(Beritadaerah – Ekonomi Bisnis) Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan penjelasan kepada pers (23/11/2020) bahwa realisasi penerimaan pajak hingga akhir Oktober 2020 senilai Rp826,9 triliun atau 69,0 persen terhadap target APBN 2020 yang sudah diubah sesuai Perpres 72/2020 senilai Rp1.198,8 triliun.

Sebagai perbandingan, realisasi penerimaan pajak selama 10 bulan pertama pada 2019 tercatat senilai Rp1.1018,4 triliun atau 64,6% terhadap target. Performa tersebut sekaligus tercatat mengalami pertumbuhan 0,2 persen.

Sementara itu, realisasi penerimaan bea dan cukai hingga 31 Oktober 2020 tercatat senilai Rp164,0 triliun atau 79.7 persen dari target Rp205,7 triliun. Realisasi ini mencatatkan pertumbuhan 5,5 persen dibandingkan dengan realisasi periode sama tahun lalu yang senilai Rp155,4 triliun.

Sri Mulyani menyebutkan bahwa kontraksi penerimaan hingga akhir Oktober 2020 tersebut tercatat lebih dalam dibandingkan dengan akhir bulan sebelumnya yang sebesar 16,9 persen, sebagai dampak perlemahan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

“Penerimaan pajak terkontraksi 18,8 persen,” katanya dalam konferensi pers APBN Kita, Senin (23/11/2020).

Dengan demikian, realisasi penerimaan perpajakan hingga Oktober 2020 tercatat senilai Rp991,0 triliun atau 70,6 persen dari target Rp1.404,5 triliun. Performa itu mencatatkan kontraksi 15,6 persen dibandingkan realisasi hingga akhir Oktober 2019 senilai Rp1.173,9 triliun.

Secara umum, realisasi pendapatan negara tercatat senilai Rp1.276,9 triliun atau terkontraksi 15,4% persen dibandingkan capaian periode yang sama tahun lalu Rp1.508,5 triliun. Realisasi pendapatan negara itu setara dengan 75,1 persen dari target senilai Rp1.699,9 triliun.

Sedangkan untuk belanja negara hingga akhir Oktober 2020 tercatat senilai Rp2.041,8 triliun atau 74,5 persen dari pagu Rp2.739,2 triliun. Realisasi belanja negara itu tumbuh 13,6 persen dibandingkan penyerapan hingga akhir Oktober tahun lalu yang senilai Rp1.797,7 triliun.

Performa pendapatan negara dan belanja negara seperti itu menghasilkan defisit APBN hingga Oktober 2020 mencapai Rp764,9 triliun atau 73,6 persen dari patokan dalam APBN 2020 senilai Rp1.039,2 triliun. Realisasi defisit anggaran itu setara dengan 4,67 persen PDB.

Sri Mulyani menjelaskan, dalam konteks G20, Indonesia countercyclical-nya atau fiscal support untuk ekonomi yang kontraksi masih termasuk modest, tidak seperti negara lain yang defisitnya hingga belasan persen.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.