(Beritadaerah- Nasional) Prof. dr., Amin Soebandrio. Ph.D, Sp.MK – Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Lembaga Eijkman adalah lembaga penelitian yang mengkhususkan di biologi molekuler, didirikan oleh almarhum BJ Habibie pada tahun 1992, tepatnya tanggal 31 Juli 2021 dengan Direktur pertama Prof. Dr. Sangkot Marzuki, M.Sc., Ph.D., D.Sc. Lembaga Eijkman bukan baru ada pada tahun 1992, namun lembaga ini sudah berdiri sejak tahun 1915. Gedung Eijkman didirikan oleh dokter Eijkman yang berada di Indonesia sejak 1888 dan berkesempatan membangun gedung lembaga penelitian.

Sebelumnya Lembaga Biologi Molekuler Eijkman khusus bakteriologi, menyelidiki penyakit infeksi, tetapi kemudian dokter Eijkman menemukan bahwa penyakit Beri-Beri yang banyak menyerang manusia ternyata bukan karena penyakit infeksi, namun karena defisiensi atau kekurangan vitamin B-1. Dr Eijkman karena penemuan itu memenangkan hadiah Nobel pada tahun 1929. Ini adalah alasan mengapa tetap dipertahankan nama Eijkman untuk lembaga penelitian itu. Nama Eijkman untuk memberi semangat untuk para peneliti di Indonesia, bahwa penelitian di Indonesia dapat menerima hadiah Nobel, demikian penuturan Amin Soebandrio.

Saat Pandemi sekarang ini, Lembaga Eijkman memiliki penelitian terkait dengan penyakit infeksi di Indonesia, salah satunya terkait dengan virologi, dimana penelitian virus-virus di Indonesia sudah cukup lama. Lembaga Eijkman sudah menemukan virus-virus yang jarang ditemukan atau tidak dilaporkan di Indonesia. Misalnya saja virus Zika tahun 2015 ditemukan oleh Lembaga Eijkman. Virus westnail ditemukan juga oleh Lembaga Eijkman, ditemukan oleh divisi emerging virus unit (EVU). Lima tahun belakangan ini juga terus dicari virus-virus yang “eksotik” atau virus yang jarang dilaporkan. Didalamnya termasuk virus Corona, setelah diadakan beberapa kegiatan di beberapa daerah. Khususnya daerah-daerah dimana interaksi antara manusia dengan hewan liar amatlah erat, seperti di Sulawesi Utara.

Lembaga Eijkman memiliki kemampuan, untuk mendeteksi virus tersebut. Pada bulan Januari saat pandemi mulai merebak Eijkman sudah mulai bergerak mencari kasus-kasusnya di pintu-pintu masuk internasional, di pelabuhan-pelabuhan. Sampai kasus pertama diumumkan pada bulan Maret 2020, laboratorium yang sudah mampu untuk bisa mendeteksi Lab Eijkman dari awal memiliki kemampuan dengan metode molukuler dengan kemampuan yang sudah terpasang. Fasilitas bio safety level tiga, fasilitas yang jarang di Indonesia tetapi di Lembaga Eijkman sudah secara rutin digunakan.

About The Author

Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.