(Beritadaerah – Kolom) Energi terbarukan di Indonesia telah menjadi prioritas seiring dengan komitment Indonesia untuk mencapai bauran energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025. Menurut siaran pers ESDM Indonesia sudah mencapai bauran energi sebesar 12,9% pada tahun 2021.

Bauran Energi RUPTL 2021-2030

 

Sumber : Kementrian ESDM

Kondisi permintaan energi nasional pada tahun 2020-2021 mengalami penurunan karena terdampak pandemi yang terjadi di seluruh dunia. Data RUPTL menyebutkan terjadi penurunan permintaan sebesar –minus 0,79% pada tahun 2020.

Pergeseran Permintaan Listrik Akibat Pandemi

Sumber : Kementrian ESDM

Kondisi ini tidak menghentikan pemerintah untuk melakukan transisi energi dari energi fosil kepada energi terbarukan. RUPTL 2021-2030 sudah disusun dengan komposisi energi terbarukan lebih besar dari energi fosil. RUPTL 2021 disebut dengan green RUPTL.

Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang signifikan terhadap penurunan penjualan listrik. Dampak ini mulai terasa pada penjualan bulan April 2020 dan puncaknya pada bulan Mei 2020. Bulan Juni-Desember penjualan mulai meningkat. Walaupun belum sepenuhnya pulih, namun penjualan sampai dengan Desember tahun 2020 mulai menuju normal kembali.

Realisasi penjualan akhir tahun 2020 241 TWh dengan pertumbuhan penjualan -0,79%. Sektor Bisnis dan Industri merupakan sektor yang paling terdampak dan mengalami pertumbuhan negatif yang menyebabkan secara keseluruhan pertumbuhan penjualan menjadi negatif. Pertumbuhan negatif ini adalah yang pertama kali terjadi selama 30 tahun terakhir (dari 1990). Pertumbuhan terendah sebelumnya terjadi di tahun 1998 sebesar 1,5% yaitu ketika terjadinya krisis ekonomi melanda Indonesia. Setelah itu, pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2015 sebesar 2,14% ketika pertumbuhan ekonomi sektor industri di Indonesia negatif.

Penjualan tenaga listrik PLN sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan penjualan di Jawa-Bali, karena lebih dari 70% penjualan PLN untuk kebutuhan pelanggan di Jawa-Bali. Penjualan di Jawa-Bali untuk akhir tahun 2020 tumbuh negatif pada -2,6%. Selain di Jawa-Bali, dampak COVID-19 tidak menyebabkan pertumbuhan penjualan menjadi negatif. Untuk Sumatera penjualan pada akhir 2020 tumbuh 3,34%, Kalimantan 5,31%, Sulawesi 3,86%, dan Maluku Papua Nusa Tenggara 9,48%.

Program Pembangunan Ketenagalistrikan 35.000 MW

Program pembangunan ketenagalistrikan 35.000 MW (Program 35.000 MW) meliputi pengembangan pembangkit, jaringan transmisi dan GI serta jaringan distribusi. Program tersebut merupakan bagian dari RUPTL ini yang diharapkan agar semua proses pengadaan sudah tuntas pada tahun 2019, namun hingga saat ini ada pembangkit 0,7 GW yang masih dalam tahap perencanaan. Program 35.000 MW didukung oleh Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2016 dan telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2017 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan.

Perkembangan Program 35.000 MW Tahun 2021

Sumber : Kementrian ESDM

Sesuai kebijakan pemerintah untuk mewujudkan program 35.000 MW, diharapkan peran swasta dalam pembangunan pembangkit lebih besar dibandingkan dengan yang akan dibangun oleh PLN.

Setelah dilakukannya revaluasi aset, kemampuan keuangan PLN telah meningkat sekitar 65% dari sebelum dilakukannya revaluasi aset. Kemampuan keuangan tersebut telah memberikan keyakinan bagi PLN untuk dapat membangun pembangkit tenaga listrik sebesar 29% dari total kapasitas 35.000 MW, dengan tetap melaksanakan kebijakan prioritas yang telah diamanatkan kepada PLN sesuai Peraturan Presiden tersebut di atas. Pelaksanaan program listrik perdesaan. 
Pembangunan dan perkuatan jaringan transmisi dan distribusi tenaga listrik. Pembangunan dan perkuatan gardu induk. 
Pembangunan pembangkit peaker. 
Pembangunan pembangkit tenaga listrik di daerah remote.

Hingga Juni tahun 2021, program 35.000 MW yang telah beroperasi sebesar 10,6 GW, konstruksi 17,7 GW, telah kontrak/PPA namun belum konstruksi 6,1 GW, pengadaan 0,8 GW dan masih dalam perencanaan 0,7 GW. Dengan memperhatikan realisasi kebutuhan listrik yang lebih rendah, maka rencana COD pembangkit tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan sistem.

