(Beritadaerah – Industri dan Jasa) Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan bahwa di masa pandemi Covid-19, Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk jangka pendek akan fokus mengupayakan pengembangan ekspor produk yang memiliki tingkat pertumbuhan positif. Harapannya upaya ini bisa mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Misalnya, berupa makanan dan minuman olahan serta alat-alat kesehatan,” ujar Agus, dalam siaran pers, Rabu (23/9/2020).

Sedangkan kebijakan untuk jangka menengah, Kemendag akan mempertahankan produk-produk yang memiliki market power, kemudian meningkatkan pangsa pasar produk potensial, serta memulihkan produk yang kehilangan pangsa pasar.

Agus mengungkapkan, komoditas barang kebutuhan pokok yang dapat menyumbang deflasi antara lain daging ayam ras, bawang merah, dan lainnya. Sedangkan komoditas yang menyumbang inflasi hanya minyak goreng, dengan andil 0,01 persen.

Kemendag akan terus berikhtiar agar ekspor Indonesia dapat terus meningkat serta terciptanya lapangan kerja dan kestabilan harga bahan pokok di dalam negeri. Adapun rencana dalam satu tahun ke depan, akan mulai pendekatan pada pasar-pasar di negara lain yang mulai pulih.

“Kami akan fokus pada pasar yang pulih atau mulai putih seperti Australia dan Selandia Baru, Inggris, Uni Emirat Arab, dan kawasan Afrika,” kata Agus.

Sementara itu, Ketua Komite II DPD RI Yorrys Raweyai menilai pemerintah perlu melindungi dunia usaha dan konsumen rumah tangga yang berperan menggerakkan roda perekonomian di tengah pandemi Covid-19.

Menurut Yorrys, sektor perdagangan Indonesia sebetulnya masih dapat ditopang melalui konsumsi rumah tangga, tapi sayangnya konsumsi rumah tangga mengalami penurunan hingga minus 6,51 persen pada triwulan II-2020.

“Maka diperlukan kebijakan pemerintah dari sisi suplai dan permintaan untuk menunjang kembali konsumsi rumah tangga,” kata Yorrys.

Terlebih, menurut Yorrys, telah terjadi pertumbuhan negatif untuk sektor perdagangan yang disebabkan oleh kemandekan ekspor barang dan jasa pada titik minus 12,81 persen dan kontraksi impor hingga minus 14,16 persen.

 

Emy T/Journalist/BD
Editor: Emy Trimahanani