(Beritadaerah – Nasional) Menurunnya tingkat permintaan pasar industri perikanan di tengah pandemi COVID-19, mendorong pemerintah untuk mengoptimalkan pasar online dan ekspor. Kondisi pandemi COVID-19 sejak awal Maret 2020 telah memberikan dampak signifikan terhadap perikanan tangkap terutama kepada nelayan dan industri perikanan nasional.

Permintaan pasar dari luar negeri telah menurun sekitar 40% dan menyebabkan gudang penyimpanan penuh. Kondisi ini membuat perusahaan mengurangi persediaan bahan baku. Selain itu, pembatasan transportasi dan pekerja di pabrik mengurangi kapasitas penyerapan ikan dari nelayan dan juga pengurangan output produksi sekitar 10%.

Pemerintah optimis industri perikanan Indonesia bisa segera bangkit dengan menyasar pasar online, hal tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Safri Burhanuddin saat Dialog Indonesia Bicara bertema Produksi Perikanan Nasional di Tengah Pandemi, Rabu (3/6) malam.

“Kita salah satu negara dengan potensi perikanan yang luar biasa. Memang saat ini kondisi pasar turun, tapi kalau kita memanfaatkan tekonologi, seharusnya tidak masalah. Pasar online luas, kita melihat potensi dari perikanan. Ini peluang yang besar untuk kita manfaatkan bersama,” kata Deputi Safri yang dikutip laman Maritim, Jumat (5/6).

Selain mengincar pasar online, pemerintah juga terus berupaya membuka pasar ekspor baru. Deputi Safri mengatakan, pemerintah telah melakukan ekspor ikan ke sejumlah negara meski masih dalam masa pandemi.

Dijelaskan oleh Safri saat ini ekspor ikan kita selama 2 minggu sampai 3 minggu ini sudah mulai terbuka lagi, karena beberapa negara sudah mulai membuka. Sekitar 40 sampai 60 persen sudah berjalan lagi ekspornya, kemarin sempat terhenti.

Karena itu, Deputi Safri mengatakan pemerintah sangat mengharapkan dukungan dari semua pihak agar roda ekonomi nelayan tetap berputar. Pemerintah, lanjut Deputi Safri, juga terus berupaya membuka akses pasar domestik maupun luar negeri agar hasil tangkapan nelayan bisa terserap.

Untuk pasar domestik, pemerintah menjamin kelancaran produk mereka sampai ke pembeli. Jika restoran mulai dibuka awal Juli, kemampuan menyerap pasar itu akan kami beritahukan. Jangan sampai ada ikan yang tidak termanfaatkan atau terbuang, kata Deputi Safri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor hasil perikanan Indonesia pada Maret 2020 mencapai US$ 427,71 Juta atau meningkat 6,34% dibanding ekspor Februari 2020. Sementara dibanding Maret 2019 meningkat 3,92%. Peningkatan ekspor ini akibat penutupan dan pembatasan impor ke Tiongkok sejak awal tahun 2020 akibat wabah COVID-19. Sehingga aktifitas negara-negara eksportir seperti Indonesia juga membelokan arah ekspor ke pasar AS dan Eropa sebagai pasar terbesar untuk komoditas udang dan TTC (tuna-tongkol-cakalang).

Handi Fu/Journalist/BD
Editor: Handi Fu

About The Author

Fu Handi is a Partner of Management and Technology Services at Vibiz Consulting and Editor of beritadaerah.co.id. He is also working as trainer and consultant at LEPMIDA (Regional Investment and Management Development Institute).

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.