(Beritadaerah – Jakarta) Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan Indonesia sepanjang Maret 2020 di Jakarta, pada hari Rabu (15/4). Di tengah wabah pandemi virus Corona, neraca perdagangan Indonesia justru mengalami surplus sebesar US$ 743. Surplus terjadi karena nilai ekspor mencapai US$ 14,09 miliar atau tumbuh 0,23 persen dari US$14,06 miliar pada Februari 2020. Berdasarkan sektornya, hanya ekspor pertanian yang mengalami kenaikan secara bulanan maupun tahunan. 

Dikutip laman BPS, Rabu (15/4), Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, ekspor pertanian mengalami kenaikan signifikan baik secara bulan maupun tahunan. Tercatat, ekspor pertanian mencapai US$ 320 juta, atau naik 6,10 persen (mtm) dan naik 17,82 persen (yoy). Dijelaskan oleh Suhariyanto bahwa komoditas yang mengalami kenaikan itu di antaranya tanaman obat dan aromatik. Kemudian ada juga rempah, buah-buahan, hasil hutan bukan kayu, serta sarang burung walet. 

Menurutnya, sektor pertanian memiliki peranan besar terhadap kenaikan kinerja ekspor. Tercatat ekspor non migas sebesar US$ 13,42 miliar atau naik 1,24 persen dari sebelumnya yang hanya US$ 13,26 miliar pada Februari 2020. Sementara ekspor migas malah mengalami penurunan sebesar 16,29 persen dari US$ 800 juta menjadi US$ 670 juta.

Sepanjang bulan Maret 2020, Singapura, Malaysia, dan Ukraina menjadi negara tujuan ekspor RI yang mengalami kenaikan tertinggi. Masing-masing negara mencapai US$ 281,5 juta; US$ 89,7 juta; dan US$ 46,4 juta.

Namun begitu, untuk ekspor nonmigas Maret 2020 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu sebesar US$ 1,98 miliar, disusul Amerika Serikat sebesar US$ 1,57 miliar dan Jepang sebesar US$ 1,14 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,99 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$ 1,22 miliar. 

Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Maret 2020 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$ 7,17 miliar (17,16 persen), diikuti Jawa Timur dengan nilai US$ 4,99 miliar (11,95 persen) dan Kalimantan Timur dengan nilai US$ 3,85 miliar (9,22 persen).

Menanggapi kenaikan tersebut, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri mengatakan naiknya ekspor komoditas pertanian menjadi bukti pertanian dapat menjadi penopang ekonomi nasional.

Saat ini juga sedang berlangsung panen raya padi pada sejumlah daerah di Indonesia, sekalipun kondisi wabah Corona produksi pertanian tetap berjalan. Hal ini bukan menjadi penghalang bagi petani untuk tetap berproduksi. 

Handi Fu/Journalist/BD
Editor: Handi Fu

About The Author

Handi is a Partner of Management and Technology Services at Vibiz Consulting and Editor of beritadaerah.co.id. He is also working as trainer and consultant at LEPMIDA (Regional Investment and Management Development Institute).

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.