(Beritadaerah – Kolom) Dalam sebuah perbincangan dengan Menristek Bambang Brodjo maka disampaikan bagaimana rumus penularan Covid-19 terjadi. Rumusnya adalah (virulensi x dosis)/ imunitas, kalau nilainya di atas 1 maka kita akan tertular, kalau di bawah 1 kita aman. Pembilangnya= virulensi x dosis dibuat mengecil dengan penerapan 3M: masker, mencuci tangan dan menjaga jarak atau menjauhi kerumunan. Penyebutnya adalah imunitas yang semakin besar penyebut ini semakin baik. Bagaimana memperbesar penyebutnya lakukanlah senantiasa menjaga imunitas. Makan makanan sehat, sarapan salah satu yang perlu dilakukan, minum vitamin secara teratur, berjemur dan juga olah raga. Kedua hal ini memerlukan kedisplinan dari setiap orang, setiap keluarga.

Untuk suplemen herbal immunomodulator, Kemenristek menguji seluruh obat herbal komersial Indonesia yang ada di pasaran sebagai imunomodulator dan anti viral terhadap Covid-19. Kemenristek sedang melakukan tiga hal; Systematic Review, dilakukan terhadap bukti atau hasil penelitian tentang tumbuhan obat yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh (Immunomodulator). Studi Bio informatika pharmacophore screening dan molecular  docking  untuk  memilih jenis   senyawa   yang   dapat memperkuat  daya  tahan  tubuh terhadap  virus  Covid-19  seperti Jambu Biji dan Kulit Jeruk. Uji Klinis di lakukan di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet.Hasil final sedang ditunggu dari BPOM.

Bagaimana kaitannya dengan vaksin merah putih yang sedang disiapkan? Menristek menjawabnya dengan kembali pada rasio ini. Bila vaksin ditemukan maka sebenarnya penyebut akan menjadi besar dan membuat infeksi menjadi kecil. Dan dalam konteks dengan masyarakat maka vaksin membuat proses penularan mengecil. Jadi memang vaksin sangat diperlukan. Dan terjadinya apa yang disebut dengan kekebalan kelompok (Herd Immunity). Seperti pada gambar maka ketika tidak ada yang ikut imunisasi maka penyakit menyebar dengan cepat pada orang di sekitar. Ketika sebagian orang ikut imunisasi dan kebal, penyebaran penyakit mulai terhambat. Ketika sebagian besar orang ikut imunisasi dan kebal, penyakit akan terhambat secara drastis.

Sumber: Kemenristek

Sampai dimanakah perkembangan vaksin merah putih itu, dalam kesempatan itu Menristek memaparkan perkembangannya. Pertama saat ini, sedang dilakukan penyiapan  koleksi  gen  target  sudah  dilakukan  sehingga didapat gen Spike full length, gen Spike S1, gen Spike RBD, dan gen Nucleocapsid. Kedua semua plasmid rekombinan telah terverifikasi sekuen gen insert nya dan sesuai dengan sekuen virus isolat lokal Indonesia yang digunakan. Tidak ada mutasi/perubahan. Ketiga ekspresi protein sedang mulai dikerjakan pada sel mamalia.

 

Sumber Kemenristek

Keempat pengembangan metode alternatif dengan sistem ekspresi di yeast sudah berhasil mengamplifikasi gen S, S1, RBD dan N. Saat ini sedang dalam proses kloning. Kelima secara keseluruhan,  proses  pengerjaan  masih sesuai timeline pengembangan vaksin, walaupun target dan sistem yang dikembangkan bertambah dengan sistem yeast. Dan Menristek menyampaikan bahwa vaksin Merah Putih sudah selesai sekitar 50 persen, dengan perkiraan akan selesai paling cepat di Agustus-September 2021.

Jadi kembali pada rumusnya adalah (virulensix dosis)/ imunitas, kenapa kita harus disiplin menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak adalah agar virulensi kecil dan disiplin untuk makan makanan yang sehat, tidur yang cukup, tidak stress, serta minum vitamin, berjemur dan olahraga adalah agar imunitas meningkat yang membuat infeksi Covid-19 tidak terjadi khususnya karena vaksin merah putih perlu waktu satu tahun lagi untuk bisa dipakai oleh masyarakat Indonesia.