(Beritadaerah-Kolom) Ibarat sedang mengayun bandul, maka ayunan transisi energi bersih sudah sejak lama dilakukan namun semakin kencang mengayun di tahun 2021. Di Indonesia awal tahun 2021, setidaknya beberapa partner yang menyampaikan keinginannya untuk membangun pembangkit listrik energi terbarukan. Overseas Environmental Cooperation Center (OECC) adalah perusahaan Jepang yang mendukung perusahaan-perusahaan Indonesia mendapatkan grand untuk pengembangan energi terbarukan. Joint Credit Mechanism (JCM), lembaga dari Jepang juga ini merupakan kerjasama bilateral antara Indonesia dengan Jepang. JCM mendorong swasta untuk berinvestasi di proyek-proyek rendah karbon. Inggris juga membangun program bilateral disebut dengan MENTARI (Menuju Transisi Energi Rendah Karbon Indonesia). Merupakan program empat tahun untuk mengembangkan energi rendah karbon di Indonesia antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) Republik Indonesia dengan Kedutaan Besar Inggris di Jakarta. Masih banyak lagi institusi maupun perusahaan yang bergerak masuk ke Indonesia untuk membangun investasi rendah karbon.

Transisi energi bersih merupakan salah satu kesepakatan yang dibahas oleh para pemimpin negara-negara G 20 dan tentunya berimbas pada Indonesia. Dalam beberapa kali kesempatan pembicaraan, Presiden Jokowi selalu membahas transisi energi bersih sebagai prioritas negara. Saat berpidato acara puncak 12th Kompas100 CEO Forum: Ekonomi Sehat 2022 Kamis, 18 November 2021. Presiden menyampaikan bahwa untuk ekonomi hijau strateginya harus ditata. Tahun 2030 kemungkinan Eropa tidak akan menerima barang-barang yang berasal dari energi fossil. “Karena memang bandul ekonomi dunia ini sudah mulai bergerak ke arah ekonomi hijau. Kita pun harus cepat menyesuaikan, kalau tidak, kalau misalnya nanti suatu titik entah dua tahun lagi, entah tiga tahun lagi atau lima tahun lagi, Eropa misalnya hanya menerima produk-produk hijau yang dihasilkan dari renewable energy dan kita belum siap, bagaimana kita mau mengekspor barang-barang kita. Begitu mereka mulai, negara lain pasti juga akan memulai. Oleh sebab itu, secepatnya kita harus mulai menggeser arah ekonomi kita sesuai dengan yang tadi akan kita bicarakan di G20,” kata Presiden Jokowi dalam pidatonya 4 Desember 2021.

Kita harus memasuki tahun baru bukan dengan rasa takut atau gentar, tetapi dengan keyakinan dan optimisme. Tinjauan singkat tentang apa yang kita capai dalam menghadapi kesulitan yang belum pernah terjadi sebelumnya harus menunjukkan alasannya.

Terlepas dari dampak seismik dari pandemi, dunia kita menjadi lebih hijau dan lebih efisien, karena energi terbarukan meningkat. Industri menjadi lebih bersih. Teknologi menjadi lebih pintar. Aksi iklim menjadi lebih mendesak. Sepanjang tahun 2021, kita telah melihat listrik yang dihasilkan dari panel surya, turbin angin, dan sumber terbarukan lainnya berakselerasi lebih cepat dari sebelumnya, di seluruh dunia. Temuan terbaru dari Badan Energi Terbarukan Internasional (Irena) menunjukkan bahwa 2021 menjadi rekor baru sepanjang masa untuk jumlah instalasi energi terbarukan secara global. Faktanya, proyeksi saat ini menunjukkan bahwa kapasitas energi terbarukan yang baru dipasang akan mencapai hampir 300 gigawatt tahun 2021– naik dari 260 gigawatt pada tahun 2020, yang merupakan rekor pada saat itu.

