(Beritadaerah – Jawa) Presiden Joko Widodo telah mencanangkan Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang sebagai tujuan relokasi industri. dan menjadi Proyek Strategis Nasional pada bulan Juni 2020. KIT Batang berada di lokasi yang sangat strategis, karena dekat dengan jalur tol trans Jawa dan juga rel kereta api serta berada di tepi pantai. Rencananya ada 4 konsorsium yang berperan dalam proyek strategis tersebut, antara lain; PT Pembangunan Perumahan (Persero) sebagai konsorsium utama, PT KIW Semarang, PTPN 9 dan Perusda Batang.

Terkait dengan hal tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) melakukan koordinasi dilapangan, apabila ada permasalahan yang sifatnya harus segera diatasi oleh berbagai pemangku kepentingan. Hal tersebut disampaikan oleh Plt Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Ayodhia GL Kalake saat kunjungan kerjanya ke Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah pada tanggal 5 September 2020.

“Kami siap membantu jika ada permasalahan yang harus dikoordinasikan dengan pemerintah pusat. Kami akan membantu lewat rakor dengan pemangku kepentingan. Investor selalu bertanya tentang insentif dan penerapan pajak dikawasan industri tersebut. Insentif apa yang akan diberikan oleh daerah kepada investor asing? Jadi ini salah satu benchmark dari pengusaha untuk menarik penanam modal. Ini juga harus menjadi perhatian kita,” kata Plt Deputi Ayodhia yang dikutip laman Maritim, Senin (7/9).

Sementara itu, Asisten Deputi Infrastruktur Konektivitas Kemenko Marves Rusli Rahim lebih menekankan pada kesesuaian tata ruang/pola ruang, aksesibilitas, utilitas dan keterpaduan dengan sektor lain. Menurutnya sisi aksebilitas sudah bagus, karena lokasi KIT Batang dilalui jalan tol dan kereta api, serta ada rencana pembangunan dryport.

Sedangkan untuk pembangunan infrastruktur seperti pasokan listrik bagi KIT Batang, Asisten Deputi Industri Pendukung Infrastruktur Kemenko Marves Yohannes Yudi Prabangkara menyatakan PLN Jateng harus menghitung lagi jenis listrik yang diharapkan Kawasan Industri, apakah berjenis listrik curah atau premium. Nantinya diintegrasikan antar KIT Batang dengan infrastruktur yang ada disekitar kawasan. Untuk KIT Batang, diketahui juga sudah ada beberapa tenant yang sangat berminat, salah satunya adalah perusahaan baterai ternama asal Korea Selatan.

KIT Batang memiliki total area seluas 4.368 hektare dan ditargetkan menjadi kawasan industri percontohan kerja sama antara pemerintah dengan BUMN. Konsepnya, infrastruktur dasar dan pendukung disediakan oleh pemerintah yang meliputi akses jalan untuk tol dan non-tol, penyediaan air baku dan air bersih, kereta api, listrik, gas, terminal kontainer darat (dry port) dan pelabuhan.

Handi Fu/Journalist/BD
Editor: Handi Fu

About The Author

Handi is a Partner of Management and Technology Services at Vibiz Consulting and Editor of beritadaerah.co.id. He is also working as trainer and consultant at LEPMIDA (Regional Investment and Management Development Institute).

Related Posts