Rencana Tambahan Pembangkit RUPTL PLN 2021-2030

Sumber : Kementrian ESDM

Komposisi energi terbarukan akan menjadi 51,6% dan energi fossil 48,4%. Dari total 40.575 megawatt, sebesar 19.652 megawatt adalah energi fossil. Energi terbarukan sejumlah 20.923 megawatt. PT PLN (Persero) memiliki komitmen yang tinggi untuk mewujudkan target 23% bauran EBT pada tahun 2025, dimana per 2021 target ini baru tercapai 11,5%. RUPTL 2021-2030 merupakan RUPTL paling Green yang digunakan sebagai landasan untuk mencapai Carbon Neutral 2060. PLN berkomitmen mencapai bauran energi dari EBT sebesar 23% mulai tahun 2025 dan mendukung porsi EBT pada rencana pembangkit baru lebih dari 50%.Pengembangan pembangkit EBT juga harus memperhitungkan keseimbangan antara supply & demand, kesiapan sistem, keekonomian, serta harus diikuti dengan kemampuan domestik untuk memproduksi industri EBT sehingga Indonesia tidak hanya menjadi importir EBT.Transisi energi harus tetap memperhatikan trilema security of supply, sustainability dan affordability. Transisi energi ke EBT merupakan upaya bersama antara PLN, Pemerintah dan semua pihak, sehingga dampak biayanya agar tidak dibebankan hanya pada PLN maupun masyarakat, namun perlu didukung juga oleh Pemerintah maupun lembaga-lembaga donor internasional.

Di atas kertas tidak ada halangan dalam pembangunan Renewable Energy pada tahun 2022. Kesiapan investor untuk masuk ke Indonesia tidak diragukan lagi. Bank-bank internasional, perusahaan asuransi, private company berduyun-duyun masuk ke Indonesia. Secara global juga sudah terjadi mobilisasi dana untuk transisi menuju green energy.

Bagaimana dengan potensi Indonesia dalam renewable energy? Kita ambil contoh potensi pembangkit listrik tenaga air. Sebagai negara yang berada di wilayah khatulistiwa, Indonesia memiliki curah hujan yang sangat tinggi setiap tahunnya sehingga memiliki sumber air yang cukup besar baik itu run off river ataupun bendungan. Indonesia memiliki jumlah aliran sungai (DAS) yang mencapai 458 di Indonesia. Saat musim hujan – yang rata-rata turun pada bulan November hingga Maret – memberikan manfaat tersendiri dalam pengembangan energi alternatif yang bersumber dari air.

Hal ini membuat potensi energi air yang dapat dimanfaatkan Indonesia juga cukup besar. Indonesia memiliki potensi energi air yang potensiaI untuk dapat dimanfaatkan dan dikembangkan dengan baik untuk pembangkit listrik. Sesuai dengan data yang disebutkan dalam RUEN, Indonesia memiliki total potensi PLTA sebesar 75.091 MW. Jadi dari sisi demand maupun supply dalam hal pembangunan pembangkit baru renewable energy menjadi kekuatan Indonesia di tahun 2022.

Apakah yang harus dilakukan selanjutnya? Vibizresearch telah melakukan penelitian, juga wawancara dengan berbagai pihak. Sangat diperlukan pada saat ini adalah peran dari profesional untuk menyajikan project-project yang bankable untuk mempercepat terjadinya sales purchase agreement. Field research menyatakan kegagalan investasi terjadi bukan karena kualifikasi proyek, namun karena dokumentasi proyek mesti diangkat ke standar internasional.

Tahun 2022 masih dinantikan implementasi dari regulasi baru dalam bidang energi terbarukan – Peraturan Presiden (Perpres). Rancangannya sudah diselesaikan oleh Kementrian ESDM dan menuju ke tahap pengesahannya. Regulasi ini akan menarik perhatian investor karena di dalamnya terjadi peningkatan tarif.

Penting menjadi perhatian adalah bagaimana semua stakeholder meningkatkan permintaan energi terutama disisi industri. Kondisi ini berkaitan erat dengan bagaimana roda ekonomi dapat kembali dihidupkan sejalan dengan meredanya pandemi Covid 19 di Indonesia. Pertumbuhan demand energi ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi di setiap daerah. Industri bisa menjadi opsi untuk adanya pembelian energi diluar PLN, tentunya dengan kesepakatan skema investasi dengan IPP.

Tahun 2022 merupakan tahun dimana pembangunan renewable energy mulai akan berlari, tahun dimana transisi renewable energy semakin dipercepat.



About The Author

Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.