Kita ingat bagaimana pada tahun 2009 Ignasius Jonan memimpin PT Kereta Api Indonesia (KAI). Saat itu Jonan yakin bila kita tidak dapat mengikuti perubahan sekalipun kita kuat, pandai, kita tidak akan dapat bertahan, begitu juga PT KAI. Ia mengutip kata-kata Brian Tracy yang menyatakan “The true test of leadership is how well you function in a crisis.” Seperti yang terjadi saat pandemi sekarang ini semua pemimpin menghadapi ujian, bukan saja para pemimpin negara, namun para pemimpin bisnis, hingga pemimpin keluarga menghadapi ujian yang sama. Bisa sebuah negara, perusahaan, keluarga atau organisasi apapun melaluinya dengan baik? Merupakan ujian bagi para pemimpin. Kalau sebuah kapal berlayar pada saat laut tenang, maka dikendalikan oleh nahkoda siapapun bisa dijalankan dengan aman dan nyaman. Namun bagaimana saat sebuah kapal melampaui badai besar di lautan, hanya seorang nahkoda piawai yang dapat melakukannya. Pandemi yang terjadi sudah sedemikian berat belum berhenti hampir masuk tahun kedua. Mindset ini dipegang Jonan saat memulai pengabdiannya pada PT KAI.

Prioritas pertama dari perubahan Jonan adalah merubah mindset. KAI saat Ignasius Jonan memimpin mengalami perubahan dari product oriented menjadi customer oriented. Sebelumnya KAI bekerja berdasarkan produk yang dimiliki dan tidak memikirkan apa yang dibutuhkan pelanggan. Padahal bila yang dibutuhkan masyarakat adalah pelayanan yang baik, kita harus memberikan layanan itu. KAI menjadi ada dan bertumbuh karena masyarakat membutuhkan KAI. Jika masyarakat tidak membutuhkan KAI, maka KAI tidak akan ada lagi. Perubahan mindset adalah upaya seumur hidup, jadi tidak dikerjakan dalam semalam, perlu ketekunan setiap hari. Ketika perubahan mindset ini dilakukan setiap hari maka perubahan yang lain adalah berupa kumpulan action setiap hari.

Setelah perubahan mindset maka selanjutnya dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh dan konsisten. Selanjutnya yang kedua KAI membutuhkan perbaikan dari sisi keselamatan, kalau di dunia transportasi memang safety adalah nomor satu. Ketiga adalah kebutuhan keamanan, seperti tidak ada penodongan di stasiun, nggak ada perampokan di kereta api, dan lain-lain. Keempat peningkatan kualitas pelayanan, dimana sejak orang datang ke stasiun sampai meninggalkannya puas dengan puas. Kebersihan, kecepatan dalam proses, penanganan keluhan pelanggan semuanya ada dalam pelayanan pelanggan. Dalam setahun KAI memiliki lebih dari 250 juta penumpang, jadi sangat membutuhkan pelayanan yang prima. Kelima kenyamanan merupakan perubahan yang dibutuhkan juga oleh pelanggan. Seperti kebutuhan kereta api yang dilengkapi dengan pendingin, stasiun yang diperluas adalah kebutuhan pelanggan. KAI berusaha mengikuti perkembangan jaman sepanjang harga masih terjangkau sesuai kekuatan daya beli pelanggan. PT KAI adalah perusahaan pelayanan – service company yang dinilai dari kualitas layanannya.

