Perjalanan menuju Humbang Hasundutan Sumatera Utara sangat menyenangkan. Tiba di Bandara Silangit, udara yang cerah dan suasana perjalanan yang nyaman membuat teman dari Inggris merasa amat senang. Memang suasana tenang dan juga udara yang nyaman melegakan sesaat lepas dari hiruk pikuk kota Jakarta. Melalui jalan pedesaan, melihat petani berladang, ternak yang sedang makan rumput. Sawah menghijau, rumah-rumah tradisional, hingga rumah ibadah menghiasi pemandangan sepanjang jalan dengan latar belakang bukit-bukit yang hijau menawan. Tiba di Dolok Sanggul, kami makan dahulu di kedai warung Padang. Untung kawan dari Inggris cepat menyesuaikan diri, “ spicy.. no problem”. Lengkap sudah perjalanan dengan makanan lokal yang enak. Inilah daya tarik daerah-daerah di Indonesia, beragam budaya, masakan, merupakan kekayaan yang sangat luar biasa.

Satu hal yang saya ingin sampaikan adalah perlunya daerah dilengkapi dengan internet yang menjadi kebutuhan sekarang ini. Jaringan Telkomsel saat tiba dilokasi ini mati total. Menelpon tidak bisa, apa lagi bersambung ke internet, bukan hanya desa, di kota kecamatan Dolok Sanggul, foto-foto indahnya belum bisa langsung di share saat itu juga. Kondisi ini berlangsung lama hingga malam hari. Malahan penuturan rekan kerja di Dolok Sanggul sudah beberapa hari seperti ini. Humbang Hasundutan adalah salah satu contoh dari transformasi digital yang sedang dilakukan di seluruh Indonesia. Kondisi pandemi memungkinkan percepatan transformasi digital ini menjadi sebuah kebutuhan. Untuk kemajuan ekonomi, pendidikan dan juga membawa tumbuhnya pengetahuan anak-anak bangsa.

Indonesia melakukan inovasi di segala bidang, guna mencegah penyebaran pandemi. Salah satu inovasi yakni dengan percepatan digitalisasi agar masyarakat merasakan pelayanan publik secara jarak jauh. Bagaimanakah Kemenkominfo dapat melakukan percepatan penerapan digitalisasi ini. Menkominfo Johnny G plate menyatakan bahwa Presiden ingin kita melihat dan mencari sisi positif dan manfaat dari kondisi pandemi covid-19. Salah satu sisi yang bisa diambil secara positif adalah justru COVID-19 ini berdampak pada akselerasi transformasi digital.

Terdapat empat hal yang akan dilakukan oleh Kemenkominfo, dalam melakukan proses transformasi digital. Pertama, untuk bisa melakukan transformasi digital kita harus menyelesaikan pembangunan infrastruktur telekomunikasi. Tidak saja sampai dengan jaringan utama atau backbone nya tetapi harus menyambung di jaringan middle mile dan jaringan last mile, hingga ke lokasi pemukiman penduduk.

Kedua, melakukan digitalisasi sektor-sektor strategis pendidikan, kesehatan, ekonomi, perdagangan, pariwisata dan seterusnya. Ketiga, menyelesaikan juga pembangunan pusat data, secara khusus pusat data pemerintah dalam rangka mendukung electronic government dan kebijakan pengambilan keputusan dengan dasar satu data nasional. Keempat menyelesaikan legislatif primer atau payung payung hukumnya diantaranya menyelesaikan undang-undang perlindungan data pribadi karena basis dan konten utamanya adalah data dan basisnya data pribadi. Juga undang-undang terkait lainnya seperti misalnya merevisi undang-undang yang terkait.

Hal yang paling sulit dari empat tersebut adalah pembangunan infrastruktur. Secara administratif ada 83.218 desa dan kelurahan di Indonesia dan di antaranya 70.670 sudah ada 4G, berarti itu sudah bisa dilakukan proses digitalisasi tetapi masih ada 12.548 yang belum. Daerah ini terdiri dari 9.113 desa di wilayah 3T merupakan daerah tertinggal, terdepan dan terluar di Indonesia. Serta 3.435 desa kelurahan di wilayah komersial atau non 3T.

Untuk wilayah non komersial terdapat operator selular, dimana mereka menunjukkan komitmen yang tinggi untuk menyelesaikan infrastruktur dalam dua tahun kedepan 2021-2022. Karena itu yang perlu dipikirkan bersama adalah bagaimana membangun 9.113 desa dan kelurahan melalui bauran kebijakan pembiayaan.

