Bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan III? Jawaban sederhananya Indonesia memerlukan investasi sebagai faktor dalam jumlah pendapatan nasional. Inilah yang saya terangkan pada saat diskusi dengan para peserta daerah yang ingin ekonomi daerahnya bertumbuh. Dalam mesin pertumbuhan ekonomi dikenal formula incremental capital output ratio. Formula sederhana ini menyebutkan pertambahan pada capital atau modal maka akan meningkatkan pertambahan pendapatan. Dalam konteks ekonomi daerah maka peningkatan investasi membuat pertumbuhan PDB atau pertumbuhan ekonomi.

Kinerja investasi diperkirakan membaik secara gradual di berbagai daerah, terutama didukung prospek permintaan eksternal yang tetap kuat. Perkembangan ini terutama pada investasi nonbangunan sebagaimana terindikasi dari impor barang modal di daerah yang mengalami peningkatan pada triwulan II 2021. Peningkatan investasi nonbangunan di Jawa terutama ditopang industri elektronik dan kendaraan bermotor. Sementara itu, investasi nonbangunan di Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) didorong oleh berlanjutnya investasi yang dilakukan korporasi industri baja dan tambang. Di Sumatera, kinerja investasi nonbangunan terutama pada industri CPO, pulp and waste paper, dan batu bara. Investasi nonbangunan pada industri migas dan industri pengolahan (CPO) juga turut menopang kinerja investasi Kalimantan. Sementara itu, kinerja investasi bangunan diperkirakan ditopang oleh berlanjutnya proyek konstruksi Pemerintah di berbagai daerah. Membaiknya investasi bangunan terindikasi dari impor barang konstruksi di daerah yang meningkat pada triwulan II 2021.

Impor Menurut Penggunaan Barang (Juta US$)

Sumber : BPS

Perbaikan kinerja investasi di seluruh wilayah diperkirakan terus berlanjut pada 2021. Perbaikan kinerja investasi di Jawa terutama didorong berlanjutnya investasi pada industri otomotif dan relokasi sejumlah korporasi global, disertai berlanjutnya pengembangan kawasan ekonomi seperti di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sementara di Sulampua, kinerja investasi terutama didukung proyek pembangunan smelter di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara dan Sulawesi Selatan. Selain itu, investasi underground mining tembaga di Papua Barat dan kilang gas di Papua juga terus berlanjut pada 2021, disertai pengerjaan sejumlah proyek seperti perluasan bandara, proyek bendungan, dan kelistrikan di beberapa daerah di Sulampua. Di Kalimantan, investasi terkait hilirisasi juga diperkirakan berlanjut seperti pembangunan pabrik B30 dan pembangunan smelter, serta pertambangan migas di Kalimantan Timur. Demikian halnya dengan proyek infrastruktur bandara, bendungan, dan food estate yang terus berlanjut sehingga akan turut mendukung peningkatan kinerja investasi di wilayah ini. Perbaikan kinerja investasi di Sumatera terutama juga terkait dengan industri CPO, migas, pulp and waste paper, serta berlanjutnya pembangunan smelter, dan beberapa proyek infrastruktur kelistrikan dan jalan tol. Di sisi lain, kinerja investasi Balinusra ditopang oleh proyek infrastruktur Pemerintah, termasuk untuk mendukung pengembangan pariwisata ke depan.

Prospek Investasi Baterai

Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia sebesar 21 juta ton atau 30% di dunia. Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi pemain industri baterai Lithium di dunia.

Indonesia adalah pasar penjualan dan juga produsen otomotif terbesar di Asean dan diproyeksikan akan tumbuh tambahan 2 juta produksi pada tahun 2025. Hal ini bisa menjadi peluang untuk mengembangkan electric vehicle (EV). Baterai akan menjadi komponen terbesar dalam pembuatan electric vehicle, yang mewakili 35% dari komponen EV. Keunggulan utama dari baterai buat Indonesia adalah baterai berbasil nickel. Hal ini didukung oleh kemampuan Indonesia dalam menyediakan sumber daya, karena Indonesia memiliki cadangan nickel terbesar di dunia.