Tahun lalu, lebih dari 80 persen dari semua kapasitas listrik baru dapat diperbarui, dengan tenaga surya dan angin menyumbang 91 persen dari energi baru terbarukan. Dalam lima tahun ke depan, diperkirakan 95 persen dari semua kapasitas listrik baru berasal dari solusi terbarukan. Angka-angka ini mengungkapkan, setelah hampir dua tahun kita dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan baru yang ditempatkan pada masyarakat oleh pandemi. Hal itu juga telah mengungkap adanya kerentanan yang mengakar kuat dari sistem energi dunia saat ini.

Di atas kertas tidak ada halangan dalam pembangunan Renewable Energy pada tahun 2022. Kesiapan investor untuk masuk ke Indonesia tidak diragukan lagi. Bank-bank internasional, perusahaan asuransi, private company berduyun-duyun masuk ke Indonesia. Secara global juga sudah terjadi mobilisasi dana untuk transisi menuju green energy.

Bagaimana dengan potensi Indonesia dalam renewable energy? Kita ambil contoh potensi pembangkit listrik tenaga air. Sebagai negara yang berada di wilayah khatulistiwa, Indonesia memiliki curah hujan yang sangat tinggi setiap tahunnya sehingga memiliki sumber air yang cukup besar baik itu run off river ataupun bendungan. Green Industrial Park di Kalimantan Utara dimana sumber energi berasal dari sungai Kayan dengan potensi 13.000 hingga 14.000 megawatt. Indonesia memiliki 4.400 lebih sungai besar dan sedang. 128 diantaranya sungai besar seperti Kayan dan Mamberamo, memiliki potensi 24.000 megawatt.

Indonesia memiliki jumlah aliran sungai (DAS) yang mencapai 458 di Indonesia. Saat musim hujan – yang rata-rata turun pada bulan November hingga Maret – memberikan manfaat tersendiri dalam pengembangan energi alternatif yang bersumber dari air.

Hal ini membuat potensi energi air yang dapat dimanfaatkan Indonesia juga cukup besar. Indonesia memiliki potensi energi air yang potensiaI untuk dapat dimanfaatkan dan dikembangkan dengan baik untuk pembangkit listrik. Sesuai dengan data yang disebutkan dalam RUEN, Indonesia memiliki total potensi PLTA sebesar 75.091 MW. Jadi dari sisi demand maupun supply dalam hal pembangunan pembangkit baru renewable energy menjadi kekuatan Indonesia di tahun 2022.

Belum lagi potensi-potensi yang lain seperti Geothermal, angin, arus bawah laut, dan lainnya. Namun membutuhkan investasi yang sangat besar dan negara tidak memiliki kemampuan, sehingga swasta dipersilahkan masuk.

Apakah yang harus dilakukan selanjutnya? Vibizresearch telah melakukan penelitian, juga wawancara dengan berbagai pihak. Sangat diperlukan pada saat ini adalah peran dari profesional untuk menyajikan project-project yang bankable untuk mempercepat terjadinya sales purchase agreement. Field research menyatakan kegagalan investasi terjadi bukan karena kualifikasi proyek, namun karena dokumentasi proyek yang mesti ditingkatkan ke standar internasional. Tumpukan Purchasing Power Agreement (PPA) banyak terjadi karena lemahnya dokumen pendukung yang menguatkan project feasibility.

Tahun 2022 masih dinantikan implementasi dari regulasi baru dalam bidang energi terbarukan – Peraturan Presiden (Perpres). Rancangannya sudah diselesaikan oleh Kementrian ESDM dan menuju ke tahap pengesahannya. Regulasi ini akan menarik perhatian investor karena di dalamnya terjadi peningkatan tarif.

Penting menjadi perhatian adalah bagaimana semua stakeholder meningkatkan permintaan energi terutama disisi industri. Kondisi ini berkaitan erat dengan bagaimana roda ekonomi dapat kembali dihidupkan sejalan dengan meredanya pandemi Covid 19 di Indonesia. Pertumbuhan demand energi ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi di setiap daerah. Industri bisa menjadi opsi untuk adanya pembelian energi diluar PLN, tentunya dengan kesepakatan skema investasi dengan IPP. Tahun 2022 menjadi tahun dimana pembangunan renewable energy terus akan mengayun, tahun dimana transisi renewable energy akan semakin kuat mengayun.

Leave a Reply

Your email address will not be published.