(Beritadaerah – Kolom) Dalam sebuah wawancara Beritadaerah dengan Profesor Bambang Brodojonegoro, maka disampaikan bahwa untuk meningkatkan bauran energi terbarukan di Indonesia, salah satu yang akan dilakukan adalah dengan dedieselisasi. PLN merencanakan untuk mengurangi pemakaian BBM dengan melaksanakan program dedieselisasi yang dibagi dalam beberapa tahap sebagai berikut :

  1. Interkoneksi sistem-sistem isolated ke grid sehingga PLTD BBM di sistem- sistem tersebut tidak dioperasikan lagi.
  2. Gasifikasi dan pembangunan pembangkit-pembangkit gas (Non-BBM).
  3. Konversi PLTD ke pembangkit EBT dan diupayakan penggunaan skema hybrid dengan baterai di sistem-sistem isolated yang tidak dimungkinkan pembangunan transmisi untuk interkoneksi ke grid.

Dalam rangka mengurangi pemakaian BBM yang berbasis impor di sektor pembangkit maka pemanfaatan pembangkit PLTD akan terus dikurangi secara bertahap. Program Konversi PLTD ke EBT menjadi salah satu inisiatif untuk mengurangi pemakaian BBM dan meningkatkan efisiensi biaya pembangkit terutama di daerah isolated serta meningkatkan jam nyala. Pembangkit berbahan bakar BBM akan digantikan dengan pembangkit EBT dan teknologi EBT yang akan digunakan menyesuaikan potensi energi setempat seperti PLTS, PLTB, PLTBm, PLTAL, PLTP dan lainnya.

Konversi PLTD tersebut merupakan bagian dari upaya PLN untuk mengeksplorasi sumber energi ramah lingkungan dan menggali potensi energi setempat, serta memperhitungkan potensi pengembangan dan konsumsi listrik di masa mendatang di wilayah tersebut. Metode pelaksanaannya menggunakan analisis geospasial, mulai dari pemetaan titik-titik sebaran PLTD eksisting, pemetaan potensi sumber energi terbarukan di wilayah tersebut, yang dikombinasikan dengan potensi pertumbuhan ekonomi regional di titik yang telah diidentifikasi tersebut.

Dari sekitar 5.200 unit mesin PLTD yang terpasang di wilayah Indonesia dan tersebar di 2.130 lokasi mempunyai potensi diikutkan dalam program dedieselisasi dengan konversi ke pembangkit EBT, yang pelaksanaannya secara bertahap menyesuaikan evaluasi atas ketersediaan dan kesesuaian energi setempat serta kebutuhan sistem. Pada tahap awal akan dilaksanakan program konversi PLTD di 200 lokasi Ekuivalen ± 225 MW.

Pada tahap awal akan dilakukan konversi PLTD ke EBT untuk unit pembangkit dengan usia lebih dari 15 tahun, berlokasi di sistem kelistrikan isolated dan dengan konsumsi bahan bakar di atas 0,2738 liter/kWh. Sebagian dari lokasi pembangkit yang merupakan target Program Konversi PLTD ke EBT belum beroperasi secara kontinu selama 24 jam. Hal ini terjadi dikarenakan keterbatasan transportasi bahan bakar minyak serta kondisi mesin pembangkit yang sudah tua sehingga harus dioperasikan bergantian dengan tentu saja biaya operasi yang relatif tinggi. Secara rinci, pemilihan lokasi PLTD yang tepat harus memuat ; ▪ Identifikasi lokasi PLTD;
▪ Analisis pola pasok (beban puncak) dan kebutuhan pasokan listrik;
▪ Informasi kondisi demografi, ekonomi, dan potensi pasar sebagai dasar analisis potensi kebutuhan listrik di lokasi atau sub sistem kelistrikan;

Program konversi PLTD ke EBT ini akan dilaksanakan secara bertahap dan ditargetkan program konversi PLTD akan meningkatkan kapasitas pembangkit listrik berbasis EBT pada tahun 2025.

