Beberapa pengamat mengatakan, bila perekonomian Indonesia bisa pulih dengan cepat kepada tingkat pertumbuhan sebelum pandemi maka Indonesia bisa menjadi negara dengan ekonomi ke tujuh terbesar dunia di atas Rusia, Italia, Korea Selatan dan lainnya. Untuk bergerak dari posisi ekonomi Indonesia ke 16 pada tahun 2019, Indonesia harus fokus pada membangun produktivitas, daya saing, pada saat ini dan juga setelah melewati pandemi. Ini adalah tugas yang tidak mudah, karena sementara menghadapi tekanan pandemi, Indonesia tetap berjuang untuk secara struktural tetap kuat, sehingga Indonesia menjadi negara yang mencapai visinya menjadi negara maju pada tahun 2030.

Selama hampir dua dekade terakhir, tingkat pertumbuhan PDB tahunan Indonesia berfluktuasi sekitar 5 persen, mencapai 6,3 persen pada tahun 2007 sebelum kembali ke 5 persen pada tahun 2019. Namun, pandemi COVID-19 menghantam perekonomian dengan keras, dan di Januari 2021, Oxford Economics memperkirakan ekonomi akan berkontraksi sebesar 2,2 persen pada tahun 2020. Meskipun mengalami kemunduran, diperkirakan ekonomi Indonesia dapat pulih ke pertumbuhan 6,0 persen pada tahun 2021, didorong oleh peningkatan belanja konsumen dan infrastruktur, dan tentunya Indonesia terus melakukan upaya dukungan terhadap sisi pendapatan masyarakat, insentif untuk pengusaha UMKM dan pengusaha besar agar terus berproduksi.

Dalam laporan terpisah McKinsey pada tahun 2020 secara khusus membahas Indonesia, dan diidentifikasikan sejumlah tren yang kemungkinan akan memengaruhi pada periode berikutnya. Ini termasuk fokus yang lebih besar pada sistem healthcare yang tangguh, adopsi teknologi digital yang lebih cepat, kepedulian yang lebih besar terhadap lingkungan, lebih menekankan pada supply-chain, dan perlunya jaminan kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan yang lebih besar.

Bahkan sebelum pandemi melanda dunia, ekonomi global berubah dengan cepat, sebagian besar didorong oleh kemajuan teknologi digital, seperti analitik canggih, robotika dan otomatisasi, Internet of Things (IoT), dan artificial inteligence. Misalnya, studi McKinsey 2019 memperkirakan bahwa antara 2014 dan 2023, otomatisasi akan menciptakan lebih banyak pekerjaan di Indonesia daripada yang hilang, dengan skenario paling agresif diperkirakan akan tercipta 23 juta lebih banyak pekerjaan.

Selain itu, struktur perekonomian negara akan berubah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk pada umumnya. Permintaan tenaga kerja akan meningkat di beberapa sektor, seperti konstruksi, manufaktur, pendidikan, kesehatan, dan perdagangan eceran dan grosir. Keterampilan digital khusus dan pekerja dengan setidaknya pendidikan sekolah menengah akan lebih diminati.

Tetapi untuk membawa ekonomi ke peringkat ketujuh secara global, pertumbuhan tahunan harus didorong ke sekitar 7 persen, lebih cepat dari tingkat dinamis sebelum pandemi sekitar 5 persen. Aspek utama untuk memperkuat fondasi ekonomi Indonesia adalah membangun ketahanan terhadap guncangan besar dan kecil. Pandemi telah mengekspos kerentanan, misalnya, dalam rantai pasokan global, yang harus diatasi untuk menata kembali lanskap ekonomi Indonesia dan membawa negara ini maju dengan cepat. Komponen penting dalam membangun ketahanan ekonomi berpusat pada pengelolaan sistem kesehatan, ketahanan pangan, pariwisata domestik, dan pembangunan infrastruktur.

Dorong teknologi digital untuk mendorong pertanian

Pertanian di Indonesia sangat penting bagi perekonomian dan kesejahteraan negara. Sektor ini menyumbang sekitar 13 persen dari PDB Indonesia dan hampir sepertiga dari jumlah pekerjaan. Tetapi meskipun demikian Indonesia menempati urutan keempat secara global dalam hal produksi pertanian, namun berada pada urutan ke-12 dalam hal ekspor pertanian.

