(Beritadaerah – Kolom) Mungkin tidak terpikir oleh kita, bahwa setiap lampu yang menyala di rumah atau di tempat kerja kita berdampak pada perubahan iklim di dunia. Perubahan iklim seperti curah hujan tinggi, suhu yang meningkat,  bisa menyebabkan gagal panen, kerusakan terumbu karang, banjir, dan bencana alam lainnya. Listrik yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan dunia usaha masih seluruhnya belum menggunakan energi bersih (clean energy) atau renewable energy. Indonesia baru memproduksi 7,9 GW pada Juni 2020. Dalam 5 tahun ke depan Indonesia menargetkan total energi bersih yang dihasilkan sebesar 19,9 GW atau 23% dari bauran energi. Indonesia masih membutuhkan 12 GW lagi untuk mencapainya.

Transisi energi bersih menjadi mimpi dunia untuk segera dilakukan sebagai usaha mengatasi krisis yang terjadi di bumi. Transisi ini tidak bisa dilakukan hanya satu negara, namun dilakukan bersama-sama. Di bawah Perjanjian Paris, dunia membutuhkan transisi ini 4-6 kali lebih cepat saat ini. Secara global Carbon Tracker melakukan kalkulasi satu hari dunia harus menutup satu PLTU hingga 2040 untuk menghentikan penggunaan energi yang berbasis pada batubara ini.

Potensi Energi Terbarukan Indonesia

Sumber : Ditjen EBTKE, 2018

Total  potensi Indonesia untuk energi  terbarukan  ekuivalen  442  GW  digunakan  untuk  pembangkit  listrik, sedangkan BBN dan Biogas sebesar 200 ribu Bph digunakan untuk keperluan bahan  bakar  pada  sektor  transportasi,  rumah  tangga,  komersial  dan  industri.  Pemanfaatan EBT untuk pembangkit listrik tahun 2018 sebesar 8,8 GW atau 14% dari total kapasitas pembangkit listrik (fosil dan non fosil) yaitu sebesar 64,5 GW.

Minimnya  pemanfaatan  EBT  untuk  ketenagalistrikan  disebabkan  masih  relatif  tingginya harga produksi pembangkit berbasis EBT, sehingga sulit bersaing dengan pembangkit  fosil  terutama  batubara.  Selain  itu,  kurangnya  dukungan  industri  dalam negeri terkait komponen pembangkit energi terbarukan serta masih sulitnya mendapatkan pendanaan berbunga rendah, juga menjadi penyebab terhambatnya pengembangan energi terbarukan.

Dengan potensi yang sangat besar, Indonesia mampu menghasilkan 7 kali lipat lebih banyak dari total energi yang dihasilkan saat ini. Posisi ini akan memampukan Indonesia untuk menjadi negara super power energi terbarukan ini. Target Indonesia yang tinggi untuk tahun 2025 adalah mimpi untuk membawa transisi energi bersih. Strategi ini akan menguntungkan Indonesia dan juga dunia. Biaya untuk menghasilkan energi terbarukan sekarang ini semakin turun, dan penemuan teknologi terbarukan oleh anak bangsa juga sudah semakin banyak. Hal ini akan membuat daya saing Indonesia semakin meningkat sebab harga energi lebih murah dan menarik pebisnis untuk berinvestasi. Malahan ke depannya energi terbarukan mampu memiliki harga lebih rendah dari PLTU.

Sekarang ini di seluruh dunia terjadi pergeseran pasar dan peraturan energi karena negara-negara ingin mengambil keuntungan murahnya energi terbarukan dan tidak merusak lingkungan dibandingkan energi fosil. Tantangan yang dihadapi Indonesia adalah tidak mudahnya mendapatkan pendanaan, kebanyakan perbankan Indonesia belum berpengalaman dalam hal ini dan cenderung konservatif. Dukungan teknis untuk melakukannya masih sangat diperlukan, cost of capital juga terbilang masih tinggi. Apalagi dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini, memberikan hambatan dalam pengerjaan energi terbarukan.

Kebutuhan Investasi Indonesia Untuk Energi Baru Terbarukan

Sumber: RUPTL 2020, IRENA 2018

Indonesia menyadari bahwa yang diperlukan untuk melakukan transisi energi bersih ini adalah investasi. Investasi yang tidak sedikit, hingga miliaran dollar Amerika. Itulah sebabnya diperlukan reformasi mendasar untuk regulasi penanaman modal dan energi terbarukan di Indonesia untuk memberikan kepastian bagi investor dan pelaku usaha untuk menjamin sektor energi terbarukan akan terus dikembangkan.

EASE OF DOING BUSINESS 2020

Sumber : World Bank

Kalau melihat dari indikator bagaimana kenyamanan berbisnis di Indonesia, maka terlihat Indonesia masih tertinggal dari negara-negara tetangganya. Transisi energi bersih memerlukan juga peningkatan daya saing Indonesia. Dengan teknik Omnibus Law, sekitar 80 Undang-Undang dan lebih dari 1.200 pasal bisa direvisi sekaligus hanya dengan satu UU Cipta Kerja yang mengatur multisektor. UU cipta kerja memiliki 11 klaster yaitu: penyederhanaan perizinan, persyaratan investasi, ketenagakerjaan, pengadaan lahan, kemudahan berusaha, dukungan riset dan inovasi, administrasi pemerintahan, pengenaan sanksi, – kemudahan, pemberdayaan, dan perlindungan umkm- investasi dan proyek pemerintah, kawasan ekonomi.

UU Cipta Kerja bermanfaat untuk memperbaiki iklim investasi dan mewujudkan kepastian hukum. Menaikkan kemudahan berusaha dari peringkat 73 tahun 2020 ke posisi 53 dunia. Menghilangkan kebijakan horizontal & vertikal saling berbenturan. Menghilangkan fenomena hyper regulation (regulasi berlebihan), kebijakan yang tidak efisien, UU yang bersifat sektoral, sering tidak sinkron & tidak ada kepastian hukum, indeks regulasi Indonesia masih rendah. Banyak pasal dalam UU Cipta Kerja yang mendukung peningkatan daya saing Indonesia dalam energi terbarukan. Perubahan UU 30 Tahun 2009 pada UU Cipta Kerja diatur pada Kluster Peningkatan Ekosistem Investasi pada sektor ESDM. Perubahan UU 30 tahun 2009 pada UU Cipta Kerja diatur pada Pasal 42, Halaman 201 – 220 dan Penjelasan Perubahan Pada Halaman 685 – 691. UU 30 Tahun 2009 Tetap Berlaku kecuali yang mengalami perubahan. Sebagai tindak lanjut berlakunya UU Cipta Kerja, diamanatkan penyusunan 1 PP tentang pelaksanaan UU Cipta Kerja pada Sektor ESDM. PP tersebut wajib ditetapkan paling lama 3 bulan sejak diundangkan.

Indonesia juga memerlukan kerjasama dengan negara-negara maju baik dalam hal teknologi maupun permodalan. Berbagai negara sudah melakukan kerjasama bilateral dengan Indonesia dalam hal ini. Jepang, Inggris, Belanda dan lainnya telah memiliki komitment untuk melakukan terobosan bagi segala tantangan yang dihadapi. Komitment ini mereka lakukan karena menyadari bahwa transisi clean energy memberikan pertolongan bagi umat manusia dan kondisi planet bumi yang memerlukan perubahan cara hidup manusia khususnya dalam energi dengan menggunakan energi bersih yang ramah lingkungan.