(Beritadaerah – Kolom) Meluasnya pandemi Covid-19 saat ini, sudah barang tentu menghambat aktivitas ekonomi masyarakat sehingga berdampak menurunnya pertumbuhan ekonomi.  Terdapat sekitar 72,6% UMKM yang mengalami penurunan kinerja, perlu ada pengeluaran modal dan sebagainya. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Teten Masduki menyampaikan bahwa Penyaluran Bantuan Presiden (Banpres) Produktif untuk UMKM sudah tersalurkan 100 persen pada Oktober 2020 ini, dengan penerima 9 juta orang dan masih belum mencukupi karena jumlahnya sekitar 20 juta orang. Pemerintah akan memberikan bantuan modal tambahan kepada 3 juta orang lagi sebagai bantuan untuk UMKM bisa kembali berusaha mengingat modal mereka yang tergerus untuk pemakaian konsumsi akibat rendahnya penerimaan.

Disisi lain banyak juga UMKM mengambil langkah yang optimis, yakni melakukan inovasi penambahan saluran pemasaran termasuk melalui media digital dalam rangka mendorong pengembangan bisnis. Pandemi ini menjadi katalisator dalam proses adopsi teknologi di masyarakat bahwa pembatasan aktifitas fisik menjadi suatu kebiasaan baru atau new normal di tengah berbagai kegiatan. Penggunaan teknologi digital menjadi salah satu alternatif yang dapat mengatasi kesulitan dalam melakukan berbagai macam aktivitas. Digital payment justru membuat transaksi ritel yang berbasis digital mengalami lonjakan yang sangat signifikan untuk itu sangat relevan bagi UMKM untuk menyesuaikan modal bisnis konvensional nya ke arah ini, dengan memanfaatkan platform digital yang ada. Strategi pengembangan UMKM perlu dilakukan secara end-to-end untuk meningkatkan produktivitas. Berbagai langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas, diantaranya adalah penguatan manajemen, peningkatan kualitas barang, dan peningkatan kapasitas. Sistem pembayaran kita sampai tanggal 25 Maret 2020 transaksinya sudah hampir 11 juta transaksi dan nominalnya sudah sudah lebih dari 700 miliar rupiah. Hingga kini penyaluran kredit untuk UMKM yang diakses yang baru berkisar 19 sampai 20% dari total kredit perbankan. Oleh karena itu pemanfaatan inovasi permodalan UMKM karena perkembangan transaksi keuangan ini perlu diseimbangkan dengan aspek dukungan teknologi yang semakin berkembang.

Dalam lima tahun terakhir kontribusi sektor usaha UMKM terhadap produk domestik bruto meningkat menjadi 60,34% dari jumlah sebelumnya yaitu 57,84%. Pelaku UMKM dalam mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing dalam menghadapi era industri 4.0 ini harus tanggap menghadapi perubahan yang sangat cepat tidak hanya di perubahan tren pasar namun juga perkembangan teknologi.

Untuk meningkatkan produktivitas UMKM memerlukan kemampuan wirausaha, kepemimpin, kreatifitas dan inovasi. Kreativitas adalah kemampuan atau tindakan untuk membayangkan sesuatu yang orisinal atau tidak biasa. Inovasi adalah implementasi dari sesuatu yang baru. Penemuan adalah kreasi dari sesuatu yang belum pernah dibuat sebelumnya dan diakui sebagai hasil dari beberapa wawasan unik.

Kreatifitas diperlukan oleh UMKM untuk melalui pandemi ini, tidak ada yang membuat kita berhenti dengan halangan yang ada, inovasi juga tidak boleh berhenti untuk membawa pertumbuhan UMKM menjadi kompetitif ditengah dunia. Namun kreatifitas dan inovasi tidak akan berkembang kalau tidak dikembangkan secara komersial, melalui kemampuan  entrepreneurship yang mengandung resiko keuangan, dimana UMKM harus berani untuk mengambilnya. Banyak UMKM memerlukan dukungan untuk memiliki semangat sebagai wirausaha dan memimpin dengan baik untuk melahirkan UMKM yang menjadi bantalan ekonomi Indonesia.