Teknologi Mortar Busa diterapkan untuk pembangunan Flyover Purwosari di Kota Solo, Jawa Tengah (Foto: Kemkominfo)

Teknologi Mortar Busa Bikin Pembangunan Flyover Purwosari Lebih Efisien

(Beritadaerah – Nasional) Teknologi mortar busa atau teknologi menggunakan material ringan untuk pengganti tanah timbunan untuk pembangunan jembatan atau flyover, dinilai mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan konstruksi konvensional. Teknologi ini bisa lebih efisien 60-70 % dan 50% lebih cepat dalam masa konstruksi dibandingkan konstruksi konvensional.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengembangkan ini untuk pembangunan flyover Purwosari di Kota Solo, Jawa Tengah. Konstruksi flyover telah dikerjakan sejak tanggal kontrak 8 Januari 2020, bertujuan mengatasi kemacetan akibat adanya perlintasan sebidang rel kereta Solo-Yogyakarta.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan pembangunan flyover merupakan salah satu program sterilisasi 500 perlintasan jalan dan kereta yang dilakukan untuk mendukung proyek The Java Northline Upgrading Project, yang akan mengembangkan jalur kereta api semi cepat Jakarta-Surabaya.

“Kami ditugasi untuk memperbaiki atau mensterilkan kurang lebih sekitar 500 perlintasan sebidang dengan jalan raya di sepanjang perlintasan rel kereta semi cepat Jakarta-Surabaya. Kami akan membangun flyover dan underpass hingga jembatan penyeberangan orang (JPO) termasuk perbaikan jalan lingkungan di sekitarnya,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono melalui siaran pers, Selasa (17/3/2020).

Mortar busa merupakan optimalisasi penggunaan busa (foam) dengan mortar (pasir, semen dan air) berkekuatan tinggi sehingga ideal menjadi dasar atau perkerasan jalan pada tanah lunak yang dikembangkan oleh Pusat Jalan dan Jembatan (Pusjatan). Mortar busa memiliki berat yang ringan, di mana massa jenis maksimum 0,8 ton/m3 untuk lapis base dengan UCS minimum 2.000 kilogram/cm2, serta massa jenis maksimum 0,6 ton/m3 untuk lapis sub-base dengan UCS minimum 800 kilogram/cm2. Seperti mortar beton, mortar busa juga memiliki sifat memadat sendiri.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) VII Semarang Akhmad Cahyadi mengatakan penggunaan Teknologi Mortar Busa pada Flyover Purwosari selain mempercepat waktu pelaksanaan pembangunan juga lebih efisien secara pembiayaan. MAmpu menghemat anggaran belanja konstruksi sebesar 15 persen.

Selain menghemat biaya, keunggulan Mortar Busa juga lebih efisien waktu pengerjaan jika dibandingkan dengan konstruksi konvensional (antara 40 persen) dan ramah lingkungan karena menggunakan lebih sedikit material konstruksi terutama bahan alam.

Hingga 15 Maret 2020, progres kontruksi Flyover Purwosari mencapai 10,9 persen atau lebih cepat dari rencana sebesar 4,8 persen, dengan masa pelaksanaan 348 hari kalender sampai dengan 20 Desember 2020. Flyover ini memiliki panjang 700 meter dengan jalan pendekat 202.40 meter (Barat) dan 240.68 meter (Timur).

Keberadaan Flyover Purwosari diharapkan dapat mengatasi masalah kemacetan yang kerap terjadi pada jam sibuk di Jalan Slamet Riyadi yang dilalui arus lalu lintas dari arah Kartosuro menuju pusat Kota Solo.

Pemanfaatan Teknologi Mortar Busa telah diterapkan di beberapa flyover di Indonesia salah satunya di Jalan Layang Antapani di Kota Bandung, Jawa Barat yang merupakan pilot project teknologi Corrugated Mortar Busa Pusjatan (CMP) pertama di Indonesia. Kemudian disusul flyover lain seperti Klonengan di Tegal dan Manahan di Solo.

Emy T/Journalist/BD
Editor: Emy Trimahanani

About Emy Trimahanani

Editor of Vibiz Media Network and Head of Vibiz Learning Center