(Photo: Kemenkeu)

Kita Harus Cepat Bergerak

(Beritadaerah – Kolom) Kalau kita lihat yang memang sudah 4 tahun terakhir Indonesia itu yang mendorong dari sisi konsumsi dan konsumsinya itu tidak hanya bahan makanan tapi konsumsi perjalanan, kuliner yang berkaitan dengan gaya hidup. Ketika pandemi terjadi maka sisi konsumsi ini mengalami penurunan, karena alasan kesehatan. Karena itu untuk mendorong perekonomian bisa melesat dengan cepat maka sisi konsumsi ini yang perlu dihidupkan.

Presiden Joko Widodo bahkan mengibaratkan perekonomian sebuah negara saat ini, ibarat komputer yang sedang macet sedang hang. Dalam pidato kenegaraannya, presiden mengatakan “Ibarat pada computer perekonomian semua negara saat ini sedang macet sedang hang dan semua negara mempunyai kesempatan mensetting ulang semua sistemnya ketika krisis kesehatan tersebut berdampak pada perekonomian nasional Kita juga harus cepat bergerak.”

Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah menganggarkan sampai Rp 695,2 triliun dan hampir 30% dari total anggaran ini ditujukan untuk perlindungan sosial masyarakat yang terdampak pandemi, dengan angka hingg Rp. 203,9 triliun.

Perlindungan ini diharapkan dapat menggerakkan roda ekonomi khususnya rakyat kecil agar mendorong percepatan pemulihan ekonomi nasional. Apa saja bentuk perlindungan sosial yang diberikan kepada masyarakat kita akan lihat data-datanya. Pertama adalah untuk bantuan sembako pemerintah menganggarkan dana sebesar Rp 43,6 triliun, jumlah penerima manfaat sebanyak 20 juta keluarga atau sebanyak 80 juta orang. Per 6 Agustus 2020 realisasi anggaran yang sudah mencapai Rp 26 triliun atau 59% dari anggaran.

Kemudian pemerintah juga menganggarkan dana sebesar RP 37,4 triliun untuk program keluarga harapan atau PKH, ini berupa uang dalam jumlah yang beragam diberikan kepada 10 juta keluarga termiskin di Indonesia. Hingga awal Agustus 2020 realisasi PKH sudah mencapai 72% dari atau jumlahnya senilai Rp 27 triliun.

Bentuk perlindungan sosial lainnya adalah bantuan sosial tunai dan non tunai kepada masyarakat Jabodetabek dan non Jabodetabek yang pertama kali terkena pandemi. Pemerintah menyiapkan dana sebesar Rp. 39,3 triliun untuk bantuan sosial tunai dan nontunai penyerapan anggaran bantuan sosial tunai dan non tunai ini ditargetkan selesai pada Desember 2020.

Selanjutnya pemerintah juga menggratiskan pada pelanggan 450 volt ampere yang jumlahnya mencapai 24,16 juta pelanggan rumah tangga dia juga memberikan diskon 50% kepada 7,72 juta pelanggan berdaya listrik 900 volt ampere. Dengan total anggaran hingga Rp. 6,9 triliun dan sudah direalisasikan seluruhnya. Program ini akan diperpanjang hingga Desember 2020.

Program BLT Dana Desa, pemerintah menyiapkan anggaran sampai Rp 31,8 Triliun namun realisasi BLT Dana Desa ini masih jauh di bawah target baru mencapai 27% atau Rp 9 triliun. Sementara kita akan lihat untuk program kartu pra kerja pemerintah menganggarkan dana sampai Rp 20 Triliun dan program ini ditujukan bagi para pencari kerja korban PHK dan juga pekerja yang butuh peningkatan kompetensi kerja.

Masih terus dilakukan upaya untuk pemulihan ekonomi nasional, yang utamanya berada pada pemulihan kesehatan masyarakat. Penemuan obat, juga vaksin merah putih yang berguna mengatasi pandemic, untuk jangka menengah dan jangka panjang menjadi optimisme dan kekuatan bagi Indonesia untuk melalui pandemi ini. Pandemi juga harus dilihat sebagai transformasi digital, yang merupakan momentum perubahan bagi Indonesia.

About Fadjar Dewanto

Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.