Sejalan dengan kebijakan Pemerintah dalam meningkatkan pemanfaatan pembangkit EBT, serta untuk mengurangi pemakaian BBM, terdapat langkah- langkah terobosan yang diambil untuk meningkatkan penggunaan EBT melalui program Transformasi Green. Dalam rangka mengurangi pemakaian BBM yang berbasis impor di sektor pembangkitan, maka pemanfaatan pembangkit PLTD akan terus dikurangi secara bertahap. Pemakaian BBM untuk PLTD pada tahun 2019 mencapai 2,16 juta kL atau sekitar 4,15% dari total produksi listrik, dan selanjutnya direncanakan semakin menurun hingga 0,4% pada tahun 2025 dan digantikan dengan energi yang lebih ramah lingkungan dan kompetitif.

Hal tersebut sejalan dengan rencana transisi energi yang kini sedang didorong untuk mengurangi ketergantungan penggunaan energi fosil dan digantikan dengan pembangkit EBT.
Pembangkit EBT yang telah beroperasi hingga tahun 2020 ini sebesar 7.977 MW atau 12,6% dari total kapasitas pembangkit. Pembangkit EBT tersebut terdiri dari PLTA 4.707 MW, PLTM 496 MW, PLTP 2.443 MW, PLTS 79 MW, PLTB 131 MW dan PLTBio/PLTSa 121 MW, dengan pencapaian bauran energi EBT sebesar 13.1%.

Sebagai salah satu upaya pencapaian target bauran energi EBT sebesar 23% pada 2025, Program Konversi PLTD ke EBT menjadi salah satu inisiatif unggulan yang mampu mengurangi pemakaian BBM impor dan meningkatkan efisiensi pembangkit terutama di daerah isolated. Program konversi PLTD ke pembangkit EBT telah diluncurkan pada tanggal 2 November 2020 yang dibuka oleh Menteri ESDM.

Pembangkit berbahan bakar BBM akan digantikan dengan pembangkit EBT, dan teknologi EBT yang akan digunakan menyesuaikan potensi energi setempat. Penggunaan potensi energi setempat diprediksi akan memangkas bukan hanya waktu dan tenaga, tapi juga biaya yang diperlukan untuk mengangkut bahan bakar menuju lokasi pembangkit.

Konversi PLTD tersebut merupakan bagian dari upaya PLN untuk mengeksplorasi sumber energi ramah lingkungan dan menggali potensi energi setempat, serta memperhitungkan potensi pengembangan dan konsumsi listrik di masa mendatang di wilayah tersebut. Metode pelaksanaannya menggunakan analisis geospasial, mulai dari pemetaan titik-titik sebaran PLTD existing, pemetaan potensi sumber energi terbarukan di wilayah tersebut, yang dikombinasikan dengan potensi pertumbuhan ekonomi regional di titik yang telah diidentifikasi tersebut.

Peta Sebaran PLTD 5200 Unit di 2.130 Lokasi

Sumber : PLN

Saat ini terdapat sekitar 5.200 unit mesin PLTD yang tersebar pada 2.130 lokasi di seluruh Indonesia yang berpotensi untuk diikutkan dalam program dedieselisasi konversi ke pembangkit EBT. Implementasi konversi PLTD tersebut akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan hasil evaluasi atas ketersediaan dan kesesuaian energi setempat serta kebutuhan sistem. Pada tahap awal direncanakan program konversi PLTD di 200 lokasi dengan kapasitas ekuivalen ± 225 MW. Selanjutnya terdapat potensi konversi PLTD ke pembangkit EBT hingga + 1.2 GW, bila melihat jumlah PLTD yang masih beroperasi sampai dengan saat ini.

Pada tahap awal di 200 lokasi akan dilakukan konversi pada unit pembangkit dengan usia lebih dari 15 tahun, diantaranya berlokasi di sistem kelistrikan isolated dan dengan konsumsi bahan bakar di atas 0,2738 liter/kWh, serta kriteria lainnya di luar kriteria tersebut. Sebagian dari lokasi pembangkit yang merupakan target Program Konversi PLTD ke EBT belum beroperasi secara kontinyu selama 24 jam untuk saat ini. Hal ini terjadi dikarenakan keterbatasan transportasi bahan bakar minyak serta kondisi mesin pembangkit yang sudah tua sehingga harus dioperasikan bergantian dengan biaya operasi yang relatif tinggi.

