Petugas medis melakukan layanan tes cepat Antigen COVID-19 di rumah warga di Cimanggu, Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (7/7/2021). Layanan tes Antigen di rumah semakin diminati pelanggan jasa laboratorium kesehatan seiring adanya kekhawatiran pada tingginya penularan COVID-19. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww.

Kominfo Gandeng Operator Seluler untuk Dukung Telemedicine

(Beritadaerah-Nasional) Kementerian Komunikasi dan Informatika menggandeng penyelenggara operator layanan telekomunikasi seluler untuk menjaga kualitas layanan telekomunikasi berjalan baik. Hal itu ditujukan agar dapat mendukung aktivitas masyarakat yang menggunakan layanan telekomunikasi dan layanan telemedicine yang kerap digunakan selama pandemi.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika, Ahmad M. Ramli menyatakan pihaknya menurunkan tim untuk memantau kualitas layanan selama kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa Bali.

“Dalam keadaan darurat seperti saat ini, kami tetap menurunkan tim. Karena tim ini masuk ke dalam sektor esensial untuk mengukur quality of service di lapangan,” ujarnya dalam Webinar Ayo Dukung Peredaran Kartu Perdana dalam Keadaan Aktif, dari Jakarta, Kamis (08/07/2021).

Menurut Dirjen Ramli, penggunaan smartphone saat sudah menjadi alat yang multifungsi. “Tidak hanya menjadi alat komunikasi, dia sudah menjadi alat komunikasi dengan rumah sakit secara digital, sudah menjadi alat kehidupan sosial, ekonomi, berbelanja, melakukan transaksi perbankan dan lain-lain. Jadi inilah sebetulnya esensi dari perkembangan-perkembangan yang kita lakukan terus,” tandasnya.

Dirjen PPI Kementerian Kominfo menyontohkan upaya dari Kementerian Kesehatan yang melakukan kerja sama dengan platform telemedicine seperti Halodoc, agar masyarakat yang terinfeksi Covid-19 dan memilih isolasi mandiri di rumah tetap dalam pantauan dokter.

“Bayangkan kalau mereka itu (pasien Covid-19) yang jumlahnya sudah makin besar ini harus ke rumah sakit. Oleh karena itu, pendekatan telemedicine dengan menggunakan jaringan internet ini luar biasa, membuat mereka tetap di rumah, tetapi merasa dipantau terus 24 jam oleh dokter,” tandasnya.

Menurut Dirjen PPI Kominfo, melalui aplikasi telemedicine, pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri di rumah kapan saja bisa berkonsultasi dengan dokter, baik konsultasi untuk resep obat hingga membeli obat di Apotek dengan menggunakan platform digital seperi Go-Jek untuk kemudian diantarkan ke rumah.

“Ini luar biasa, dari pada dia mencari rumah sakit dengan sulit, antri sana sini, maka dengan telemedicine, 73,7% pengguna internet ini bisa teratasi,” ujarnya.

Bahkan menurut Dirjen Ramli, saat ini pengguna internet tidak bisa lagi dilihat dari rata-rata usia di atas 12-15 tahun. Oleh karena itu, Kementerian Kominfo meminta kepada penyedia jasa internet atau ISP untuk mengukur jumlah pengguna.

“Tapi sekarang 5 tahun ke atas sudah juga menggunakan internet, karena mereka rata-rata sudah home schooling dari rumah masing-masing,” jelasnya.

Mengutip data dari berbagai sumber, Dirjen PPI Kementerian Kominfo menyatakan jumlah pengguna internet di Indonesia sekitar 202,6 juta atau 73,7% dari total populasi. Hal itu sesuai dengan proporsi penduduk dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Data 30 Desember 2020), yakni sebanyak 271.349.889 jiwa.

Dirjen Ramli menjelaskan, dari jumlah pengguna internet tersebut, selama pandemi Covid-19 terjadi peningkatan yang sangat signifikan.