Ilustrasi: Ladang Jagung di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Foto: Kemkominfo)

Jagung, Komoditi Unggulan di Pesisir Selatan Setelah Padi

(Beritadaerah – Industri Jasa) Cukup stabilnya harga komoditi jagung di tingkat petani di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, membuat masyarakat yang melakukan budi daya tanaman jagung di daerah itu semakin bergairah. Pesisir Selatan merupakan daerah penghasil jagung terbesar kedua di Sumbar setelah Kabupaten Pasaman Barat.

Sebagai informasi, harga jual jagung kering pipilan sudah mencapai Rp5 ribu per kilogram di tingkat petani di daerah itu. Salah seorang petani jagung di Kecamatan Sutera, Buyung Ferdi 35, Rabu (1/7/2020) mengatakan bahwa saat ini sebagian besar petani sudah menjadikan jagung sebagai komoditi unggulan untuk dibudidayakan di kecamatan itu.

“Beralihnya petani menjadikan jagung sebagai komoditi unggulan setelah padi di Kecamatan Sutera, umumnya Pesisir Selatan, memang dikarenakan harga jualnya sudah cukup stabil. Saat ini harga jual jagung kering sudah mencapai Rp5 ribu per kilogram. Bahkan juga ada lebih,” katanya.

Disampaikanya bahwa dengan harga Rp5 ribu per kilogram itu, maka hasil produksi dalam 1 hektare bisa mencapai Rp35 juta. Karena hasil panen 1 hektare lahan bisa mencapai 7 ton, bahkan bisa lebih. Memang untuk mendapatkan hasil panen maksimal, petani harus menyediakan pupuk jenis urea sebanyak 247 kilogram dengan mengeluarkan biaya Rp 570.400 atau Rp115.000 per 50 kilogram. Ditambah dengan pupuk jenis NPK sebanyak 270 kilogram dengan mengeluarkan biaya Rp756.000 atau Rp140.000 per 50 kilogram.

Total pengeluaran biaya khusus pupuk sebesar Rp1.326.400; obat-obatan pencegahan hama sekitar Rp200 ribu, biaya pemeliharaan dari penanaman hingga panen diperkirakan sebesar Rp8 juta, menjadi sebesar Rp9,5 juta.

Dengan harga jual Rp.5 ribu per kilogram, maka setelah dikurangi ongkos produksi, tersisa sebesar Rp25,5 juta.

“Dengan hasil bersih sebesar Rp25 juta selama tiga bulan itu, maka dapat dikatakan gaji selama 1 bulan yang didapatkan petani, berkisar sekitar Rp8 juta. Ini jelas cukup menguntungkan, dan bisa dijadikan sebagai andalan untuk perekonomian. Ini hanya untuk lahan 1 hektare, jika lebih, tinggal lagi mengalikanya sesuai dengan luas lahan yang dikembangkan,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distanhortbun) Pesisir Selatan, Nusirwan mengatakan Rabu (2/7/2020) bahwa jagung memang sudah menjadi komoditi unggulan oleh masyarakat petani di daerahnya setelah padi.

“Agar komoditi benar-benar memberikan jaminan ekonomi bagi masyarakat, maka saya minta agar petani mulai melakukan pengembangan produk panganan berbahan jagung. Sebab pasarnya sangat terbuka luas,” harapnya.

Emy T/Journalist/BD
Editor: Emy Trimahanani

About Emy Trimahanani

Editor of Vibiz Media Network and Head of Vibiz Learning Center