Dalam sebuah proses investasi maka financial model merupakan pertimbangan utama untuk melakukan sebuah keputusan investasi. Semua investasi memang tujuan utamanya adalah mendapatkan keuntungan yang maksimal dengan resiko yang minimal. Keahlian untuk menyusun model keuangan ini adalah keahlian bagaimana mengubahkan sebuah bisnis yang rumit menjadi sederhana, terukur dan menyeluruh yang dibuat menjadi fleksibel yang bisa berubah karena perubahan variable-variabel ekonomi dan bisnis. Tentu dalam menyusunnya melibatkan beberapa data pokok, seperti bisnis modelnya, bagaimana struktur capital budgeting, pertimbangan bentuk pembiayaan apakah dalam bentuk hutang (debt financing) atau pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal (equity financing). Hasil sebuah financial model dituangankan dalam projected cash flow dan ukuran utama ada pada indikator untuk keputusan investasi seperti net present value (NPV), internal rate of return (IRR), payback period.

Model Bisnis Hydropower

Hydropower memiliki model bisnis yang sederhana. Bagi perusahaan pembangkit, mereka menggerakkan generator melalui kekuatan sungai dan menghasilkan listrik. Listrik inilah yang dijual kepada pemerintah melalui perusahaan listrik negara (PLN). Hydropower adalah pembangkit listrik rendah karbon yang ramah lingkungan sehingga didukung negara maju yang mendukung green economy.

Sebagai negara yang berada di wilayah khatulistiwa, Indonesia memiliki curah hujan yang sangat tinggi setiap tahunnya sehingga memiliki sumber air yang cukup besar baik itu run off river – PLTM dan PLTMH, ataupun bendungan – PLTA. Indonesia memiliki jumlah daerah aliran sungai (DAS) sebanyak 458. Saat musim hujan – yang rata-rata turun pada bulan November hingga Maret – memberikan manfaat tersendiri dalam pengembangan energi terbarukan bersumber dari air.

Baca juga di : PLTMH Jawaban Masa Depan Daerah

Potensi energi air yang dapat dimanfaatkan Indonesia sangatlah besar totalnya sungai Indonesia mampu menghasilkan energi listrik hingga 94.476 MW. Jumlah itu bisa dibandingkan kalau untuk rumah saja, 94.476 MW itu sama dengan 94.476.000.000 watt. Kalau satu rumah misalnya 900 VA, atau 1.000 VA berarti 94.476.000 rumah, kira-kira atau 95 juta rumah.

Dari total 94.476 MW potensi energi air di Indonesia, baru sebesar 6.256 MW (data pusdatin ESDM) yang telah dimanfaatkan dan sebesar 88.200 MW belum termanfaatkan. Kendala yang dihadapi karena terbatasnya ketersediaan data potensi dan informasi energi air yang siap diimplementasi. Kemampuan industri dalam negeri di bidang energi air masih terbatas. Terbatasnya penelitian dan pengkajian terkait dengan pengembangan energi berbasis air terutama dalam menghadapi permasalahan yang terkait dengan kondisi hidrologi serta dampak perubahan iklim. Terbatasnya jumlah dan kompetensi SDM dalam bidang energi air. Terbatasnya kehandalan sistem jaringan PLN. Potensi demand dan potensi pasokan seringkali tidak match, karena pada umumya lokasi demand jauh dari lokasi sumber energi terbarukan. Kurangnya optimalnya dukungan pembiayaan dalam negeri terhadap pengembangan energi air. Terbatasnya akses publik terhadap data kebutuhan listrik di setiap wilayah oleh PT PLN.

Indikator financial model hydropower

Saat menentukan sebuah financial model hydropower yang sangat diperlukan adalah asumsi yang menyertai penyusunannya. Tidak berbeda dengan industri yang lain maka hydropower juga memulai financial model dengan capital budgeting. Pengeluaran yang masuk dalam kategori ini adalah pembebasan lahan, pengurusan ijin, pembelian mesin, dan pembangunan sarana fisik. Pekerjaan persiapan proyek, pembuatan intake, head pond, pembuatan jalan, power house dan mechanical electric termasuk di dalamnya.

Capital budgeting disiapkan untuk menghitung jumlah investasi yang dibutuhkan. Penawaran penyertaan modal, dan skema investasi yang ditawarkan kepada investor juga diperlukan. Malahan hal inilah yang paling penting bagi investor dan sangat dipengaruhi oleh besarnya return yang diharapkan oleh investor.

