Progress Pembangunan Jembatan Sei Alalak di Banjarmasin Mencapai 92%

(Beritadaerah – Banjarmasin) Sejumlah proyek pembangunan infrastruktur di Kalimantan terus berjalan selama masa pandemi. Salah satu proyek infrastruktur yang saat ini sedang dikerjakan adalah proyek pembangunan Jembatan Sei Alalak yang berlokasi di ruas Jalan Brigjen Haji Hasan Basri, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Jembatan Sei Alalak sendiri dibangun untuk menggantikan Jembatan Kayu Tangi 1 yang telah berusia 30 tahun dan menjadi jalur utama akses Kota Banjarmasin dengan berbagai wilayah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Progress dari pembangunan jembatan ini telah mencapai 92% jelang pekan pertama Agustus 2021. Proyek pembangunannya dipercayakan kepada Konsorsium PT WIJAYA KARYA (Persero) Tbk dan PT Pandji dengan nilai Rp 278 miliar. Dana pembangunan ini bersumber dari dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan skema pekerjaan tahun jamak (multi years).

Saat ini pekerjaan erection main span telah selesai dilaksanakan dan kini, pihaknya tengah melakukan percepatan pekerjaan lantai segmen terakhir (segmen 7-8), pekerjaan minor di jalur frontage 3 & 4 dan jalan akses utama sisi Banjarmasin, serta menyiapkan final tunning cable stay & pemasangan pot bearing, demikian yang dikatakan oleh Manajer Proyek Jembatan Sei Alalak Sija’dul Jamal.

“Kami akan melaksanakan pekerjaan tersebut secara saksama dan prudent dengan tetap mengedepankan komitmen untuk mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam pelaksanaan proyek,” kata Jamal yang dikutip laman BUMN, Kamis (29/7).

Pembangunan Jembatan Sei Alalak sangat istimewa karena merupakan jembatan dengan tipe cable stayed berbentuk melengkung pertama di tanah air. Struktur melengkung ini dipilih untuk memperkecil area pembebasan lahan dan memberikan safe space serta layak bagi RSUD dr Antasari Saleh yang letaknya berdekatan dengan trase jembatan.

Jembatan cable stayed melengkung pertama di Indonesia dengan metode longline matchcast tersebut didesain untuk dapat dilintasi kendaraan dengan tonase maksimal 10 ton dengan konstruksi tahan gempa, dan masa layan hingga 100 tahun.

Metode konstruksi yang digunakan adalah longline matchcast system, dimana sistem precast ini mampu mengefisienkan biaya dan mengoptimalkan kualitas terbaik. Kemudian, geometri tiang pylon asimetris ditujukan untuk mengatur cable stayed agar tidak bersinggungan dan tetap berada di luar deck jembatan serta menambah estetika.

Beton yang digunakan juga adalah beton kualitas tinggi  fc’45 Mpa (K-500 ) yang menggunakan material lokal guna mengoptimalkan potensi resources yang ada. Sehingga efektivitas dan keberhasilannya, bisa menjadi lesson learn sekaligus referensi bagi proyek-proyek lainnya.

Handi Fu/Journalist/BD
Editor: Handi Fu