Ilustrasi: Batang Toru di Desa Bulu Payung, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. (Foto: VOA/ Anugrah Andriansyah)

Sungai Indonesia Penghasil Listrik Untuk 95 Juta Rumah

(Beritadaerah – Kolom) Sebagai negara yang berada di wilayah khatulistiwa, Indonesia memiliki curah hujan yang sangat tinggi setiap tahunnya sehingga memiliki sumber air yang cukup besar baik itu run off river –PLTM dan PLTMH, ataupun bendungan – PLTA. Indonesia memiliki jumlah daerah aliran sungai (DAS) sebanyak 458. Saat musim hujan – yang rata-rata turun pada bulan November hingga Maret – memberikan manfaat tersendiri dalam pengembangan energi terbarukan bersumber dari air.

Potensi energi air yang dapat dimanfaatkan Indonesia sangatlah besar totalnya sungai Indonesia mampu menghasilkan energi listrik hingga 94.476 MW. Jumlah itu bisa dibandingkan kalau untuk rumah saja, 94.476 MW itu sama dengan 94.476.000.000 watt. Kalau satu rumah misalnya 900 VA, atau 1.000 VA berarti 94.476.000 rumah, kira-kira atau 95 juta rumah.

Dari jumlah itu Indonesia memiliki potensi energi air yang potensial untuk dapat dimanfaatkan dan dikembangkan dengan baik untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Sesuai dengan data yang disebutkan dalam RUEN, Indonesia memiliki total potensi PLTA sebesar 75.091 MW.

Tabel Potensi Tenaga Air

Sumber : RUEN

Selain Indonesia memiliki potensi energi air yang dapat dimanfaatkan menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berskala besar, Indonesia juga memiliki Potensi energi air lainnya, yaitu berupa Pembangkit listrik minihidro dan mikrohidro (PLTM/H) berskala kecil. Sesuai dengan data yang disebutkan dalam RUEN, Indonesia memiliki total potensi PLTM/H sebesar 19.385 MW.

Dari total 94.476 MW potensi energi air di Indonesia, baru sebesar 6.256 MW (data pusdatin ESDM) yang telah dimanfaatkan dan sebesar 88.200 MW belum termanfaatkan. Kendala yang dihadapi karena terbatasnya ketersediaan data potensi dan informasi energi air yang siap diimplementasi. Kemampuan industri dalam negeri di bidang energi air masih terbatas. Terbatasnya penelitian dan pengkajian terkait dengan pengembangan energi berbasis air terutama dalam menghadapi permasalahan yang terkait dengan kondisi hidrologi serta dampak perubahan iklim. Terbatasnya jumlah dan kompetensi SDM dalam bidang energi air. Terbatasnya kehandalan sistem jaringan PLN. Potensi demand dan potensi pasokan seringkali tidak match, karena pada umumya lokasi demand jauh dari lokasi sumber energi terbarukan. Kurangnya optimalnya dukungan pembiayaan dalam negeri terhadap pengembangan energi air. Terbatasnya akses publik terhadap data kebutuhan listrik di setiap wilayah oleh PT PLN.

ESDM telah menetapkan target pemanfaatan energi air sebesar 20.986,7 MW untuk memenuhi bauran energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025. Sebagai pengamat saya melihat bahwa target ini bisa dicapai karena kendala yang dihadapi untuk membangun PLTM/H dan PLTA terus semakin dapat diatasi.

Sebagai contoh dari sisi pembiayaan, maka pembiayaan offshore untuk energi terbarukan banyak mengalir ke Indonesia karena investor lebih berani mengambil resiko dan semangat untuk mengurangi dampak karbon di dunia. Pihak perbankan Indonesia juga perlahan mulai memiliki keyakinan untuk kemampuan PLTM/H dan PLTA sebagai bisnis yang menjanjikan. Pasar Modal sendiri juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berinvestasi, dan saham perusahaan Hydro Energy diminati masyarakat.

Penurunan yang cukup terasa pada permintaan lisrik pada saat pandemi bisa diatasi dengan pengubahan sumber daya listrik yang masih berasal dari energi fosil. Pemerintah berencana untuk menggantikan 2.246 dengan energi terbarukan, ini adalah kesempatan yang baik. Gairah swasta untuk mengerjakan semakin meningkat, dan hal ini mendorong inovasi teknologi anak bangsa, dengan semakin banyaknya sumber daya manusia yang memiliki kapabilitas di sektor ini.

About Fadjar Dewanto

Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.