(Beritadaerah – Kolom) Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) mengeluarkan data jumlah UMKM di Indonesia pada tahun 2018, adalah sekitar 64.194.057, dengan daya serap sebanyak 116.978.631 total angkatan kerja. Angka ini setara dengan 99% total unit usaha yang ada di Indonesia, dengan prosentase serapan tenaga kerja di sektor ekonomi setara dengan 97%. Selebihnya yang 3 persen dibagi-bagi pada sektor industri besar.

Dengan posisi seperti ini maka kontribusi UMKM terhadap sector ekonomi, dalam artian PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia adalah sebesar 61.07%. Sementara jika dibandingkan dengan negara-negara anggota G-20 industri kecil-menengah memberikan kontribusi di bawah 25% dari total GDP.

Jumlah Unit Usaha dan Peranan UMKM 2018

Dampak Pandemi Covid-19 Bagi UMKM

Tidak seorangpun menduga akan datangnya virus Corona yang mengubah tatanan seluruh dunia dan tidak satu negarapun yang siap menghadapinya, karena kondisi pandemi seperti yang kita hadapi saat ini memang belum pernah terjadi.

Dari penelitian terhadap sampel UMKM yang terdata di Kemenkop UKM, dilaporkan bahwa 56% UMKM mengaku mengalami penurunan pada hasil omzet penjualan akibat pandemi Covid-19, 22% lainnya mengalami kesulitan dalam mendapatkan pembiayaan/kredit, 15% mengalami permasalahan dalam distribusi barang, dan 4% sisanya melaporkan kesulitan mendapatkan bahan baku mentah.

Dari seluruh UMKM yang terdata dalam riset ini, komposisi UMKM yang bergerak dalam industri mikro menempati angka 87.4%. Itulah sebabnya dampak awal pandemi Covid-19 pada sektor UMKM terdeteksi terbanyak di level UMKM mikro ini.

Berbicara mengenai sektor UMKM yang terpengaruh oleh pandemi Covid-19, BI melaporkan bahwa UMKM eksportir merupakan yang paling banyak terpengaruh, yaitu sekitar 95,4% dari total eksportir. UMKM yang bergerak dalam sektor kerajinan dan pendukung pariwisata terpengaruh sebesar 89,9%. Sementara sektor yang paling kecil terimbas pandemi Covid-19 adalah sektor pertanian, yakni sebesar 41,5%.

Penelitian yang dilakukan oleh Mandiri Institute tentang UMKM terdampak pandemi Covid-19 pada Mei 2020, maka pada Agustus 2020 sebagian besar masih beroperasi secara terbatas (66%), sebagian beroperasi normal (28%) dan sebagian kecil stop operasioanl (6%). Berikut tabelnya:

Riset: Program Pemulihan Ekonomi Nasional Dukung UMKM

Untuk menangani dampak pandemi Presiden Joko Widodo (Jokowi) membentuk Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), dengan program kerja yang mencakup penanganan di sektor kesehatan dan ekonomi akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Presiden meminta agar pencipataan lapangan kerja dan peningkatan konsumsi rumah tangga melalui pengembangan UMKM mendapatkan perhatian khusus dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

“Saya minta agar yang berkaitan dengan lapangan kerja itu menjadi perhatian, berikan perhatian khusus untuk hal-hal yang berkaitan dengan pembukaan lapangan kerja,” kata Jokowi saat membuka Ratas Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, di Jakarta, Senin (23/11/2020).

Dalam upaya percepatan pemulihan ekonomi, Presiden Jokowi juga menyatakan bahwa yang paling dibutuhkan dalam waktu dekat ini ialah meningkatkan konsumsi rumah tangga dengan mendorong sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk mulai bergerak.

