Pesawat Garuda Indonesia (Dok. Kemkominfo)

Upaya Indonesia Menghadapi Wabah Virus Korona

(Beritadaerah – Ekonomi) Virus Korona yang sedang menyebar ke seluruh dunia, berdampak juga terhadap Indonesia. Sejak Rabu (5/2) Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi menghentikan penerbangan langsung dari dan ke Tiongkok. Fasilitas bebas visa untuk warga negara Tiongkok juga dicabut oleh pemerintah. Langkah pemerintah ini diambil dengan maksud sebagai tindakan pencegahan terhadap masifnya penyebaran virus korona.

Sudah pasti  keputusan ini akan membuat kinerja pariwisata Indonesia mengalami penurunan. Badan Pusat Statistik mencatat kedatangan turis Tiongkok ke Indonesia selama tahun 2019 mencapai 16,11 juta pengunjung atau 12 persen dari total wisatawan mancanegara. Jumlah yang besar ini sudah mulai terasa berkurang saat ini. Asita Bali menyatakan bahwa kurang lebih 3.400 turis asal Tiongkok membatalkan perjalanan ke Bali. Bulan Februari 2020 ini, Lion Air Group menutup penerbangan langsung dari delapan kota di Tiongkok ke Manado.

Selain pariwisata, Indonesia juga merasakan dampak virus korona tipe baru ini pada arus barang impor dari Tiongkok. Kementrian Pertanian membatasi impor produk pertanian asal Tiongkok. Langkah ini dilakukan Kementan untuk mencegah masuknya penyebaran virus korona ke Indonesia. Kementan melaporkan, hingga hari ini tidak ditemukan komoditas impor  dari Tiongkok yang terkontaminasi virus korona. Namun sebagai tindakan pencegahan memang dilakukan pembatasan impor Tiongkok agar Indonesia terhindar dari komoditas terkontaminasi yang berbahaya bagi masyarakat Indonesia.

Indonesia juga perlu menyiapkan diri menghadapi turunnya ekspor Indonesia ke Tiongkok. Ekspor Indonesia ke Tiongkok pada tahun 2019 sebesar 25,852 miliar dollar Amerika. Angka ini sekitar 16,68 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia. Demikian data-data BPS mengenai ekspor non migas Indonesia ke Tiongkok. BPS mencatat juga bahwa impor nonmigas Indonesia dari Tiongkok lebih besar dari ekspor nonmigas ke Tiongkok. Tahun 2019 nilainya 44,578 miliar dollar Amerika atau 29,95 persen dari total impor non migas Indonesia.

Setelah pariwisata dan impor ekspor dengan Tiongkok, Indonesia perlu mewaspadai realisasi investasi dari Tiongkok ke Indonesia. Tahun 2019 BPS menyebutkan realisasi investasi Tiongkok di Indonesia sebesar 4,7 miliar dollar AS (Rp 65,8 triliun). Nilai tersebut naik hampir dua kali lipat dari tahun 2018 lalu yaitu 2,4 miliar dollar (Rp 33,6 triliun). Industri Tiongkok terpukul oleh virus korona, ini jelas akan berdampak kepada rencana investasi yang semula, akan terjadi penurunan pada pendapatan perusahaan-perusahaan Tiongkok.

Tindakan pemerintah Indonesia sudahlah tepat, mencegah berjangkitnya virus korona di Indonesia. Peristiwa ini bisa diambil sebagai momentum untuk melepaskan diri dari ketergantungan kepada Tiongkok. Saatnya masyarakat industri membangun pengolahan bahan mentah yang tertutup untuk di ekspor ke Tiongkok menjadi barang yang memiliki nilai tambah untuk pasar dalam negeri. Investasi saat ini bisa dialihkan kepada negara-negara yang tidak memiliki ketergantungan kepada Tiongkok, dengan mendukung program presiden untuk perbaikan iklim usaha. Gelombang kebangkitan anak-anak muda untuk membangun perusahaan-perusahaan start up merupakan semangat Indonesia menjadi mandiri. Pemerintah bersama masyarakat bisa menolong mereka untuk bangkit dan berhasil mandiri melalui segala fasilitas yang diberikan.

About Fadjar Dewanto

Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.

2 comments

  1. guys ada kabar baru nich,
    mau dapatin duit dengan mudah tanpa keluar keringat?
    dan bisa jadi jutawan dalam waktu yang tidak lama,
    buruan yach ke qqharian,club
    jangan ketinggalan untuk menjadi jutawan….
    Click Disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.