(Beritadaerah – Jakarta) Pupuk sangat bermanfaat untuk menyuburkan tanaman. Namun demikian, pemakaian pupuk kimia yang berlebihan dapat memberikan dampak buruk bagi struktur tanah dan tanam. Untuk itu diperlukan pupuk hayati yang ramah lingkungan sebagai penggantinya. Salah satunya diciptakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM). Peneliti BRSDM telah menciptakan formula pembuatan pupuk hayati berbasis rumput laut dan limbah perikanan, hingga meraih penghargaan Satyalancana Wira Karya.

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil rumput laut terbesar dunia. Berbagai riset telah banyak dilakukan KKP untuk komoditas yang satu ini. Salah satunya dilakukan oleh Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan (BBRP2BKP) BRSDM. Tak hanya rumput laut, BBRP2BKP juga memanfaatkan limbah perikanan yang selama ini banyak terbuang sebagai bahan pupuk.

Pada peringatan HUT RI ke-76, peneliti BBRP2BKP Jamal Basmal dianugerahi tanda kehormatan Satyalancana Wira Karya dari Presiden RI Joko Widodo, yang diserahkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, bersama para pegawai KKP lainnya, termasuk dari BRSDM. Penghargaan tersebut diberikan kepada mereka atas jasa-jasanya dalam memberikan darma baktinya yang besar kepada negara dan bangsa Indonesia sehingga dapat dijadikan teladan bagi orang lain.

Jamal dinilai berhasil menciptakan formula pembuatan pupuk hayati berbasis rumput laut dan limbah perikanan yang memiliki keunggulan sebagai zat pemacu tumbuh yang dapat meningkatkan jumlah produksi tanaman dan mampu menghindarkan dari hama sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia, memperbaiki kualitas tanaman, serta meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Kepada Bapak Ibu penerima Satyalancana hari ini, anda merupakan ujung tombak terdepan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk hadir di tengah-tengah masyarakat kelautan dan perikanan dalam memberikan pelayanan yang terbaik,” tegas Menteri Trenggono.

Menurut Jamal, pupuk hayati berbasis rumput laut akan memberikan manfaat dan peningkatan ekonomi antara lain membuka peluang bisnis pupuk hayati dengan menggunakan bahan baku rumput laut dan limbah pertanian lainnya serta menggunakan konsorsium mikroba untuk menjamin ketersediaan unsur hara N-P-K dan melindungi tanaman dari hama dan patogen lainnya. Selain itu, proses produksi pupuk hayati berbasis rumput laut mudah, sederhana dan aplikatif serta bahan bakunya memanfaatkan sumber daya laut Indonesia yang melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal.

“Diharapkan nantinya produk pupuk hayati yang ramah lingkungan dapat mensubstitusi pupuk kimia. Bahan baku rumput laut yang digunakan untuk produksi pupuk hayati bisa menggalakkan budidaya rumput laut di kalangan petani rumput laut,” tambah Jamal.

Ia melanjutkan, di Kota Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan, BBRP2BKP telah berhasil menginstal Alat Produksi Pupuk Cair Hayati berbasis Rumput Laut Gracilaria pada UMKM Singkoweri, bekerja sama dengan Bank Indonesia Makassar dan Pemerintah Kota Palopo. BBRP2BKP juga membangun Instalasi Alat Produksi dan Produksi Pupuk Cair Hayati BUMDES Desa Batulicin Irigasi Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan, bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tanah Bumbu.

“Instalasi tersebut memberikan banyak manfaat antara lain untuk meningkatkan nilai tambah rumput laut, meningkatkan produksi hasil pertanian, meningkatkan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan subsitusi pupuk kimia yang tidak ramah lingkungan jika pemakaian berlebih dengan pupuk cair hayati,” ujar lulusan Politeknik Ahli Usaha Perikanan, satuan pendidikan KKP, tersebut.

Agustinus Purba/Journalist/BD
Editor : Agustinus

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.