Jubir Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, di Kantor Presiden, Jumat (24Juli). (Foto: Humas Setkab)

Wiku, Indikator Kesehatan Masyarakat: Epidemiologi, Surveilans, dan Pelayanan

(Beritadaerah – Nasional) Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) Covid-19, Wiku Adisasmito, menyampaikan 3 indikator kesehatan masyarakat yang menyusun di antaranya epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan masyarakat.

Perkembangan kasus aktif Covid-19 di Indonesia sejauh ini masih lebih rendah dari perkembangan rata-rata tingkat dunia. Per 25 Agustus 2020, Wiku sampaikan Indonesia memiliki kasus aktif sebesar 24,1% atau 38.134 kasus, sementara di dunia persentasenya rata-rata 28,35%.

Dari kasus sembuh juga Indonesia berada di angka 71,5% atau 112.867 kasus, sementara rata-rata dunia berada di angka 68,19%. “Sedangkan jumlah kasus meninggal adapun 6.858 kasus atau 4,34%, dimana kasus di dunia 3,44%. Jadi Indonesia masih lebih tinggi dari rata-rata kasus dunia,” jelas Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito, Selasa (25/8), di Kantor Presiden, Provinsi DKI Jakarta.

Kabar baiknya lagi berdasarkan grafik kasus positif, beberapa hari terakhir ada kecenderungan adanya penurunan, meskipun belum dapat dikatakan signifikan. Namun berdasarkan grafik angka kesembuhan dalam beberapa hari terakhir juga cukup menanjak.

Wiku menjelaskan puncak grafiknya pada 24 Agustus dengan jumlah kesembuhan harian sebanyak 3.560 kasus dan dalam 3 minggu terakhir peningkatannya naik jadi tiga kali lipat.

Pada kesempatan itu, Jubir Satgas Covid-19 juga merinci soal Peta Zona Risiko penyebaran pandemi Covid-19. “Dan semua indikator ini berbasis pada data pencatatan dimana sumbernya data surveilans dan database rumah sakit online yang dicatat Kementerian Kesehatan. Dan ini adalah sumber data terbaik yang dimiliki Indonesia,” lanjut Wiku.

Setelah dilakukan pendekatan dan penghitungan, maka dilakukan skoring dan pembobotan sehingga terbagi 4 warna zona. Warna tersebut katanya dipilih berdasarkan warna kebencanaan yang lazim digunakan untuk mengidentifikasi risiko wilayah.

Zona risiko tinggi atau zona merah skor 0 – 1.80, zona risiko sedang atau zona oranye skor 1.81 – 2.40, zona risiko rendah atau zona kuning skor 2.41 – 3.0 dan zona tidak ada kasus atau zona hijau, tidak tercatat kasus positif atau pernah terdapat kasus namun tidak ada penambahan kasus baru dalam 4 minggu terakhir dan angka kesembuhan 100%.

Untuk jumlah pemeriksaan per orang nasional, sejauh ini Indonesia baru mencapai 35,6% dari standar WHO. Di Indonesia idealnya dengan jumlah penduduk 260 juta jiwa, targetnya adalah 267.700 orang per minggu. Saat ini Indonesia telah mencapai pemeriksaan per orang nasional sebanyak 95.463 orang per minggu.

Emy T/Journalist/BD
Editor: Emy Trimahanani