Sebagai pemimpin menurut Jonan perlu meyakinkan mereka yang kita pimpin bahwa tindakan yang kita lakukan benar dan tidak mempunyai vested interest. Tidak boleh ada kepentingan pribadi dalam menjalankan tugas negara. Untuk menjalankan semua perubahan seorang pemimpin harus berada di lapangan, KAI adalah perusahaan layanan, sebagian besar pekerjaannya ada di lapangan bukan di kantor, jadi memang perlu ada di kereta api, stasiun untuk melakukan perubahan. Pemimpin harus ke lapangan untuk dapat merasakan persoalan yang ada dan memberi contoh. KAI menurut Jonan terdiri dari tiga kelompok besar pegawai. Kelompok pertama nggak mau berubah, kelompok kedua bingung harus melakukan apa, kelompok ketiga memang ingin berubah. Namun dalam lima tahun terjadi perubahan sehingga hampir 95 persen mau berubah. Menurut Jonan kepemimpinan itu adalah memberi contoh, memimpin tanpa contoh tidak menghasilkan kebaikan bagi yang dipimpin. Tidak bisa memimpin dengan memberikan keputusan apalagi surat keputusan, itu tidak akan jalan, tidak ada jiwa pada surat keputusan, sebuah keputusan baru jalan bila sang pemimpin memberi contoh. Kalau kita mau bahwa pada saat kereta api malam sedang jalan petugas tidak tidur maka sebagai pemimpin harus memberi contoh dengan tidak tidur. Jonan ikut juga jadwal piket untuk ikut melayani di kereta api, jadwalnya diatur oleh salah seorang direktur. Jonan berlaku seperti petugas yang ada di lapangan, kadang menjadi penjual tiket, petugas di kereta api dan lainnya.

Seorang pemimpin baik atau tidak baik akan memberikan warna bagi organisasi dalam kegiataan apapun. Mempersiapkan calon pengganti atau legacy adalah tugas seorang pemimpin. KAI transformasi menjadi organisasi yang tidak tergantung pada pihak lain dan memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Membangun usaha yang mandiri, semata-mata untuk pelayanan kepada masyarakat. Kaderisasi harus dilakukan, yaitu mereka yang melakukan perubahan, tidak boleh tidak fair, tidak primodial berdasarkan kesukuan, agama atau latar belakang lain. Proses kaderisasi harus dilakuan berdasarkan profesionalisme dan tidak boleh ada anak emas. Sedari awal ditanamkan kepada seluruh pegawai KAI jangan memikirkan untuk diri sendiri namun bagaimana pekerjaan mendahulukan kepentingan masyarakat yang lebih luas. Karir akan disediakan saat sudah melakukan yang terbaik, akan terjadi, pengabdian masyarakat adalah amanah bukanlah cita-cita.

Seperti dikatakan management guru Peter Drucker, “Only three things happen naturally in organizations: friction, confusion and underperformance. Everything else requires leadership.” Organisasi mengalami friksi karena masalah politik dalam organisasi, kebingungan karena ketidakjelasan perintah atasan, kualitas layanan yang buruk, semuanya ini membutuhkan kepemimpinan. Jonan menyadari perlunya pemimpin pada PT KAI. Napoleon Bonaparte mengatakan “If you build an army of 100 lions and their leader is a dog, in any fight, the lions will die like a dog. But if you build an army of 100 dogs and their leader is a lion, all dogs will fight like a lion” Inilah adalah analogi dalam kepemimpinan, keberhasilan memimpin tidak dimulai dengan team yang handal, keberhasilan memimpin dimulai oleh seorang pemimpin yang berhati baja. Meskipun menurut Jonan 70 persen karyawan KAI berpendidikan di bawah SMA, namun dia ingin mengikuti Napoleon untuk memiliki hati singa dalam memimpin. Jonan keras dalam hal disiplin namun juga memimpin dengan perlakuan kemanusian. Misalnya meningkatkan kompensasi bagi karyawan PT KAI, jadi disiplin diterapkan namun tingkat kompensasi dinaikan.

Thomas Alfa Edison penemu lampu pijar menyatakan, “There is no substitute for hard work.” Semua pemimpin harus bekerja keras baru terjadi transformasi, untuk seorang pemimpin itu strategi penting namun eksekusi itu segalanya. Eksekusi adalah berbicara kerja keras, banyak orang punya ide namun tidak bekerja keras melakukan eksekusi maka tidak akan mendapatkan apa-apa. Buat Jonan “Leadership is responsibilty”, ia mengutip kata-kata Peter Drucker bahwa kepemimpinan itu bukanlah persoalan jabatan, karir atau uang tapi kepemimpinan itu adalah tanggung jawab. Transformasi yang dilakukan tidak akan terjadi tanpa sebuah tanggung jawab, dan apa isi tanggung jawab itu, adalah kerja keras dan menjadi contoh. Jonan memberi contoh dengan sejak dari membersihkan toilet hingga memeriksa karcis. “Tidak boleh pemimpin itu merasa ada pekerjaan yang tidak layak buat dia” kata Jonan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.