan: pendidikan dan keterampilan, pekerjaan/usaha/kegiatan utama, pendapatan rumah tangga, kesehatan dan kondisi rumah dan fasilitas rumah. Indikator dengan capaian tertinggi pada subdimensi ini terdapat pada kepuasan akan kesehatan, sebesar 76,28 pada skala 0-100. Subdimensi kepuasan hidup sosial disusun dari 5 indikator kepuasan: keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, keadaan lingkungan, dan kondisi keamanan dengan nilai indeks di atas 75,00. Indikator keharmonisan keluarga merupakan indikator dengan capaian tertinggi (82,56) dibanding dengan keseluruhan indikator penyusun Indeks Kebahagiaan.

Indikator Penyusun Indeks Kebahagiaan Indonesia 2021

Sumber : BPS

Hubungan kebahagiaan dengan indikator objektif hasil pembangunan, perlu disandingkan untuk memastikan positioning nilai Indeks Kebahagiaan dengan indikator lain yang sudah digunakan sebagai capaian RPJMN, seperti kemiskinan, pengangguran, hingga IPM. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah provinsi dengan kemiskinan tinggi, memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah? Apakah provinsi dengan IPM yang tinggi memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi? Apakah provinsi dengan tingkat pengangguran terbuka tinggi memiliki kebahagiaan yang rendah? Bagi pemerintah daerah dengan kemiskinan rendah, pengangguran rendah, serta IPM yang sudah tinggi, maka kebijakan apa yang dapat ditindaklanjuti.

Jika dilihat dari hasil menyandingkan kebahagiaan dan ukuran pembangunan makro lain, kita dapat melihat pola tertentu. Ada provinsi yang memiliki kemiskinan tinggi dan kebahagiaan rendah, ada provinsi yang memiliki pengangguran rendah memiliki Indeks Kebahagiaan tinggi. Namun, ada juga kondisi sebaliknya, yaitu kemiskinan tinggi namun memiliki kebahagiaan yang tinggi juga.

Kemiskinan dan Kebahagiaan

Kemiskinan seringkali dilihat sebagai suatu hal yang negatif dalam hidup. Orang miskin dianggap sebagai orang yang inferior, sulit dalam menemukan kebahagiaan yang biasanya disebabkan karena kurangnya kemampuan untuk menghasilkan uang yang cukup atau kurangnya peluang untuk menjadi sukses. Melihat kehidupan masyarakat melalui kacamata ekonomi membuat orang beranggapan bahwa orang miskin berjuang untuk menemukan kebahagiaan setiap hari. Apakah asumsi-asumsi ini sesuai dengan kondisi di Indonesia saat ini?

Hubungan Indeks Kebahagiaan dengan Tingkat Kemiskinan Tahun 2021

Sumber : BPS

Hubungan antara Indeks Kebahagiaan dengan tingkat kemiskinan dapat digambarkan dalam analisis kuadran. Setiap kuadran menunjukkan keterkaitan antara besaran persentase penduduk miskin dengan Indeks Kebahagiaan. Kuadran I menunjukkan daerah dengan persentase penduduk miskin dan Indeks Kebahagiaan penduduk yang relatif tinggi. Kuadran II menunjukkan provinsi dengan persentase penduduk miskin yang relatif rendah dan Indeks Kebahagiaan yang relatif tinggi. Sementara itu, kuadran III menggambarkan daerah dengan persentase penduduk miskin dan Indeks Kebahagiaan yang relatif rendah. Sementara Kuadran IV menunjukkan wilayah dengan persentase penduduk miskin yang relatif tinggi dan Indeks Kebahagiaan yang relatif rendah.

Provinsi-provinsi di Indonesia sebagian besar berada pada kuadran I dan II. Di satu sisi, hal ini menunjukkan adanya kecenderungan pola yang semestinya di sebagian besar wilayah, yakni daerah yang ternyata memiliki persentase penduduk miskin relatif rendah diiringi dengan tingkat kebahagiaan penduduknya yang relatif tinggi dan sebaliknya. Salah satu provinsi yang termasuk dalam kuadran II adalah Kalimantan Utara, yaitu tercatat memiliki kesejahteraan yang lebih baik (persentase kemiskinan relatif rendah dari provinsi yang berada pada kuadran III dan IV) dan Indeks Kebahagiaan yang relatif tinggi. Di lain pihak, kuadran I menunjukkan pola hubungan yang berbeda. Daerah yang ternyata memiliki persentase penduduk miskin relatif tinggi memiliki tingkat kebahagiaan penduduk yang justru tinggi pula. Salah satu provinsi yang termasuk dalam kuadran I adalah Papua Barat, yang tercatat memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi serta memiliki Indeks Kebahagiaan yang relatif tinggi.

