(Beritadaerah – Nasional) Harga cabai rawit merah yang terus meningkat signifikan di masyarakat, mendapatkan perhatian yang serius dari Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo. Penyebab kenaikan dari harga cabai tersebut karena cuaca ekstrim yang menyebabkan peningkatan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), kerusakan tanaman, dan banjir di beberapa wilayah sentra produksi, sehingga menyebabkan pasokan cabai rawit berkurang.

Sesuai dengan arahan Mentan Syahrul Yasin Limpo, Kementan menjamin ketersediaan komoditas pangan strategis. Kementan akan menggerakkan seluruh jajarannya untuk memonitor kondisi pertanaman cabai di lapangan dan melakukan upaya-upaya untuk meredam gejolak harga agar tidak berkepanjangan, demikian yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto atau akrab dipanggil Anton.

Dijelaskan Anton bahwa berdasarkan data series produksi 5 tahun terakhir, produksi cabai rawit pada bulan Desember-Februari adalah bulan waspada karena produksi cenderung menurun dibanding bulan-bulan lainnya. Dan untuk saat ini dengan adanya cuaca ekstrim (La Nina) semakin menyebabkan produksi terganggu. Seperti bunga rontok menyebabkan gagal berbuah. Proses pemasakan buah menjadi lebih lama karena kurangnya intensitas cahaya matahari.

Saat ini masa produktif tanaman cabai juga menjadi lebih pendek, yang biasanya 12-20 kali petik saat ini hanya 8-12 kali petik karena pematangan buah menambah hari petik yang biasanya 4 hari bisa 7 sampai dengan 8 hari per sekali petik.

“Tak hanya itu, musim hujan juga meningkatkan serangan OPT seperti virus kuning, antraknosa, lalat buah, dan lain sebagainya,” ujar Anton yang dikutip laman Kementan, Minggu (7/3).

Cuaca ekstrim ini juga menyebabkan banjir di beberapa wilayah sentra produksi cabai. Berdasarkan data dari Direktorat Perlindungan Hortikultura, total luas pertanaman cabai nasional yang banjir dan puso pada bulan Oktober sampai Desember 2020 seluas 431 hektar yang tersebar di Jawa Barat, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Sedangkan pada bulan Januari sampai Februari 2021 seluas 404,7 ha yakni di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Jawa Timur dan Nusat Tenggara Timur.

Sementara itu Ketua Asosiasi Cabai Indonesia Hamid membenarkan kondisi tersebut. Pihaknya menjelaskan bahwa berdasarkan pantauan dari seluruh anggota perwakilan di daerah sentra, berkurangnya produksi cabai saat ini juga dikarenakan berkurangnya luas tanam. Petani sempat merugi karena rendahnya harga cabai akibat pandemi COVID-19 yang terjadi pada bulan Maret sampai September 2020. Hal tersebut membuat banyak petani tidak balik modal bahkan merugi.

Ditambahkan oleh Hamid, pada musim tanam saat ini mereka mengurangi populasi pertanaman cabainya. Luas tanamnya berkurang, sehingga produksi juga berkurang. Jadi efek berantai tersebut menjadi akumulasi terhadap penurunan produksi.

Handi Fu/Journalist/BD
Editor: Handi Fu

About The Author

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.