(Beritadaerah – Jakarta) Indonesia merupakan salah satu negara penghasil ikan tuna terbesar di dunia. Diantara sejumlah area penangkapan tuna di Indonesia, Laut Maluku pantas disebut sebagai surga dalam sektor tangkapan dan pasokan komoditas tuna. Pasalnya, sejumlah pulau di sekitarnya merupakan daerah hunian penduduk desa bermata pencaharian nelayan penangkap tuna, tak terkecuali Dusun Lay Negeri Larike di Pulau Ambon. Namun, depakan pandemi Covid-19 ternyata memberikan imbas lebih besar dari yang diduga, hingga nelayan penangkap tuna desa ini berhenti melaut, lantaran turunnya harga tuna yang drastis.

Terletak di Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Dusun Lay Negeri Larike yang lazim disebut sebagai Dusun Lay ini berjarak cukup jauh dari hiruk pikuk keramaian Kota Ambon, yaitu kurang lebih 60 km dari pusat kota. Alhasil, pemerataan pembangunan infrastruktur belum dirasakan sepenuhnya oleh 700 jiwa lebih masyarakat daerahnya, yang sampai saat ini belum mendapat kemudahan jaringan telepon maupun internet. Namun, itu semua tidak menyurutkan semangat nelayan Dusun Lay, yang bersama dengan penyuluh perikanan, telah mendorong ekonomi daerahnya sebagai sentra nelayan tuna terbesar di Kecamatan Leihitu Barat selama bertahun-tahun.

Dengan berbagai keterbatasan yang ada, Irwan Ibrahim, penyuluh perikanan asal Leihitu Barat, telah memfasilitasi pembentukan Koperasi Perikanan Lay Mandiri pada 23 Maret 2018 di Dusun Lay. Koperasi ini mewadahi sejumlah kelompok nelayan dalam memperluas jaringan usahanya. “Kebutuhan akan koperasi di Dusun Lay jadi mendesak untuk memperjuangkan kepentingan nelayan. Dengan adanya koperasi, akses Informasi, teknologi, pasar maupun bantuan lainnya dapat mudah masuk dan disebarkan, karena masyarakat memiliki jejaring untuk meningkatkan usahanya,” tuturnya.

Akan tetapi, Irwan paham betul bahwa koperasi yang ia bantu dirikan belum cukup memadai bagi nelayan Dusun Lay dalam jangka panjang. Tak disangka, keseharian menangkap tuna bagi nelayan Dusun Lay berubah di kala pandemi, yang memaksa turunnya harga jual tuna secara drastis. Dalam sekejap, hal ini menjadi permasalahan baru bagi kehidupan nelayan, yang sebagian besar bergantung pada tangkapan komoditas tuna.

“Jumlah hari melaut nelayan tuna sudah sangat jarang, ditambah lagi Agustus ini sedang musim paceklik tuna,” pungkas Irwan, lantaran periode musim tangkapan ikan tuna terbaik di Laut Maluku terjadi pada bulan Maret sampai Mei, Juli, November dan Desember. Sementara bulan Januari, Februari, Juni, Agustus sampai Oktober bukan merupakan periode musim tangkapan terbaik, menurut penelitian dari Universitas Sam Ratulangi pada 2020 lalu.

Melalui kegiatan penyuluhan perikanan, Irwan menggandeng nelayan Dusun Lay untuk menyiasati produk perikanan yang dijualnya dengan menangkap cumi maupun ikan dasar lainnya. Sudah 2 tahun lamanya, pemandangan pagi di pingir jalanan Dusun Lay dipenuhi oleh jajaran ember-ember berisi cumi hasil pancingan nelayan yang dibungkus dengan kantong plastik berwarna merah, siap diangkut untuk untuk dijual ke pasar ikan Arumbae di Kota Ambon. Hal ini diinisiasikannya demi mengatasi permasalahan ekonomi di sana.

Pengalihan komoditas usaha tersebut tak mengherankan, karena pandemi Covid-19 yang melanda seluruh wilayah dunia tercatat sangat berimbas terhadap harga jual ikan tuna di wilayah Maluku Tengah, yang dulunya dapat mencapai Rp. 80.000/kg, sekarang hanya berkisar antara Rp. 50.000 sampai dengan Rp. 60.000 saja. “Harga sekarang sudah lebih baik dibanding pas awal pandemi, saat itu hanya terjual seharga Rp 30.000/kg,” ucap La Ajid, salah satu nelayan Dusun Lay, sembari sibuk mengemas cumi hasil tangkapannya.