Asumsi untuk menetapkan pendapatan dalam hydropower dipengaruhi oleh besarnya tariff yang ditentukan dalam purchasing power agreement (PPA). Dipengaruhi juga oleh kapasitas dari listrik yang dihasilkan dalam mega watt. Perkalian antara capacity dan tariff akan menghasilkan pendapatan kotor namun PLN membatasi bahwa penggunaan kapasitas dalam hydropower adalah 65 persen dengan Average transmission loss rate sebesar 6 persen. Pendapatan ini akan dikalikan jumlah hari dan jumlah jam untuk menghitung berapa jumlah pendapatan bersih.

Setelah selesai menghitung pendapatan maka selanjutnya dilakukan penghitungan untuk perkiraan biaya yang diperlukan untuk selama pegoperasian hydropower. Operation and maintenance adalah biaya overhead yang diperlukan selama pegoperasian, umumnya biaya ini sebesar 2 persen dari investasi yang dikeluarkan. Asumsi tentang inflasi, depresiasi, bunga pinjaman bank, pajak, pajak dari bunga dan juga untuk memperkuat kondisi investor dilakukan hedging.

Semua asumsi-asumsi ini akan dituangkan dalam perhitungan profit and loss, cash flow, hingga analisanya. Profit and loss memperhitungan depresiasi dan perhitungannya dilakukan secara tahunan. Cash flow dilakukan penghitungan dengan menggunakan berapa secara tunai uang yang masuk, dan uang yang keluar. Di dalamnya termasuk pemasukan dari penjualan listrik kepada PLN. Pengeluaran adalah biaya-biaya yang dikeluarkan, termasuk pembayaran cicilan hutang, pembayaran bunga yang mempertimbangkan inflasi ke dalam perhitungan.

Untuk kepentingan investor diperlukan beberapa analisa bagi mereka, dengan beberapa indikator yang menentukan. Investment, Profit After Tax, Depreciation, Interest Paid, Hedging, Cash Flow, Discount Cash Flow, NPV dan IRR Project. Kesemua indikator merupakan pertimbangan awal bagi investor. Indikator selanjutnya yang masih menjadi acuan investor adalah dividend payout, berapa persen perusahaan dan berapa persen Investor.

Indikator yang paling penting bagi investor adalah IRR Investor sendiri, dimana penghitungan dilakukan terhadap seluruh cash surplus yang diterima investor termasuk untuk pembayaran hutang dan bunganya jika menggunakan skenario debt financing.

Secara keseluruhan proses evaluasi pada model ini membutuhkan penyamaan persepsi dengan founder dari perusahaan hydropower yang juga memiliki kepentingan tersendiri. Dalam proses ini pertimbangan yang timbul terdiri dari berbagai hal. Pertimbangan keuangan masih perlu diuji dengan pertimbangan kecocokan dengan investor. Latar belakang investor, bagaimana hubungannya dengan perusahaan secara pribadi akan memperkuat investasi. Bila kedekatan dengan founder bisa terjadi maka akan membangun kepercayaan yang menciptakan kerjasama yang erat. Pertimbangan selanjutnya adalah bagaimana legalitas daripada proyek hydropower, seringkali proses ini menjadi bagian penguat bila resiko dalam hal legalitas sangatlah kecil. Status perusahaan sangat menentukan, umumnya perusahaan yang sudah go public mendapatkan kepercayaan lebih tinggi dari sisi legalitas. Model produksi dari hydropower  akan menjadi evaluasi selanjutnya saat model yang lain sudah dilalui. Disini partner untuk engineering, procurement, construction, commisioning (EPCC) menjadi pembahasan utama untuk menentukan keputusan investasi.

Evaluasi yang dilakukan oleh investor berkaitan dengan resiko yang mungkin timbul dari berbagai aspek tersebut. Resiko keuangan, resiko hukum, resiko pembangunan dan masih perlu dicatat bagaimana penerimaan masyarakat di lokasi pembangunan yang perlu diperhitungkan. Khususnya karena hydropower berhubungan dengan lingkungan hidup. Hydropower dipandang tidak merusak lingkungan, seharusnya resiko dalam hal ini tidak akan menghalangi pelaksanan proyek investasi ini.

About The Author

Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.