(Beritadaerah – Natuna) Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai badan usaha milik negara (BUMN) yang mengurusi semua aspek kelistrikan yang ada di Indonesia, senantiasa menghadirkan listrik hingga ke seluruh negeri. Pembangunan listrik ke daerah 3T (Terdepan, Tertinggal dan Terluar) terus diupayakan demi mewujudkan energi berkeadilan hingga pelosok nusantara.

Sejak September 2020 lalu, masyarakat di Kecamatan Pulau Tiga Barat, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau telah menikmati listrik PLN selama 24 jam dalam sehari. Sebelumnya, masyarakat di Kecamatan Pulau Tiga Barat hanya menikmati listrik selama 14 jam.

Peningkatan jam nyala listrik ini dari semula 14 jam menjadi 24 jam adalah bukti nyata dalam mewujudkan program “Natuna Terang Kepulauan Riau Terang”, demikian yang disampaikan oleh General Manager PLN Unit Induk Wilayah Riau dan Kepulauan Riau (UIW RKR), Dispriansyah.

“Semoga dengan hadirnya listrik dapat meningkatkan roda perekonomian seperti UMKM, kerajinan, kios, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat,” jelas Dispriansyah yang dikutip laman BUMN, Kamis (26/11).

Ditambahkan oleh  Dipriansyah, bahwa dalam 5 (lima) tahun terakhir, Rasio Elektrifikasi (RE) di Provinsi Kepulauan Riau meningkat sebanyak 24,75 %. Dari sebelumnya 73,53%, tahun ini sudah mencapai 98,28 %. Meskipun topografi Kepulauan Riau didominasi oleh kepulauan dan permukiman warga yang tersebar, hal tersebut tidak menyurutkan semangat dan komitmen PLN untuk terus berjuang bagi segenap masyarakat agar energi listrik dapat dimanfaatkan secara merata.

Sementara itu Camat Pulau Tiga Barat Idris menyampaikan nyala listrik yang menjadi 24 jam di 4 (empat) Desa kami berdampak pada meningkatnya perekonomian warga sebesar 2,5%. Disamping itu kehadiran listrik 24 jam memberikan dampak peningkatkan produktivitas dan meningkatnya perekonomian masyarakat.

Salah satu warga dari Kecamatan Pulau Tiga Barat yang merasakan dampak positif dari peningkatan pelayanan listrik PLN yakni Bahrum mengatakan, sekarang kami dapat menggunakan listrik di siang hari, dimana pekerjaan kita ini semuanya memerlukan listrik. Sebelum nyala 24 jam, siang hari warga hanya menggunakan genset dengan banyak risiko, misalnya biaya minyak solarnya yang mahal, ketersediaan solar dan gangguan mesin yang sering rusak. 

Handi Fu/Journalist/BD
Editor: Handi Fu

About The Author

Fu Handi is a Partner of Management and Technology Services at Vibiz Consulting and Editor of beritadaerah.co.id. He is also working as trainer and consultant at LEPMIDA (Regional Investment and Management Development Institute).

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.