(Beritadaerah – Kolom) Pandemi Covid-19 sekarang ini masih belum berakhir di Indonesia. Jumlah pasien yang dinyatakan sudah sembuh dan diijinkan pulang terus bertambah dan semakin banyak.  Rabu, 16 December 2020, angka total yang sembuh sebanyak 521.984 menunjukkan bahwa persentase jumlah kasus sembuh cukup tinggi dan makin meningkat,  yaitu  sejumlah 82,05% jika dibandingkan kasus positif akumulatif sejumlah 636.154.

Menghadapi kondisi ini para pelaku bisnis tidak boleh berhenti berinovasi. Pengusaha di bidang pariwisata juga melakukan hal yang sama, penting saat ini menjadi perusahaan yang memiliki agile business model, dimana business model yang berubah setiap saat mengikuti platform penting Cleanliness, Healthiness, Safety, Environment (CHSE). Pariwisata terhubung dengan customer confidence level  inovasi perlu terus fokus pada CHSE.

Kehidupan sehari-hari masyarakat telah berubah drastis di tengah pandemi Covid-19 global, Hasil survei terhadap wanita Jepang oleh perusahaan kosmetik Kao menunjukkan bahwa hampir semua orang melakukan tindakan untuk menghindari penularan atau penyebaran virus. Tindakan yang paling umum dilakukan adalah mencuci tangan secara teratur, yang telah dilakukan 94% responden, diikuti dengan memakai masker (84%), berkumur (77%), dan menggunakan hand sanitizer atau disinfektan (70%).

Dibandingkan dengan hasil survei serupa yang dilakukan pada tahun 2018 terkait tindakan pencegahan influenza, survei terbaru ini menemukan peningkatan penggunaan hand sanitizer atau disinfektan sebesar 44%, serta peningkatan persentase yang signifikan pada mereka yang memakai masker. menghindari keramaian, dan sirkulasi udara di kamar. Hasil ini menunjukkan bagaimana perilaku masyarakat berubah sebagai respons terhadap penyebaran Covid-19.

 

Begitu tingginya tingkat perhatian konsumen pada CHSE maka banyak orang memilih berlibur tidak banyak bersentuhan dengan orang lain. Staycation adalah bentuk berlibur dalam hotel saja, yang sekarang ini menjadi pilihan terbaik. Tawaran virtual tour sekarang ini sudah bermunculan dengan teknologi virtual atau augmented reality. Inovasi perlu dikembangkan karena kekuatan bisnis pariwisata adalah see and feel, inilah yang tidak ditemukan pada virtual tourism.

Contactless tourism business sekarang ini adalah pelayanan yang terbaik kepada pelanggan, dimulai dari merencanakan liburan, pemesanan tiket, pemilihan hotel, hingga semua kelengkapan wisata harus diciptakan mengadopsi teknologi touch less, dalam satu applikasi.

Riset : Pariwisata Domestik Rebound Lebih Cepat

Mckinsey melakukan riset bahwa, pariwisata domestik akan kembali ke tingkat sebelum pandemi sekitar satu hingga dua tahun lebih awal daripada perjalanan ke luar negeri. Berbagai faktor mendorong hal ini: lebih sedikit pembatasan untuk perjalanan di dalam negara sendiri, lebih banyak pilihan substitusi untuk perjalanan berbasis non-udara (seperti mobil dan kereta api), customer confidence level  yang lebih besar untuk melakukan perjalanan bisnis. Selain itu, perjalanan domestik diharapkan pulih lebih cepat daripada hotel karena kita melihat adanya substitusi perjalanan dengan teman serta keluarga.

 

Strategi Pariwisata Indonesia 2021

Saat dunia perlahan dibuka kembali, Indonesia akan bersaing dengan destinasi lain di seluruh dunia, untuk menarik perhatian lebih sedikit wisatawan. Pada pertengahan April, pemerintah memperkirakan bahwa Indonesia akan kehilangan lebih dari USD 10 miliar pendapatan pariwisata pada tahun 2020.

Langkah pertama untuk mengurangi penurunan tersebut adalah dengan mengembangkan pariwisata domestik untuk mengkompensasi sebagian dari hilangnya pendapatan internasional. Untuk memanfaatkannya, Indonesia dapat mulai memasarkan tempat wisata yang kurang terkenal kepada khalayak domestik, setelah aman untuk bepergian. Inisiatif semacam itu dapat mendorong orang Indonesia untuk melakukan perjalanan singkat di dalam negeri. Dan menemukan dan menjelajahi situs-situs semacam itu untuk menghilangkan kelelahan akibat lockdown.

Indonesia juga dapat menggunakan transit perjalanan internasional untuk meningkatkan jumlah wisatawan. Perlu dibangun infrastruktur pariwisata, seperti bandara, dan standar  perhotelan. Indonesia perlu memanfaatkan kondisi ini untuk meraih 73,6 juta turis asing setiap tahun pada tahun 2045, naik dari 15,8 juta dari tahun 2018.

Persoalan sampah, khususnya sampah plastik, terkait dengan pertumbuhan pariwisata di Indonesia mengancam daya tarik Indonesia bagi wisatawan mancanegara. Bali, yang mengalami peningkatan pariwisata enam kali lipat antara tahun 1996 dan 2018, dengan turis domestik dan asing yang menghasilkan limbah 34 kali lebih banyak daripada sampah penduduk – menurut perkiraan National Geographic. Inisiatif untuk membersihkan sampah dan meningkatkan daur ulang yang telah dimulai sebelum pandemi dapat dipercepat, untuk memberikan pengalaman yang lebih baik bagi para wisatawan asing begitu lalu lintas perjalanan meningkat kembali.

About The Author

Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.