Hal ini menggambarkan bahwa tingkat kemiskinan tidak selalu berhubungan dengan tingkat kebahagiaan. Menurut Easterlin (1974), tingkat kebahagiaan tidak ditentukan dari tingkat pendapatan seseorang. Nampaknya hal ini juga sejalan dengan kondisi di Indonesia saat ini. Kebahagiaan subjektif tidak selalu berkaitan dengan status ekonomi. Ada banyak cara dalam menemukan kebahagiaan yang tidak selalu berhubungan dengan pendapatan. Dengan demikian, orang miskin tetap bisa bahagia.

Pengangguran dan Kebahagiaan

Seperti kemiskinan, pengangguran merupakan kondisi yang juga sering dipandang sebagai hal yang negatif. Hal ini wajar karena di Indonesia orang yang bekerja biasanya merupakan sumber pendapatan keluarga. Sehingga, orang yang kehilangan pekerjaan atau menjadi pengangguran akan berdampak hilangnya pendapatan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kehidupan orang tersebut dan juga keluarganya. Hilangnya pendapatan ini dapat memicu rasa ketidakbahagiaan seseorang. Lalu bagaimana dengan kondisi di Indonesia sendiri? Di bawah ini disajikan gambaran mengenai hubungan antara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dengan Indeks Kebahagiaan tahun 2021.

Hubungan Indeks Kebahagiaan dengan Pengangguran Terbuka (TPT) Tahun 2021

Sumber : BPS

Berdasarkan grafik di atas, dapat diamati hubungan antara Indeks Kebahagiaan dan TPT. Sebagian besar provinsi-provinsi di Indonesia berada pada kuadran II. Hal ini menunjukkan kecenderungan pola yang semestinya di sebagian besar wilayah di Indonesia. Provinsi dengan TPT yang relatif rendah, memiliki nilai Indeks Kebahagiaan yang relatif tinggi. Salah satu provinsi yang berada pada kuadran II adalah Gorontalo, yaitu tercatat memiliki TPT relatif rendah dan Indeks Kebahagiaan yang relatif tinggi. Selain itu, terdapat provinsi yang berada pada kuadran IV yang menunjukkan provinsi yang memiliki TPT relatif tinggi dan memiliki Indeks Kebahagiaan yang relatif rendah. Dengan demikian, daerah seperti ini terindikasi memerlukan perhatian lebih dari pemerintah.

Kebahagiaan dan Indeks Pembangunan Manusia

Indeks Pembangunan Manusa (IPM) menggambarkan hasil pembangunan suatu negara yang diukur melalui tiga dimensi yaitu kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Hubungan antara Indeks Kebahagiaan dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) digambarkan dalam gambar di bawah ini.

Hubungan Indeks Kebahagiaan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tahun 2021

Sumber : BPS

Jika diamati hubungan antara Indeks Kebahagiaan dan IPM, terlihat bahwa provinsi-provinsi di Indonesia sebagian besar berada pada kuadran I, II dan IV. Hal ini menunjukkan bahwa hasil pembangunan yang ditunjukkan dengan IPM dan Indeks Kebahagiaan yang secara beriringan relatif tinggi atau sebaliknya. Salah satu provinsi yang berada pada kuadran I adalah Kalimantan Timur, yaitu tercatat memiliki Indeks Kebahagiaan dan IPM relatif tinggi secara bersamaan. Di lain pihak, kuadran II menunjukkan pola hubungan yang berbeda. Daerah yang ternyata memiliki IPM relatif rendah memiliki tingkat kebahagiaan penduduk yang justru relatif tinggi. Salah satu provinsi yang termasuk dalam kuadran II adalah Papua Barat, yang tercatat memiliki IPM yang rendah dan memiliki Indeks Kebahagiaan yang relatif tinggi. Sementara, kuadaran IV menunjukkan tingginya IPM yang tidak diiringi dengan tingginya Indeks Kebahagiaan. Enam provinsi di Pulau Jawa semuanya masuk dalam kuadran ini.