(Beritadaerah – Nasional) Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) diberikan Pemerintah sebagai dukungan kepada BUMN agar bertahan dalam masa pandemi COVID-19 ini. Total anggaran PEN melalui BUMN adalah sebesar Rp42,07 triliun.

Sisi yang terkena dampak COVID-19 terhadap BUMN ini adalah dari sisi supply (penawaran) yaitu membuat pasokan baku terganggu dan supply tidak terserap. Sedangkan dari sisi demand (permintaan), COVID-19 mengakibatkan penurunan daya beli akibat penurunan permintaan yang otomatis juga mengakibatkan penjualan (sales) turun drastis. Kalau dari sisi operasional, perusahaan BUMN mengurangi aktivitasnya dengan pembatasan, bahkan penghentian operasional. Padahal di satu sisi, BUMN juga ada yang diperlukan perannya untuk penanggulangan COVID-19. Pada sisi finansial, BUMN juga tidak imun terhadap penunggakan pembayaran kepada vendor karena sudah terikat kontrak, maka terjadi kenaikan eksposure pinjaman sehingga mengakibatkan penurunan likuiditas, solvabilitas dan profitabilitas.

Pemerintah telah lakukan pemetaan dari urgensi BUMN yang perlu didukung karena terdampak COVID-19 dengan kriteria memiliki pengaruh terhadap hajat hidup orang banyak, peran sovereign yang dijalankan BUMN, eksposur terhadap sistem keuangan, total aset yang dimiliki serta kepemilikan pemerintah yang signifikan.

BUMN yang akan dibantu adalah PLN untuk subsidi diskon listrik 450 VA dan 900 VA, PT Hutama Karya untuk jalan tol Trans Sumatera dan Proyek Strategis Nasional (PSN), PT KAI untuk kewajiban pelayanan publik / Public Service Obligation (PSO), PTPN untuk program Padat Karya, Bahana (PT BPUI) untuk penjaminan modal kerja yang dilakukan Askrindo dan Jamkrindo, Permodalan Nasional Madani (PNM) untuk UMKM dan UMi, Perumnas, PT Pertamina, PT Garuda, PT Krakatau Steel, dan ITDC.