Inovasi ini tentu tak cukup memuaskan masyarakat Dusun Lay, begitu pun dengan Irwan, yang telah berjuang membina masyarakat demi mendorong roda perekonomian Dusun Lay sejak akhir 2017. Oleh karena itu, harapan Irwan dalam meningkatkan kembali produksi komoditas tuna di Dusun Lay ia wujudkan dengan meloloskan sejumlah akses bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Melalui Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BP3) Ambon sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) KKP, sejumlah penyuluh perikanan berhasil menyalurkan bantuan dari Direktorat Perizinan dan Kenelayanan berupa paket kendaraan roda tiga berinsulin dan cool box yang di terima di akhir tahun 2020. Di samping itu, bantuan dana bergulir dari Dinas Koperasi Provinsi Maluku pun direncanakan akan cair untuk desanya di tahun ini.

Tak kalah penting, bersama dengan tim penyuluh lainnya, Irwan mengadakan sosialisasi ‘Kesadaran akan Pentingnya Bekal Pendidikan’ bagi putra-putri nelayan di daerahnya, agar ke depannya pengusaha ikan di daerahnya dapat terus berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi. Sosialisasi ini membuahkan minat bagi 5 orang anak dari nelayan Dusun Lay untuk menempuh pendidikan, yang telah mendaftarkan diri pada Politeknik Perikanan Ambon di Desa Waiheru pada Juni lalu.

Mendukung berjalannya sosialisasi, Kepala Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Ambon, Abubakar menyatakan, hal tersebut mengindikasikan mindset masyarakat sudah mulai berubah. “Terlihat bahwa keinginan dan kemauan masarakat nelayan Dusun lay semakin besar terhadap keberlanjutan pendidikan anak-anaknya,” ucapnya bangga. Ia optimis, bahwa meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pendidikan, pelatihan dan penyuluhan akan menyongsong salah satu program besar KKP dalam menjadikan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN), yang pada akhirnya mendorong produksi komoditas unggul Indonesia, termasuk tuna.

Walaupun tak secara langsung mengatasi permasalahan produksi tuna di Dusun Lay, jerih payah penyuluh perikanan setidaknya telah mengangkat taraf ekonomi bagi nelayan daerahnya, dan terus menumbuhkan semangat juang bagi masyarakat dalam mengembangkan usahanya. Julukan ‘sentra tuna terbesar’ tidak akan mati begitu saja bagi Dusun Lay, itu yang Irwan yakini.

Perlu diketahui, peran penyuluh perikanan dalam mencerahkan, mengkayakan dan memberdayakan (enlighten, enrichment, empowering) dapat digambarkan seperti efek kibasan sayap kupu-kupu (butterfly effect) bagi masyarakat sekitarnya. Dimulai dengan langkah kecil, memberi penyuluhan kepada tiap orang warga, sampai dengan menarik sekelompok nelayan sebagai Kelompok Usaha Bersama (KUB), dedikasinya yang tinggi telah berjasa memperluas jaringan usaha Koperasi Lay Mandiri, yang saat ini telah bekerja sama dengan berbagai instansi ternama.

Salah satunya yaitu PT. Maluku Prima Sejahtera yang merupakan jalinan kerja sama dalam hal pemasaran hasil tangkapan tuna. Melalui kerja sama ini, Koperasi Perikanan Lay Mandiri diberikan kepercayaan sebagai verifikator bagi nelayan Desa Larike dan sekitarnya yang ingin menjual hasil tangkapannya kepada PT. Maluku Prima Makmur. Tak hanya itu, koperasi ini pun bermitra dengan CSR Pertamina cabang Ambon, Divisi Pelumas, sebagai salah satu penyalur minyak pelumas resmi untuk mesin motor kapal nelayan di daerah sekitarnya. Kerja sama ini berujung pada hadirnya “Bincang-Bincang Nelayan”, yaitu kegiatan pemberdayaan nelayan Dusun lay bertajuk Progam Bengkel Nelayan.

Ke depan, penyuluhan perikanan akan terus dikerahkan di Dusun Lay dan sekitarnya, utamanya dalam memenuhi akses pasar dan teknologi, agar nantinya, akses usaha kelautan dan perikanan yang dikelola pemerintah melalui sistem digital ini dapat diakses secara mandiri oleh nelayan perikanan Dusun Lay dan membantu meningkatkan perekonomian nelayan secara kontinyu.

Agustinus Purba/Journalist/BD
Editor : Agustinus

About The Author

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.