(Beritadaerah – Jakarta) Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menginginkan target utama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di antaranya adalah mendorong produktivitas perikanan budidaya berkelanjutan melalui kampung-kampung perikanan budidaya berbasis kearifan lokal.

Terkait dengan hal tersebut, salah satu daerah yang memiliki potensi budidaya ikan air tawar yang besar adalah Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat, demikian yang diutarakan oleh Plt. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Tb Haeru Rahayu.

“Produksi perikanan budidaya harus terus kita kembangkan, guna memenuhi kebutuhan pangan dan menggerakkan ekonomi nasional. Untuk itu, penting adanya pengembangan program-program yang sesuai untuk daerah. Salah satunya, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat ini pada tahun 2020, volume produksi mampu mencapai sekitar 54,5 ribu ton dengan nilai sekitar Rp 1 triliun,” tutur Tb Haeru Rahayu, seperti pada keterangannya di Jakarta, Kamis (10/6).

Tebe mengungkapkan, Menteri Trenggono saat kunjungannya kesana beberapa waktu lalu sangat tertarik dengan geliat budidaya ikan air tawar seperti di Nagari Lansek Kadok, Kecamatan Rao Selatan, Pasaman, Sumatera Barat. Di kolam raksasa milik Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN) Saiyo Saolo dengan jumlah kolam sebanyak 18 kolam, komoditas ikan budidayanya adalah ikan mas, produktivitasnya mencapai 10 ton per kolam per siklus. Dalam 1 siklus bisa menghasilkan Rp 4,7 miliar dengan 3 kali panen dalam 1 tahun sehingga bisa diperoleh sekitar Rp 15 miliar.

Disamping itu, selain produksi, margin atau keuntungan di level pembudidaya tersebut juga dapat ditingkatkan lagi, caranya dengan Gerakan Pakan Ikan Mandiri (Gerpari). Untuk itu, KKP terus mendorong penggunaan dan produksi pakan ikan mandiri disana.

Sementara itu, Bupati Pasaman Benny Utama, mengucapkan banyak terima kasih atas apa yang sudah diberikan dan kepedulian KKP untuk daerahnya. Ketersediaan pakan ikan yang murah dan mudah, sangat diharapkan pembudidaya ikan di Kabupaten Pasaman serta bimbingan dalam produksi pakan mandiri dari KKP melalui Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam sangat dibutuhkan.

Sedangkan Ketua Saiyo Saolo, Ateng menceritakan kelompoknya melakukan usaha budidaya ikan mas di kolamnya dengan ukuran rata-rata luas kolam 1 hektare sudah 5 tahun. Masa pemeliharaan selama 4 bulan dengan padat tebar per kolam 25 ribu ekor dan panen diperoleh dengan ukuran konsumsi per kilo isi sekitar 2-3 ekor ikan mas. Ikan mas dijual dengan harga Rp 24 ribu – 26 ribu per kg. Untuk pemasaran wilayahnya di Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Handi Fu/Journalist/BD
Editor: Handi Fu

 

About The Author

Handi is a Partner of Management and Technology Services at Vibiz Consulting and Editor of beritadaerah.co.id. He is also working as trainer and consultant at LEPMIDA (Regional Investment and Management Development Institute).

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.