(Beritadaerah – Wisata Nusantara) Indonesia memiliki banyak suku bangsa yang tersebar di seluruh pelosok negeri kita. Pernahkah Anda mendengar tentang suku Sasak, salah satu suku asli yang ada di pulau Lombok, provinsi Nusa Tenggara Barat? Jika Anda ingin mengenal lebih jauh tentang tradisi dan kebiasaan unik yang masih sangat tradisional dari suku Sasak, sangatlah tepat jika Anda berkunjung ke Desa Sade. Saat ini desa Sade sudah menjadi salah satu destinasi wisata di pulau Lombok yang dapat dikunjungi oleh wisatawan baik domestik atau mancanegara. Disini Anda dapat menemui spot-spot foto yang menarik menjadi kenangan yang berkesan dan tak terlupakan.

(Photo: Beritadaerah)

Desa Sade terletak di wilayah Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (sekitar 50 km arah Tenggara Kota Mataram Ibu Kota NTB dan 19 km dari kota Praya Ibu Kota Lombok Tengah).

Desa Sade menjadi satu-satunya desa (dari sekian desa yang didiami suku Sasak) yang masih teguh mempertahankan tradisi dan adat istiadat dalam kehidupan sehari-harinya ditengah-tengah adanya tantangan perubahan zaman di era globalisasi saat ini. Kita dapat melihat bagaimana kebiasaan masyarakat di sana masih menggunakan sarung, alat masak yang masih menggunakan tungku dengan kayu sebagai bahan bakarnya.

Berikut ini beberapa keunikan yang ada di Desa Sade :

(Photo: Beritadaerah)

1. Rumah Tinggal (yang disebut Bale dalam Bahasa suku Sasak) yang memiliki banyak fungsi sehingga dibagi dalam berbagai tipe :
a. Bale Bonter, adalah tempat rumah para pejabat desa, juga berfungsi untuk tempat dilakukan sidang adat.
b. Bale Kodong, merupakan tempat tinggal bagi orang-orang yang sudah lansia maupun bagi yang baru saja menikah namun belum memiliki tempat tinggal.
c. Bale Tani, adalah rumah untuk mereka yang kebanyakan berprofesi sebagai petani.
Bale Tani ini dibagi 2 bagian lagi yaitu Bale Dalam dan Bale Luar. Bale Dalam digunakan untuk anggota keluarga perempuan yang bertugas di dapur, sedangkan Bale Luar untuk anggota keluarga lainnya termasuk juga untuk ruang tamu.

Jika diperhatikan, atap rumah-rumah di desa ini memang sengaja dibuat sedikit rendah yang ternyata berfungsi agar setiap orang masuk harus sedikit menundukkan kepala mereka sekaligus sebagai sikap menghormati pemilik rumah.

(Photo: Beritadaerah)

Dinding rumah dibuat dari anyaman bambu, beratap alang-alang yang dikeringkan, dan lantainya dibuat dari campuran tanah liat dengan sekam padi. Dan uniknya adalah pada lantainya tersebut dilumuri dengan kotoran kerbau/sapi dalam beberapa periode tertentu. Walau demikian, didalam rumah tersebut tidak tercium bau yang mengganggu. Hal ini dilakukan dengan tujuan lantai rumah bersih dari debu-debu, untuk menguatkan lantai, dan dipercaya memiliki fungsi untuk mencegah serangga terutama nyamuk masuk ke dalam rumah.

Jika Anda berada di dalam rumah tersebut pada siang hari, udara akan terasa sejuk dan saat malam hari akan terasa hangat. Yang tidak kalah pentingnya juga adalah rumah jenis ini termasuk jenis rumah yang tahan gempa. Hal ini terbukti pada saat beberapa waktu yang lalu terjadi gempa di desa ini, pada kenyataannya rumah mereka masih berdiri tegak paska terjadinya gempa.

2. Tradisi unik
Pernikahan di Desa Sade masih dilakukan dalam satu rumpun (misalnya dengan sepupu mereka sendiri) karena mereka ingin mempertahankan keaslian suku mereka. Di Desa ini ada pohon kering tidak berdaun yang menjadi spot foto favorit bagi wisatawan. Pohon tersebut dinamakan masyarakat disana sebagai pohon cinta, karena menjadi tempat bertemunya muda mudi masyarakat di Desa Sade.

(Photo: Beritadaerah)

3. Kain tenun
Dengan mata pencaharian utama adalah bertani (menanam padi, kacang kedelai) yang hanya dapat dipanen setahun sekali karena bergantung pada curah hujan. Untuk menambah penghasilan, maka para perempuan di desa Sade yang memiliki keahlian menenun kain, membuat kerajinan yang dapat dijual sebagai souvenir atau asesoris  ke para wisatawan yang berkunjung ke desa mereka. Perempuan di Desa Sade memiliki keahlian ini karena mereka memang diharuskan bisa menenun sehingga hampir semua perempuan di desa ini memiliki pekerjaan sebagai penenun. Anda dapat dengan mudah menemui banyaknya para penenun kain yang bekerja di depan rumah mereka. Karena membeli dari tangan pertama, bisa dikatakan harga yang ditawarkan cukup murah/terjangkau. Dengan membeli hasil karya mereka, kita juga turut mempromosikan kekayaan budaya bangsa kita sekaligus membantu meningkatkan taraf hidup saudara-saudara kita di desa Sade ini.

Susan Kevin/Journalist/BD
Editor: Endah Caratri

About The Author

Endah Caratri is a Senior Editor Vibiz Media Network, Partner of Management & Technology Services Vibiz Consulting.

Related Posts

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.