Ilustrasi Anak Sekolah (Foto: Dwi Laleasari/ Unsplash)

Masa Depan Pendidikan Indonesia

(Beritadaerah – Kolom) Kejadian pandemi covid-19 yang telah melanda dunia dan juga Indonesia membawa perubahan yang signifikan dalam pendidikan Indonesia. Sejak keputusan belajar dari rumah dilakukan maka sangat terasa bagaimana percepatan perubahan terjadi. Menurut saya ide ‘merdeka belajar’ yang dicanangkan Mendikbud Nadiem akan cepat dilaksanakan dengan peristiwa ini. Sambil bekerja di rumah, saya jadi mengerti bagaimana gembiranya anak saya untuk belajar sesuai yang dia inginkan. Memang belum sepenuhnya bisa dilaksanakan, perlu kesadaran dan juga kedisiplinan. Media banyak memberitakan bagaimana masyarakat memilih untuk berlibur saat belajar di rumah ditetapkan. Ini respons nyata yang terjadi pada masyarakat. Namun akan cepat berubah dengan segera.

Guru di sekolah juga masih baru mulai mengajar daring. Mengajar murid jarak jauh, tidak bertatap muka, bukanlah mudah. Kalau saya lihat anak saya, maka metode yang dilakukan guru memberikan tugas bagi murid, dan dikirimkan melalui email atau google form. Baik murid, orang tua, guru menata ulang bagaimana bisa mencapai tujuan bersama. Murid menjadi cerdas dan untuk kemajuan Indonesia. Beberapa pedoman sudah disampaikan pemerintah saat belajar di rumah.

Pembelajaran daring atau jarak jauh untuk memberi pengalaman belajar yang bermakna, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan. Dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemi Covid-19. Aktivitas dan tugas pembelajaran dapat bervariasi antar siswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses atau fasilitas belajar di rumah.

Berita yang baru dilansir sebagai bagian road map pendidikan Indonesia adalah Ujian Nasional (UN) tahun 2020 dibatalkan. Ini adalah percepatan dari wacana mas menteri Nadiem. Keikutsertaan dalam UN tidak menjadi syarat kelulusan sekolah atau seleksi masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ini menjadi jalan untuk murid merdeka belajar, setidaknya indikator kelulusan pelajar tidak lagi pada hasil UN.

Pemerintah menyatakan ujian sekolah untuk kelulusan dalam bentuk tes yang mengumpulkan siswa tidak boleh dilakukan. Ujian Sekolah tidak perlu mengukur ketuntasan capaian kurikulum secara menyeluruh. Sekolah yang belum melaksanakan Ujian Sekolah dapat menggunakan nilai lima semester terakhir untuk menentukan kelulusan siswa. Keputusan ini memang masing menyisakan pertanyaan bagaimana standarisasi dilakukan? Paling tidak nilai semester mengikuti standard kurikulum yang ada dan yang penting adalah kualitas gurulah yang perlu sama seluruh Indonesia.

Melalui mekanisme belajar yang baru ini, terasa sangat berbeda bagaimana pembelajaran terjadi. Ini adalah jalan masa depan Indonesia dengan memacu baik siswa maupun guru dan orang tua melakukan pendidikan dengan metode baru. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, para penyelia e-learning, menjadi alternatif untuk cara belajar online yang asyik. Pemerintah menyiapkan assessment kompetensi bukan di akhir periode namun di pertengahan. Di tengah pandemi Covid-19 pendidikan Indonesia mendapat berkah untuk berbenah, memajukan anak negeri.

About Fadjar Dewanto

Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.