Saat ini ada sembilan perusahaan yang mendukung industri baterai, 5 perusahaan penyedia bahan baku baterai terdiri dari nickel murni. 4 perusahaan adalah produsen baterai. Dengan demikian Indonesia siap untuk pembuatan electric vehicle mulai dari Pengembangan Industri Beterai dibagi menjadi industri perakitan baterai, produksi baterai cell, pembuatan baterai manajemen sistem (BMS), penambangan bahan baku baterai (baterry material) dan sampai dengan daur ulang baterai (end of life/ recycling), sehingga pada akhirnya Indonesia akan memiliki industri baterai terintegrasi.

Pengembangan industri mobil listrik berpotensi memperluas linkage otomotif. Industri mobil listrik akan meningkatkan demand nikel yang merupakan komponen terbesar baterai EV. Di satu sisi, peningkatan demand global menyebabkan pengembangan produk hilirisasi nikel di Indonesia sangat prospektif, terlihat dari perkembangan investasi smelter High Pressure Acid Leach (HPAL). Di sisi lain, akselerasi investasi HPAL ini dihadapkan pada permasalahan pengolahan limbah. Smelter HPAL menghasilkan limbah yang berbahaya bagi lingkungan dalam jumlah banyak sehingga perolehan perizinan pengolahan limbah menjadi sulit.

Sementara itu, langkah preventif juga ditempuh pemerintah untuk mengurangi potensi limbah dari produk baterai EV dengan mendorong pembangunan industri recycling baterai. Saat ini, sudah ada satu perusahaan yang berkomitmen dalam pengolahan limbah baterai dengan nilai investasi mencapai 71 juta dolar AS. Industri ini diperkirakan akan mampu mendaur ulang limbah baterai hingga 20 ribu ton per tahun. Jika melihat roadmap industri otomotif yang secara bertahap akan beralih ke kendaraan listrik, pendirian industri recycling baterai serupa perlu didorong ke depan.

Meningkatnya sebuah ekonomi diukur dari pertumbuhan PDB ini, dimana ukuran yang lebih berkait dengan masyarakat disebut dengan pendapatan perkapita. Inilah yang kita bersama usahakan untuk Indonesia masuk sebagai negara maju. Tahun 2019 Indonesia mencapai USD 4.160 perlu kerja keras untuk mencapai Indonesia Maju, dimana rata-rata PDB per-kapita sebesar USD 48.250. Bagaimana caranya? Indonesia perlu pertambahan modal untuk mencapainya. Itulah sebabnya banyak hal yang mempermudah penanaman modal perlu dilakukan. Ketika dunia semakin masuk dalam globalisasi maka sebenarnya persaingan menjadi sangat terbuka, pengusaha Indonesia pun bisa menanamkan modal di negara lain bila dipandang nyaman dalam melakukan bisnis.

Potensi Indonesia yang besar perlu disertai dengan kesederhanaan dalam pengurusan dengan cepat. Data World Bank masih menyebutkan construction permit di Indonesia masih perlu 200 hari, Indonesia ranking 110 di dunia. Kondisi inilah yang membuat Indonesia memerlukan penyederhanaan undang-undang agar kompetitif bersaing dengan negara lain. Secara keseluruhan, prospek kinerja investasi pada tahun 2021 didukung komitmen Pemerintah untuk meningkatkan iklim investasi, khususnya melalui implementasi Undang-Undang Cipta Kerja. Dalam jangka pendek, Pemerintah akan mulai menerapkan perizinan berbasis risiko secara online dan terintegrasi. Undang Undang Cipta Kerja bermanfaat untuk memperbaiki iklim investasi dan mewujudkan kepastian hukum. Menaikkan kemudahan berusaha dari peringkat 73 tahun 2020 ke posisi 53 dunia. Menghilangkan kebijakan horizontal dan vertikal saling berbenturan. Menghilangkan fenomena hyper regulation (regulasi berlebihan), kebijakan yang tidak efisien, undang-undang yang bersifat sektoral, sering tidak sinkron dan tidak ada kepastian hukum, indeks regulasi Indonesia masih rendah. Khususnya di masa pandemi ini, para pengusaha tetap tidak berhenti mencari peluang, Indonesia butuh kerja dan pemerintah tidak berhenti untuk memberikan fasilitas. Implementasi Undang Undang Cipta Kerja, akan mendorong investasi, dan menciptakan lapangan pekerjaan di tengah sulitnya perekonomian, di tengah sulitnya mencari pekerjaan.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.