Pada 2019, sekitar 16 juta pengunjung asing datang ke Indonesia. Sektor ini menyumbang 20 miliar dalar Amerika dalam pendapatan devisa dan mempekerjakan sekitar 13 juta orang atau sekitar 10 persen dari total angkatan kerja. Pandemi COVID-19 memukul industri dengan keras. Pada paruh pertama tahun 2020, kedatangan ke Indonesia turun hampir 60 persen, industri ini diperkirakan akan kehilangan 10 miliar dolar Amerika dalam pendapatan devisa selama setahun penuh, dan lebih dari 90 persen pekerja di sektor ini telah dirumahkan tanpa batas waktu tanpa membayar.

Bahkan ketika dunia mulai pulih dari pandemi, masih belum jelas seberapa cepat para pelancong akan bersedia naik pesawat dan mengunjungi pantai Bali, hutan Kalimantan, dan tujuan populer lainnya. Selain itu, negara-negara yang bergantung pada pariwisata semuanya akan bersaing untuk kelompok pelancong yang lebih kecil untuk sementara waktu. Pemulihan di sektor pariwisata kemungkinan akan tertinggal di belakang sektor lainnya.

Ke depan, diharapkan para pelancong akan – setidaknya pada awalnya, menghindari kontak langsung dalam memesan, bepergian, dan bahkan menginap di tempat tujuan mereka. Mereka akan lebih memilih perjalanan yang lebih singkat ke tujuan luar ruangan dan kebijakan pembatalan yang fleksibel. Selain itu, mereka yang menginap di hotel dan akomodasi besar lainnya akan mengutamakan bukti nyata akan kebersihan dan kebersihan yang lebih baik daripada sebelumnya.

Untuk membantu sektor pariwisata pulih secepat mungkin, Indonesia harus fokus pada dua bidang penting. Pertama, mempromosikan pariwisata dalam negeri. Bukti dari banyak pasar menunjukkan bahwa perjalanan domestik telah pulih lebih cepat daripada perjalanan internasional, terutama di kalangan wisatawan muda yang menganggap diri mereka kurang rentan.

Berbeda dengan wisatawan mancanegara yang terkonsentrasi di Bali dan Nusa Tenggara Timur, mayoritas wisatawan domestik di Indonesia berkunjung ke Pulau Jawa. Untuk mendorong tingkat pariwisata domestik, pemerintah dan operator harus mempromosikan atraksi domestik yang kurang dikenal, seperti kawasan Danau Toba di Sumatera Utara, kawasan Mandalika di Nusa Tenggara Timur, dan Pantai Likupang di Sulawesi Utara. Diskon dan insentif lainnya juga dapat membantu memicu perjalanan domestik.

Indonesia juga dapat menggunakan jeda pengunjung yang tidak disengaja untuk meningkatkan infrastruktur wisatanya. Gangguan tersebut memberikan peluang, misalnya, untuk memperbaiki bandara, akomodasi, dan fasilitas lainnya. Lonjakan aktivitas digital yang dibawa oleh pandemi juga dapat digunakan untuk mempercepat adopsi teknologi baru oleh operator di sektor ini, dari sistem pemesanan online hingga analitik canggih yang dapat menawarkan informasi waktu nyata tentang aktivitas dan perilaku wisatawan.

Keseriusan perhatian pemerintah dalam menangani pemulihan pariwisata juga tidaklah main main, bagi para pelaku pariwisata dialokasikan dana sebesar Rp. 3.8 trilliun. Selain itu juga ada insentif tiket pesawat untuk 10 destinasi wisata sebesar Rp. 400 miliar dan masih ada lagi paket lain yang diberikan untuk mendukung pemulihan sektor pariwisata. Semuanya ini dilakukan untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata Indonesia.

Dengan semakin banyaknya wisatawan Nusantara yang mengadakan perjalanan wisata ke destinasi wisata di Indonesia maka ini akan semakin menambah keyakinan kepada wisatawan dari manca negara yang setiap tahunnya bisa mencapai 16 juta orang dan membawa devisa sampai 21 milyar USD, sebuah jumlah yang sangat disayangkan jika sampai hilang karena akan berefek bukan saja bagi negara tetapi juga bagi para pelaku wisata.

Negeri Zamrud Katulistiwa ini memang kaya akan alamnya budaya dan keseniannya. Sangat disayangkan jika menjadi sepi dari kunjungan tamu yang datang. Kita dapat ikut mendukung semangat pemerintah dengan menjaga berbagai fasilitas yang ada di destinasi wisata. Kemudian tetap menerapkan protokol kesehatan, sebagai prioritas dalam ekonomi dan juga tentunya memanfaatkan media sosial untuk menginformasikan bagaimana keindahan alam kita yang sekarang sudah dengan memperhatikan cleanliness, healthy and safety (CHS).

Sinergi dari semua pihak diperlukan untuk terus mendukung usaha pemerintah akan menghudupkan kembali sektor pariwisata pasca pandemi Covid 19. Kedisiplinan melakukan protokol kesehatan baik dari pengunjung maupun pebisnis wisata harus ditegakan. Penting ditekankan juga agar jumlah pengunjung dibatasi jumlahnya dari keadaan sebelumnya. Biarlah semuanya membawa sinyal positif yang membangun kepercayaan bagi calon wisatawan baik dari nusantara dan juga mancanegara.

About The Author

Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.