(Beritadaerah – Komoditi) Badan Karantina Pertanian (Barantan) punya peran penting dalam meningkatkan pelayanan fasilitasi pertanian khususnya bagi ekspor pertanian. Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Kementerian Pertanian (Kementan), Bambang, mengatakan bahwa akselerasi ekspor pertanian sangat terbuka lebar.

Hal ini didukung oleh semua pemangku kepentingan bahu membahu dalam mewujudkan gerakan tiga kali lipat ekspor (Gratieks) 2024.

“Bagi sebagian orang yang baru mendengar, mungkin nggak masuk akal untuk mewujudkan tiga kali lipat ekspor pertanian pada 2024. Saya kira ini kepentingan nasional, kepentingan kita semua. Apabila semua administrasi bergerak mewujudkannya, bukanlah pekerjaan yang berat untuk kita wujudkan tiga kali lipat ekspor,” kata Bambang, Sabtu (9/10).

Semangat tiga kali lipat ekspor yang terus digelorakan Kementan selama ini, membuat setiap daerah sadar akan potensi pertaniannya masing-masing bahkan ikut bergerak. Selama 2020, ekspor pertanian Indonesia telah menjangkau lebih dari 150 negara.

Pemerintah telah menyediakan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pada 2020 dialokasikan sebesar Rp56 triliun dan 2021 mencapai Rp71 triliun.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan, Dedi Junaedi mengatakan, hampir semua komoditas perkebunan mengalami pertumbuhan yang meningkat selama pandemi COVID-19. Dari 2020 dan 2021 (Januari-Juni) volume ekspor naik 3,4 persen dan nilai ekspor juga naik 44,8 persen.

Saat ini baik dari segi volume maupun dari segi nilainya, ekspor pertanian didominasi kelapa sawit, kemudian diikuti karet, kelapa, kakao, dan kopi.

Ditjen Perkebunan telah menetapkan komoditas ekspor dalam tiga bagian. Pertama, komoditas utama (dari sisi volume) yakni kopi, kakao, kelapa, jambu mete, lada, pala, vanili, kayu manis, cengkeh, dan teh.

Kedua, komoditas andalan yaitu, sawit dan karet. Ketiga, komoditas pengembangan yaitu, nilam, sagu, stevia, pinang, lontar, sereh wangi dan beberapa komoditas lainnya.

“Stevia tanaman untuk pertama kali kita sudah ekspor dan ini peluangnya sangat besar karena hanya beberapa negara di dunia aja yang bisa menghasilkan stevia. Apalagi kita berada di garis Khatulistiwa,” ujar Dedi

Selain itu, potensi ekspor kopi mencapai Rp73,79 triliun, sementara capaiannya hanya Rp13,48 triliun. “Artinya ada kehilangan potensi ekspor sebanyak Rp60,30 triliun. Karena itu perlu ada perbaikan, misalnya peremajan, maka angka tiga kali lipat tidak sulit,” ujarnya dengan optimis.

Emy T/Journalist/BD
Editor: Emy Trimahanani
Foto: BPMI

About The Author

Editor of Vibiz Media Network and Head of Vibiz Learning Center

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.