Melalui Kemenkeu disiapkan dana yang cukup agar Kemenkominfo dengan Bakti membangun seluruh desa dan kelurahan di wilayah 3T pada tahun 2021 dan 2022. Pada tahun 2020 ini sedang membangun 1.209 BTS di desa dan kelurahan untuk keperluan wilayah 3T termasuk misalnya Kabupaten Morotai, Nusa Tenggara Timur, Papua, Papua Barat, Riau, Kepulauan Maluku, Maluku Utara. Road map pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah tanah air menjangkau seluruh desa sudah siap. Sehingga dengan selesainya pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah tanah air yang menjangkau seluruh desa, di saat itulah Indonesia sudah siap untuk digitalisasi nasional.

Perjalanan saya tidak saja di daerah Dolok Sanggul, Siborong-borong, Lintong Ni Huta, namun juga terus ke Tarutung, Tapanuli Utara, hingga ke arah Sibolga melewati Adian Koting dan sampai ke sungai Raisan. Selain gangguan yang terjadi di Dolok Sanggul dan sekitarnya. Internet mengalami gangguan juga di Desa Pagaran Pisang. Sekalipun sesekali ada koneksi dengan Telkomsel namun tidak sanggup untuk kebutuhan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Maka pembelajaran tatap muka diperlukan dan untuk kebutuhan lainnya. Jalan-jalan melalui desa-desa ini sudah bagus, mulus, ini adalah jalur barat ke arah Sibolga. Sepanjang jalan juga terlihat bagaimana penduduk banyak memasang antena parabola. Antenna ini menunjukan kondisi jaringan yang sudah ada namun belum menjangkau desa. Desa Naga Timbul, salah satu desa yang saya kunjungi, adalah desa yang ada di Tapanuli Tengah, di desa ini, karena terletak di ketinggian maka berdiri menara BTS Telkomsel. Sinyal memang kuat, karena dekat BTS, dan membuat daerah sekitarnya bisa menikmati jaringan internet yang kuat. Jelas pentingnya memperbanyak BTS di desa-desa.

Pemerintah berupaya meningkatkan potensi ekonomi desa sebagai penyangga ekonomi kota di tengah pandemi. Untuk itu Presiden Joko Widodo meminta agar semua Kementerian melaksanakan program yang integral dalam peningkatan ekonomi Desa peningkatan ekonomi Desa. Desa disiapkan untuk antisipasi krisis di perkotaan. Presiden meminta semua pejabat negara menjadikan pada Covid 19 sebagai momentum memperbaiki dan menyusun strategi dalam transformasi ekonomi Desa. Presiden menekankan seluruh Kementerian harus harmonis dalam menyusun program pembangunan desa Jangan membuat program sendiri yang lepas-lepas tidak terintegrasi tidak terpadu. Kementerian PUPR penyediaan infrastruktur dasarnya, Kementerian Perhubungan konektivitasnya, Kementerian Sosial mengenai penanganan warga yang terkena dampak pandemic dan Kementerian UMKM untuk sektor usaha.

Kerjasama jadi sinergitas antar kementerian dan lembaga terus kita upayakan agar produktivitas ekonomi di desa meningkat menjadi penyangga utama bagi ekonomi. Desa juga perlu mengembangkan, dan memiliki wisata desa, itu sangat penting dan memang wisata desa hari ini menjadi salah satu ikon untuk ekonomi di desa. Sekaligus memberikan upaya untuk penguatan di bidang kesehatan agar kondisi menegangkan, yang selama ini muncul karena akibat COVID-19 diobatin dengan wisata desa.

Pengusahaan marketing desa membutuhkan akan infrastruktur digital agar saat ini bisa menjual ke seluruh Indonesia dengan tetap menjaga jarak dan kerumunan. Secara administratif sebagian desa dan kelurahan di Indonesia dan di antaranya sudah ada 4G, berarti itu sudah bisa dilakukan proses digitalisasi tetapi masih perlu ditingkatkan seperti yang belum memiliki koneksi kuat sekalipun sudah ada infrastruktur yang terpasang. Daerah ini terdiri dari desa di wilayah 3T merupakan daerah tertinggal, terdepan dan terluar di Indonesia. Serta sebagian desa kelurahan di wilayah komersial, untuk menjadikan seluruh desa merasakan kemajuan ekonomi Indonesia.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.