(Beritadaerah -Nasional) Likupang adalah sebuah kota kecamatan, di Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Keindahan dan kesejukan daerah ini membuat Likupang digadang menjadi tujuan wisata populer setelah Bunaken dan Tomohon.

Guna mewujudkan impian dan capaian tersebut pemerintah dan investor telah membangun sarana pendukung utama  yaitu energi listrik berasal dari energi hijau yang takkan pernah habis yaitu tenaga matahari, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Likupang.

Di perbukitan terdapat hamparan panel surya sebanyak 64.640 bagian yang menyelimuti tiap detail lekukan bukit. Sinar matahari di Likupang, Minahasa Utara nampaknya telah menjadi berkah bagi masyarakat sekitar.

PLTS ini dibangun melalui Power Purchase Agreement (PPA) tahun 2017 akhir, PLTS Likupang yang beroperasi sejak 2019 ini menelan total biaya investasi mencapai USD29,2 juta. Saat ini, PLTS yang berdurasi kontrak 25 tahun ini merupakan yang terbesar di Indonesia. Vena Energy menjadi investor yang memilih sektor energi baru terbarukan (EBT) untuk membangkitkan gairah ekonomi khususnya pariwisata di Likupang.

Konstruksinya dimulai sejak tahun 2017, namun baru beroperasi pada tahun 2019, dengan durasi kontrak selama 25 tahun.

Hamparan panel surya tersusun rapi di Desa Wineru, Kecamatan Likupang Timur, difungsikan oleh Vena Energy sebagai sumber energi listrik baru sejak 5 September 2019.

“Jam beroperasi selama 12 jam, mulai dari jam 05.30 pagi sampai matahari terik bisa 15 MW, kalau enggak ya menurun. Kalau hujan bisa masuk 3 MW. Itu sampai jam 17.30,” kata Country Head Vena Energy Ari Soerono di Kementerian ESDM, Kamis (12/3/2020).

Dengan jumlah kapasitas terpasang tersebut, Ari menilai PLTS Likupang menjadi PLTS terbesar di Indonesia hingga saat ini dan sebagai penopang sistem kelistrikan jaringan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sulutgo (Sulawesi Utara-Gorontalo) sebesar 15 MWp (Mega Watt peak). “Ini merupakan (PLTS) terbesar di Indonesia sebelum adanya PLTS Terapung di Cirata nanti,” jelas Ari.

Selanjutnya, Ari menjelaskan kemampuan konversi dari tegangan 800 Volt DC ke 380 Volt AC mengakibatkan adanya losses (susut) sebanyak 6 MW. Setelah itu, sistem produksi listrik PLTS Likupang langsung terhubungan secara online dengan jaringan listrik milik PLN. Pembangkit ini online grid, setiap kWh (kilo Watt hour) langsung dikirim ke PLN secara online tanpa baterai.

Meskipun  tidak sepanjang hari listrik dihasilkan, tapi dari sisi harga jauh di bawah harga listrik yang menggunakan BBM atau Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). “Yang jelas di bawah harga PLTD, jauh lebih murah,” tegas Ari.

PLTS Likupang sendiri dibangun sejak Power Purchase Agreement (PPA) tahun 2017 akhir dan memakan waktu sekitar 1,5 tahun dengan total biaya investasi mencapai 29,2 juta dolar AS. “Kontrak jual beli listrik berlangsung selama 20 tahun dengan skema Built, Own, Operate, Transfer (BOOT),” ungkap Ari.

Selama kontruksi, PLTS Likupang mampu menyerap hingga 900 tenaga pekerja. Saat beroperasi, 80 persen pekerja merupakan masyarakat sekitar. Selama beroperasi, pembangkit ini mampu melistriki hingga 15.000 rumah tangga serta mengurangi efek gas rumah kaca hingga 20,01 kilo ton.

Emy T/Journalist/BD
Editor: Emy Trimahanani

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.