(Beritadaerah – Nasional) Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama Kepala BNPB Doni Monardo, melakukan perjalanan dengan helikopter Super Puma L-2 AS-332  menuju lokasi bencana tanah longsor di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar), Minggu (5/1). Meskipun tidah berhasil mendarat karena cuaca berubah ekstrem, Presiden mendiskusikan langkah-langkah pencegahan terhadap longsor.

Presiden bertanya kepada Doni Monardo apa yang harus dilakukan untuk mencegah tanah longsor), dan Kepala BNPB ini menjawab: “Kembalikan fungsi lahan dengan menanam vertiver, Pak Presiden.” Vertiver adalah jenis tanaman yang dikenal dengan nama akar wangi atau narwastu. Tanaman ini adalah sejenis rumput yang berasal dari India. Tumbuhan ini termasuk dalam famili Poaceae, dan masih sekeluarga dengan sereh atau padi.

Meskipun hanya sejenis rumput, tetapi akar wangi memiliki akar yang menghunjam hingga kedalaman dua sampai dua-setengah meter. Sangat tepat untuk ditanam di lahan bekas HGU (Hak Guna Usaha) yang telah digunduli, tanpa reboisasi. “Ribuan lokasi bekas HGU, pohonnya sudah ditebangi dan ditinggal begitu saja,” ungkap Doni.

Sisa-sisa akar pohon yang ditebang, kemudian membusuk dan saat musim hujan tiba dengan curah yang tinggi mengakibatkan rongga tanah rentan longsor. Akar wangi, atau vertiver ini, lanjut Kepala BNPB, adalah pencegah longsor terbaik.

“Bioteknologi vertiver sudah diujicoba dan mendapat pengakuan World Bank bahkan PBB. Di banyak tempat dan negara, tanaman ini sudah dikenal luas sebagai tanaman pencegah longsor,” ujar Doni.

Presiden memerintahkan Kepala BNPB Doni Monardo segera melakukan penanaman vertiver di area gundul, utamanya di lereng-lereng pegunungan, dengan melibatkan anggota TNI yang punya kualifikasi panjat tebing, termasuk kelompok Wanadri kelompok pendaki gunung yang memiliki keahlian mendaki.

Doni berjanji segera menyiapkan seratus-ribu bibit akar wangi, untuk ditanam di daerah dengan tingkat kemiringan tertentu yang dalam kondisi gundul, dan rawan longsor. Menurut Doni, ada ribuan titik rawan longsor di Tanah Air. Itu semua diawali dengan pemberian HGU kepada perusahaan tanpa kontrol serta kewajiban menghijaukan kembali lahan HGU diabaikan dan telah digunduli semena mena. Penggundulan itu sudah terjadi 10 hingga 20 tahun yang lalu, dan tahun-tahun ini baru berdampak longsor.

“Di sela-sela tanaman akar wangi, akan diseling tanaman keras seperti sukun, aren, dan alpukat. Selain punya nilai ekologis, juga punya nilai ekonomis,” ujar Doni.

Emy T/Journalist/BD
Editor: Emy Trimahanani