Sumber : UN Comtrade

Tantangan tersebut mempengaruhi petani dan konsumen. Berdasarkan data terbaru yang ada, rata-rata pendapatan petani hampir seperempat dari keseluruhan PDB per kapita Indonesia dan sekitar setengahnya terlihat di Vietnam. Biaya produksi untuk bahan pokok seperti beras dan jagung 25 sampai 50 persen lebih tinggi daripada di banyak negara tetangga di Asia Tenggara. Sementara itu, harga eceran beras hampir 20 persen lebih tinggi daripada di Vietnam, meskipun lebih rendah daripada di banyak negara Asia Tenggara lainnya.

Pandemi COVID-19 juga berdampak pada industri pertanian. Survei McKinsey tahun 2020 terhadap petani Indonesia menemukan bahwa 75 persen responden mengharapkan setidaknya penurunan 5 persen pendapatan untuk tahun ini, termasuk 35 persen yang takut akan penurunan 25 persen atau lebih. Harga yang lebih rendah untuk hasil panen mereka, kesulitan dalam mencari pembeli, dan kenaikan harga untuk bahan-bahan pertanian adalah kekhawatiran yang paling umum dikutip.

Dalam menemukan jalan ke depan, teknologi modern akan memainkan peran penting. Untungnya, seperti di industri lain, pandemi telah membantu mempercepat adopsi teknologi digital ketika bisnis dan individu mengejar urusan mereka sambil menghindari kontak orang ke orang. Ini juga telah memupuk pemahaman yang lebih besar tentang perlunya ketahanan pangan dan rantai pasokan makanan yang kuat.

Diperkirakan bahwa dengan mempercepat adopsi teknologi pertanian modern akan dapat dihasilkan hingga 6,6 miliar dolar Amerika per tahun dalam output ekonomi, sebagai tambahan dari peningkatan hasil pertanian dan pengurangan terhadap biaya. Misalnya, tempat pengumpulan yang dapat secara otomatis menimbang dan memeriksa pengiriman yang masuk dan sistem irigasi canggih dapat meminimalkan pemborosan. Selain itu, penandaan identifikasi frekuensi radio (RFID) dapat melacak pengiriman panen keluar, mengurangi pembusukan dan limbah lainnya.

Namun meski petani Indonesia semakin akrab dengan teknologi digital, sangat sedikit yang menggunakannya untuk meningkatkan hasil atau pendapatan mereka. Survei Mckinsey menunjukkan bahwa 85 hingga 90 persen petani memiliki akses yang baik ke internet dan menggunakan saluran pesan populer WhatsApp, tetapi hanya 2 persen yang online untuk membeli atau menjual barang dan hanya sekitar 30 persen yang mau mempertimbangkan hal ini. Membawa lebih banyak petani ke sistem perdagangan e-commerce merupakan peluang yang signifikan bagi Indonesia.

Sektor pertanian Indonesia juga akan mendapat manfaat dari pembuatan neraca pangan digital, yang menyajikan gambaran komprehensif tentang rantai pasokan pangan suatu negara. Kenya telah menggunakan pendekatan ini untuk menciptakan transparansi yang lebih besar pada penggunaan saat ini dan meningkatkan perkiraan penawaran dan permintaan. Neraca untuk jagung, misalnya, menyatukan produksi, perdagangan, konsumsi, dan keseimbangan stok.

Peran serta generasi muda diperlukan untuk melakukan perubahan ini. Beberapa startup juga telah banyak yang menjadi jembatan untuk penggunaan teknologi digital ini, terutama adalah bagaimana mempertemukan petani langsung dengan pembeli, yang membuat pengurangan terhadap middle man. Penggunaan teknologi digital sudah juga dimulai oleh pengusaha yang menggunakan aplikasi untuk memonitor penggunaan pupuk, air, dan variable lain yang diperlukan.

Indonesia adalah negara yang mengenal pertanian sudah ratusan tahun yang lalu, pengalaman ini adalah kekayaan yang luar biasa. Banyak hal yang secara digital tidak terlihat, tidak dapat dihitung, tidak dapat di monitor namun dapat menjadi keunggulan karena kemampuan petani yang tinggi. Kombinasi antara kemampuan ini dan penggunaan teknolgi digital akan memampukan pertanian menjadi sektor yang paling produktif di Indonesia dan juga dibandingkan negara-negara dunia.

About The Author

Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.