(Beritadaerah โ€“ Infrastruktur) Anggota Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, dr. Reisa Broto Asmoro menjelaskan, berdasarkan data yang dihimpun oleh tim pakar, perubahan peta zonasi resiko rendah dan tidak terdampak Covid-19 meningkat tajam.

“Per 31 Mei 2020 jumlahnya 46,7 Persen dari setengah kabupaten/kota di Indonesia. Namun, per 28 Juni 2020 meningkat menjadi 55,25 persen,” kata dia dalam konferensi pers di BNPB, Jakarta, Senin (6/7/2020).

Menurut dia, perubahan suatu daerah menjadi zona hijau harus dilakukan secara kolektif, gotong royong dan bersama-sama antara pemerintah daerah dan masyarakat.

Disiplin menerapkan protokol kesehatan adalah kunci memutus rantai penularan Covid-19. Untuk itu, ia mengajak semua wilayah berlomba menciptakan daerahnya menjadi zona hijau Covid-19.

“Yuk, semangat berlomba, jadikan wilayah kita jadi zona hijau. Lingkungan kita beresiko rendah dan akhirnya kita semua terbebas dari Covid-19. Kita pasti bisa, kita harus bisa,” ujar dia.

Menurut dia, kunci pergerakan daerah warna zona tergantung pada pengawasan ketat Pemerintah Daerah masing-masing.

Selain itu, kedisiplinan seluruh anggota masyarakat pun sangat berpengaruh mulai dari para tokoh agama dan budaya, akademisi, dunia usaha, serta media massa.

Visi bahwa daerah yang lebih sehat akan membuat masyarakat lebih produktif. Wilayah tersebut pun pastinya akan jauh lebih kompetitif, baik dari sisi kualitas sumber daya manusia maupun dari sisi persepsi positif citra daerah tersebut.

“Keberhasilan kita bersama melalui pandangan ini, hanya bisa diraih lewat gotong royong. Bekerja bersama mendisiplinkan diri, melakukan perubahan, menerapkan adaptasi kebiasaan baru,” terang dia.

Ia pun meminta agar tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan dengan selalu menjaga jarak, pakai masker dengan benar, cuci tangan minimal 20 detik, serta berperilaku hidup bersih dan gaya hidup sehat.

Emy T/Journalist/BD
Editor: Emy Trimahanani