Kementerian ESDMN Kembangkan Panas Bumi di Mataloko, NTT

(Beritadaerah – Jakarta) Indonesia memiliki potensi yang besar dalam pemanfaatan pembangkit listrik panas bumi atau geothermal. Selain Jawa Barat yang memiliki potensi panas bumi yang besar, wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya di Pulau Flores memiliki potensi panas bumi yang cukup besar di antaranya Ulumbu, Mataloko, Mutubusa, Ropa dan Atadei.

Dari 12 wilayah prospek panas bumi di Pulau Flores, terdapat tiga wilayah yang mendapat izin pengelolaan WKP (Wilayah Kerja Panas Bumi), yaitu Ulumbu, Mataloko dan Sokoria dengan total kapasitas terpasang mencapai 12,5 MW.

Dengan pemanfaatan potensi panas bumi tersebut, diharapkan ke depan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi di NTT secara signifikan. Kementerian ESDM mencatat rasio elektrifikasi NTT termasuk yang terendah di Indonesia, hingga bulan Juni 2019 sebesar 72%.

Pemerintah berkomitmen meningkatkan rasio elektrifikasi di Provinsi NTT melalui percepatan proyek infrastruktur kelistrikan yang bersumber pada energi panas bumi, hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Litbang Kementerian ESDM Dadan Kusdiana di Jakarta, Selasa (23/7).

Salah satu upaya percepatan yang dilakukan, lanjut Dadan, bersama Kepala Badan Geologi, Rudy Suhendar dan Direktur Pengadaan Strategis 1 PT PLN (Persero), Sripeni Inten Cahyani minggu lalu (18/7), telah ditandatangani nota kesepahaman (MoU) studi eksplorasi dan pengeboran sumur produksi di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Mataloko, Kabupaten Ngada, NTT.

“Seiring dengan berkembangnya wisata di wilayah tersebut, kebutuhan listrik di NTT terus meningkat. Saat ini sebagian besar kebutuhan listrik NTT masih dipasok oleh Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD),” ujar Dadan yang dikutip laman ESDM, Selasa (23/7).

Dalam kerja sama ini, Kementerian ESDM melalui Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (P3TKEBTKE) dan BLU LEMIGAS, akan melaksanakan beberapa studi panas bumi, meliputi studi mitigasi resiko, studi geologi geokimia geofisika, studi Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) serta penggunaan peralatan rig hidrolik (mobile hydraulic rig) LEMIGAS.

PT PLN Gas dan Geothermal (PT PLN GG) sebagai anak perusahaan PT PLN (Persero) yang menangani bidang infrastruktur gas dan penyediaan tenaga listrik panas bumi, ditugasi untuk mengembangkan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKPO) Mataloko dalam pembangunan PLTP 2,5 MW.

Panas bumi merupakan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Pengembangan panas bumi selain ramah terhadap lingkungan yang dibuktikan dengan emisi rendah yang dihasilkannya. Menurut International Energy Agency (IEA) panas bumi hanya menghasilkan emisi Co2 sekitar 75 gram per Kwh lebih rendah jika dibandingkan dengan emisi Co2 dari BBM yang 10 kali lipat lebih tinggi yaitu 772 gram per Kwh, apalagi dibandingkan dengan emisi Co2 yang dihasilkan dari PLTU batubara yang mencapai yang 955 gram per Kwh.

Handi Fu/Journalist/BD 
Editor: Handi Fu

About Fu Handi

Fu Handi is a Partner of Management and Technology Services at Vibiz Consulting and Editor of beritadaerah.co.id. He is also working as trainer and consultant at LEPMIDA (Regional Investment and Management Development Institute).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.