Lima Langkah Akselerasi Pemulihan Ekonomi Nasional mencakup:

  1. Patuhi Protokol Covid-19
  2. Sinergi Kebijakan Fiskal Moneter dan Sektor Riil
  3. Pembukaan Secara Bertahap Sektor Produktif Termasuk Pariwisata.
  4. Mengoptimalkan Restrukturisasi Kredit Perbankan dan Dunia Usaha
  5. Digitalisasi UMKM dan Sukseskan Gerakan Bangga Buatan Indonesia

Studi yang dilakukan oleh Mandiri Institute terhadap pemahaman dan manfaat PEN bagi pelaku usaha UMKM menunjukkan bahwa mayoritas mengetahui adanya program PEN (79%) dan merasa program ini sangat membantu (46%) dan cukup membantu (37%) dan ada juga 17% yang menyatakan belum membantu.

Riset: Penetrasi Internet Berpotensi Mengubah Tatanan Ekonomi Daerah

Teknologi memudahkan aktivitas masyarakat dalam menjalani hidup, termasuk untuk berdagang/ berbisnis. Data Bank Mandiri mencatat, saat ini 43,5% atau 116,3 juta dari total masyarakat Indonesia telah memakai internet, dan sebanyak 29,8% atau 78 juta masyarakat Indonesia telah memanfaatkan internet untuk e-commerce.

Meluasnya penetrasi internet ini berpotensi mengubah tatanan perekonomian daerah, juga menunjukkan bahwa e-Commerce menjadi salah satu pendorong perubahan perekonomian daerah.

 

Strategi UMKM 2021, Tantangan dan Peluang Menuju Digitalisasi 4.0

Kondisi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di tengah pandemi Covid-19 membutuhkan peran pemerintah untuk bertahan hidup. Untuk selamat dari pandemi, UMKM dalam negeri dituntut cepat beradaptasi agar usaha terus berjalan.

Dalam hal ini Kemenkop telah menyiapkan dua skema yang juga sejalan dengan program Satuan Tugas Pemulihan Ekonomi Nasional (Satgas PEN).

  1. Memperkuat UMKM yang sudah bankable atau terintegrasi dalam sistem perbankan, skemanya seperti restrukturisasi pinjaman, insentif pajak, mempermudah akses pembiayaan dan modal kerja baru, termasuk pembiayaan koperasi.
  2. Memperkuat UMKM yang unbankable atau belum terintegrasi dalam sistem perbankan yang disokong melalui bansos dan banpres. Disini diperlukan bekal bagi usaha mikro untuk bisa bertransformasi masuk ke skema yang bankable.

Era pandemi yang ‘memaksa’ semua orang untuk lebih banyak tinggal di rumah, mengharuskan pelaku usaha menyikapi pola berbelanja yang makin dipercepat menuju digitalisasi.

Memasuki 2021 maka para pelaku usaha UMKM perlu pendampingan untuk segera menyesuaikan usahanya dengan yang serba digital termasuk proses pembayaran. Menurut data Bank Indonesia hingga saat ini baru 13% UMKM yang berbasis digital.

Strategi berikutnya adalah memanfaatkan bonus demografi khususnya kaum milenial yang relative lebih cepat mengadopsi hal-hal yang bersifat digital dan menyukai usaha entrepreneur, untuk bergabung dalam kelompok pelaku usaha UMKM.

Data demografi Indonesia saat ini dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia 2018 sebanyak 265 juta jiwa maka sekitar 60% nya adalah Gen Y yang berusia 22-35 tahun. Penetrasi mereka terhadap mobile subscription, sebagai internet users dan active media social users sangat tinggi.

Kaum milenial Indonesia ini dari yang menurut beberapa hasil penelitian, salah satunya Indonesia Millenial Report 2019 menunjukkan mereka lebih memilih menjadi pengusaha (69,1%) katimbang bekerja di perusahaan.

Memang ada tantangan untuk menuju UMKM go digital antara lain pola usaha dan cara berpikir yang masih tradisional; juga keterbatasan pengetahuan dan akses teknologi; serta beberapa kendala akses pembiayaan. Namun di depan ada peluang yakni dukungan luas dari platform digital; juga perilaku konsumen Indonesia yang berubah makin kea rah digital, serta ketersediaan system pembayaran digital yang makin canggih dan handal.

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.