Manfaat besar yang akan dirasakan oleh banyak pihak terutama masyarakat di daerah terpencil setelah beralih dari tenaga diesel ke EBT, selain ramah lingkungan, juga akan tersedia listrik selama 24 jam yang akan membuka peluang pembangunan ekonomi baru dalam skala lokal. Sejumlah potensi sumber daya alam yang menjadi komoditas andalan daerah tersebut dapat terus tumbuh karena dipengaruhi ketersediaan listrik yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.

Pemerintah melalui Kementerian ESDM juga telah menargetkan penghentian operasi seluruh PLTD secara bertahap sampai dengan tiga tahun mendatang, sementara sampai hari ini jumlahnya masih cukup banyak dan tersebar di berbagai wilayah, termasuk di wilayah terpencil menyesuaikan dengan kondisi setempat.

Konversi PLTD ke EBT merupakan merupakan bagian dari upaya PLN untuk mengeksplorasi sumber-sumber energi ramah lingkungan seusai dengan ketersediaannya di masing-masing lokasi. Tahapan pemilihan PLTD yang akan dikonversi nantinya akan bervariasi untuk setiap tahapnya disesuaikan dengan (i) ketersediaan potensi energi setempat, (ii) kebutuhan sistem, serta (iii) pemilihan teknologi yang paling sesuai. Setiap tahapnya akan dilakukan pemetaan terhadap kondisi mesin PLTD serta potensi sumber energi terbarukan di wilayah potensial yang kemudian dikombinasikan dengan analisis potensi pertumbuhan ekonomi regional di titik-titik tersebut. Secara rinci, pemilihan lokasi PLTD yang tepat harus memuat berikut:▪ Identifikasi lokasi PLTD;
▪ Analisis pola pasok (beban puncak) dan kebutuhan pasokan listrik;
▪ Informasi kondisi demografi, ekonomi, dan potensi pasar sebagai dasar analisis potensi kebutuhan listrik di lokasi atau sub sistem kelistrikan;

Program ini akan dilaksanakan oleh PLN dengan mempertimbangkan workability dan kemampuan pendanaan PLN. Hasil evaluasi terkait kemampuan pendanaan PLN masih membuka peluang untuk swasta melaksanakan sebagian dari program tersebut.

Teknologi yang akan digunakan diantaranya konversi pembangkit berbasis EBT dengan menggunakan (i) PLTS + baterai dan PLTD sebagai emergency, (ii) PLTD hybrid dengan PLTS/PLTB, atau pembangkit EBT lainnya seperti PLTM, PLTBm dan lainnya, (iii) pelaksanaan pembangkit berbasis energi terbarukan.

Program Konversi PLTD Tahap I , akan menggunakan teknologi PLTS dengan Battery Energy Storage System (BESS), dimana PLTD existing hanya menjadi cadangan/back-up ataupun model hybrid antara PLTS+BESS & PLTD yang akan ditentukan berdasarkan aspek teknis dan keekonomian (least cost), secara umum potensi pengembangan dapat dilihat pada tabel berikut :

Daftar Rekap PLTD Tahap 1 di 200 Lokasi

Sumber : PLN

PLN akan tetap melaksanakan seleksi pemilihan teknologi, baik tahap I maupun tahap selanjutnya berdasarkan kelayakan teknis dan finansial disesuaikan dengan ketersediaan potensi energi setempat .Dalam hal hasil evaluasi lebih lanjut memerlukan penyesuaian atas kondisi teknis ataupun keekonomian, maka daftar lokasi tersebut dapat diganti dengan lokasi lainnya yang memenuhi kriteria teknis dan komersial. Lokasi proyek dan COD dapat ditinjau kembali dan disesuaikan dengan workability dan faktor-faktor lain yang berpengaruh.

About The Author

Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.