Hari Sungkari: Pendampingan Pelaku Ekonomi Kreatif Sebagai Solusi Pengembangan UMKM

(Beritadaerah – Ekonomi Bisnis) Beritadaerah kali ini berkesempatan mewawancarai DR. Ir. Hari Santosa Sungkari,M.H., mantan Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur dari Kementerian Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Meskipun sudah pensiun, tetapi DR. Hari Sungkari tetap aktif mendukung ekonomi kreatif Indonesia untuk berkembang. Sampai saat ini juga masih merupakan anggota aktif Masyarakat Industri Kreatif dan Komunikasi Indonesia (MIKTI), yang mendukung perkembangan ekosistem startup dengan program pelatihan dan dukungan lainnya.

 

Penting Pendampingan Selain Pelatihan

Kemenparekraf saat ini mengembangkan berbagai program pendampingan bagi pelaku ekonomi kreatif. Salah satunya pemasaran digital, dimana para pelaku ekonomi kreatif diajak untuk belajar memahami perubahan perilaku konsumen selama pandemic dengan cara membangun branding di dunia digital, mengembangkan pemasaran digital, mengembangkan rencana bisnis digital, serta mendatangkan penjualan.

Untuk membantu UMKM berkembang DR. Hari Sungkari mengatakan bahwa tidak cukup hanya dengan pemberian pelatihan tetapi perlu pendampingan sekaligus perubahan mindset para pelaku bisnis.

“Saya tidak percaya pelatihan saja, karena pelatihan itu tiga kali seminggu, setelah itu lupa. Harus ada pendampingan. Berapa lama? Satu setengah tahun. Jadi ada mentor yang datang kasih PR, dua minggu lagi datang kasih PR. Baru bisa”, demikian ungkap Hari Sungkari.

Menurutnya, bahkan bimbingan teknis-pun jika tanpa pendampingan akan segera dilupakan oleh para peserta pelatihan. Memasuki era digital maka pendampingan ke arah goes digital.

 

Perlu Perubahan Mindset untuk Memotivasi Calon Pelaku Ekraf

Para pelaku UMKM ini juga perlu diberikan motivasi dalam hal perubahan mindset. Sebagai contoh adalah pengalaman Hari Sungkari sendiri di sebuah desa di Nusa Tenggara Timur, ketika para anak muda dihimbau untuk menekuni kerajinan tenun, mereka tidak tertarik. Namun ketika diarahkan dan dirubah mindsetnya bahwa mereka disiapkan sebagai fashion designer, anak-anak mud aini merespon dengan antusias.

Rupanya bagi para calon pelaku usaha ekraf di daerah tersebut tidak bangga menjadi pengrajin, karen akesannya pengrajin adalah profesi para orang tua dan nenek moyang mereka, bukan untuk anak-anak muda. Tapi mereka akan bangga kalau disebut fashion designer.

Dengan semangat baru ini para pelaku UMKM tenun yang berusia muda berani menyalurkan kreatifitasnya untuk mendisain tenun. Sehingga pemakaian tenun meluas tidak hanya untuk kebutuhan acara adat tetapi juga untuk kebutuhan fashion. Memang nilai tambah atas kekayaan intelektual harus ada jika kita bergerak di bidang ekraf.

 

Libatkan ke Program Bangga Buatan Indonesia

Pemerintah telah meluncurkan program Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) yang bertujuan untuk mendorong digitalisasi (onboarding) bagi UMKM offline serta mendorong national branding produk UMKM unggulan pada berbagai marketplace. Selain itu, gerakan ini juga diharapkan dapat meningkatkan ekspor produk UMKM.

Terkait hal ini, Hari Sungkari mengatakan bahwa para pelaku ekraf telah dilibatkan dalam program-program pameran. Sebagai contoh untuk UMKM tenun bisa dilibatkan antara lain pameran kain Adiwastra Nusantara yang diselenggarakan di Gedung JHCC Jakarta.

Di masa pandemi, para UMKM diarahkan untuk terlibat dalam Program Apresiasi Kreasi Indonesia 2021. Ini merupakan program pengembangan ekonomi kreatif melalui peningkatan kapasitas dan pameran kepada para pelaku ekonomi kreatif. Diantaranya yakni pada subsektor kuliner, kriya, fesyen, musik, film, animasi, aplikasi, dan permainan.

“Siapapun yang sudah jalan dua – tiga tahun (bisnisnya) kita nanti berikan apresiasi berupa pameran hybrid dan ada booth camp mentorship secara digital”, terang Hari Sungkari.

Bagi pelaku usaha yang tertarik dapat mengunjungi web Kemenparekraf dan mengajukan pendaftaran yang sudah dibuka saat ini, dan akan ditutup pada tanggal 13 Agustus 2021.

Emy T/Journalist/BD
Editor: Emy Trimahanani