Ilustrasi: Pabrik Polythyleme baru milik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk di Cilegon, Banten.( FOTO VIBIZMEDIA.COM MARULI SINAMBELA)

Sekalipun Triwulan II Negatif, Tahun 2020 Ekonomi Akan Positif

(Beritadaerah – Kolom) Pandemi Covid-19 menimbulkan goncangan ekonomi yang mengarah pada resesi global. Berbagai kebijakan yang dilakukan untuk menekan penyebaran Covid-19, seperti penutupan sekolah dan beberapa kegiatan bisnis, pembatasan sosial berskala besar, bahkan lockdown mengakibatkan penurunan tingkat konsumsi dan investasi. Harga komoditas migas dan hasil tambang di pasar internasional pada Triwulan II-2020 secara umum mengalami penurunan (q-to-q) maupun (y-on-y), sementara harga komoditas makanan (gandum, minyak kelapa sawit, dan kedelai) mengalami penurunan (q-to-q), tetapi secara (y-on-y) mengalami peningkatan. Ekonomi beberapa mitra dagang Indonesia terkontraksi sebagai akibat pembatasan aktivitas penduduk untuk mengendalikan penyebaran Covid-19.

Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2020 mencapai Rp 3.687,7 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 2.589,6 triliun. Ekonomi Indonesia triwulan II-2020 terhadap triwulan II-2019 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 5,32 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mengalami kontraksi pertumbuhan tertinggi sebesar 30,84 persen. Dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa serta Impor Barang dan Jasa mengalami kontraksi pertumbuhan masing-masing sebesar 11,66 persen dan 16,96 persen.

Ekonomi Indonesia triwulan II-2020 terhadap triwulan sebelumnya mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 4,19 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mengalami kontraksi pertumbuhan tertinggi sebesar 29,22 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa serta Impor Barang dan Jasa mengalami kontraksi pertumbuhan masing-masing sebesar 12,81 persen dan 14,16 persen.

Sumber: BPS

Ekonomi Indonesia semester I-2020 terhadap semester I-2019 mengalami kontraksi sebesar 1,26 persen (c-to-c). Dari sisi produksi, kontraksi pertumbuhan terbesar terjadi pada Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 15,07 persen. Sementara dari sisi pengeluaran semua komponen terkontraksi, dengan kontraksi tertinggi terjadi pada Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 6,44 persen.

Struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan II-2020 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa sebesar 58,55 persen, dengan kinerja ekonomi yang mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 6,69 persen. Sementara itu kelompok Pulau Maluku dan Papua mencapai pertumbuhan tertinggi sebesar 2,36 persen, walaupun kontribusinya terkecil (kurang dari tiga persen) dibanding kelompok pulau lainnya.

Kondisi perekonomian Indonesia triwulan II ini memang sudah diprediksi sebelumnya mengingat adanya kelesuan dari sisi permintaan maupun penawaran yang membuat Indonesia mengalami kontraksi. Namun diharapkan pada triwulan III dan IV akan bertumbuh positif sejalan dengan langkah-langkah pemerintah untuk melakukan bantuan kepada masyarakat yang mengalami dampak dari kondisi ekonomi. Mendorong percepatan pengeluaran pemerintah kepada masyarakat dan juga keseimbangan pemerintah melepaskan pembatasan sosial dengan kesehatan masyarakat. Dengan langkah-langkah ini diharapkan pada tahun 2020 secara akumulasi Indonesia akan bertumbuh positif.

About Fadjar Dewanto

Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.