Tenun Ikat NTT, Lestarikan Budaya dan Tingkatkan Perekonomian (Foto: Kemkominfo)

Tenun Ikat NTT, Lestarikan Budaya dan Tingkatkan Perekonomian

(Beritadaerah – NTT) Siapa yang tidak mengenal tenun ikat Nusa Tenggara Timur (NTT)? NTT memang merupakan daerah yang kaya akan tenun ikat, salah satunya berasal dari Kabupaten Belu yang menjadi salah satu bagian dalam wilayah Provinsi NTT.

Tenun ikat yang dihasilkan Kabupaten Belu memiliki empat etnis dengan beragam variasi tenun. Salah satu yang terkenal adalah etnis kemak yang berada di Dusun Poba, Desa Sadi Kecamatan Tasifeto Timur. Usaha mempertahankan dan mengembangkan tenun ikat di daerah ini dilakukan dengan membentuk kelompok tenun ikat.

Diharapkan melalui kelompok tenun ikat ini, selain melestarikan budaya tenun ikat dapat pula meningkatkan perekonomian para anggotannya.

Regina Soi Bere yang menjadi ketua kelompok Melati yang sudah terbentuk semenjak 5 tahun silam beranggotakan 11 Ibu Rumah Tangga (IRT). Menurut Regina, kelompok ini sangat membantu mereka dalam urusan keuangan, teristimewa untuk menjawab kebutuhan keluarga mereka masing – masing dari kebutuhan sehari – hari sampai dengan kebutuhan sekolah anak– anak mereka.

“Hal yang menjadi keresahan para penenun dari kelompok tenun ikat Melati hampir sama dialami oleh penenun di seluruh wilayah NTT adalah masalah pewarisan teknik menenun kepada generasi muda sekarang ini. Ini harus menjadi fokus perhatian pemerintah dan masyarakat NTT di manapun berada,” ujarnya.

Proses yang dilakukan untuk mendapatkan hasil tenunan yang baik, proses pewarnaan dilakukan dengan dua cara, baik menggunakan pewarna tradisional seperti campuran abu dapur, kapur sirih maupun jenis tenunan yang menggunakan pewarna buatan. Tenun yang menggunakan pewarna tradisional membutuhkan waktu yang lebih lama karena proses pembuatannya yang lumayan sulit dan harganya pun tentu lebih mahal.

Sedangkan pemasaran hasil tenun ikat bisa dijual secara langsung, melalui pesanan maupun lewat pameran lokal serta studi tenun yang di gelar sesuai program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu.

Harga hasil tenunan pun bervariasi yang mengggunakan bahan pewarna alam tradisional harga berkisar Rp.1.000.000 hingga Rp. 2.000.000,- sedangkan tenunan yang menggunakan bahan pewarna buatan harga lebih murah antara Rp. 500.000,- hingga Rp. 600.000,-.

Herwantoro/Journalist/BD
Editor: Emy Trimahanani

About Emy Trimahanani

Head of LEPMIDA (Regional Investment and Management Development Institute), Partner in Management and Technology Division of Vibiz Consulting and Editor of Vibiz Media Network.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.