Menuju B30, sumber: ESDM

Menghemat Impor Migas melalui Biodiesel B30

(Berita Daerah-Jakarta) Kabar baik! Kini impor minyak dan gas (migas) Indonesia telah berkurang sebesar US$ 3 miliar setara Rp 42 triliun (kurs Rp 14.000 per dolar AS). Hal ini disebabkan oleh keberhasilan program pemerintah untuk penggunaan bakar Biodiesel B30 . Program ini kini mulai menuai hasil manis.

Program yang muncul dengan adanya Peraturan Menteri ESDM nomor 12 tahun 2015 yang mewajibkan penggunaan B30 per Januari 2020, memang mulai diuji coba sejak 13 Juni 2019. Ada 11 kendaraan yang terdiri dari dua tipe yakni delapan kendaraan penumpang bertonase di bawah 3,5 ton dan tiga kendaraan bertonase di atas 3,5 ton yang menggunakan Biodiesel B30.

Pada Selasa (16/7/2019), Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan “Saya sudah laporkan ke Pak Presiden, ini kita bisa hemat sampai US$ 3 miliar.” Penghematan ini dapat terjadi karena selama ini Indonesia harus menganggarkan impor migas kurang lebih lebih sebesar Rp 300 triliun per tahun. Hal ini mengakibatkan perdagangan dalam negeri mengalami defisit.

Selama ini biodiesel yang digunakan di Indonesia adalah sistem B20 dimana 20 persen terbuat dari minyak kelapa sawit. Hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 41 Tahun 2018 yang mulai diterapkan sejak 1 September 2018 lalu. Sejak itu penggunaan B20 pun meningkat dan menuai kesuksesan hingga akhirnya beranjak ke penggunaan B30 yang tentukan semakin ramah lingkungan. Pemerintah akan mewajibkan penggunaan Biodiesel B30 mulai tahun 2020 dan mengharapkan konsumsi biodiesel dalam negeri di 2025 akan meningkat dari 3,8 juta kilo liter pada tahun 2018 menjadi 6,9 juta kilo liter. (Lihat juga: Indonesia Tingkatkan Pemanfaatan Biodiesel)

Defisit neraca perdagangan Indonesia (sumber:BPS) adalah sebesar US$ 1,94 miliar sepanjang tahun 2019, dimana Indonesia masih mengimpor migas sebesar US$ 1,7 miliar. Sebenarnya angka ini sudah mengalami penurunan 19,99 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Apabila B30 terus dikembangkan maka diharapkan defisit perdagangan bisa terus berkurang. Terlebih Indonesia memiliki potensi minyak kelapa sawit yang sangat melimpah.

Saat ini memang pengembangan B30 masih terkendala teknologi. Untuk itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan meminta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama perguruan tinggi untuk ikut fokus mengembangkan teknologi B30.

Namun, Indonesia tidak akan hanya berhenti di B30. Suatu saat nanti, diharapkan akhirnya bisa menggunakan B100, yaitu bahan bakar yang tidak lagi menggunakan minyak berbasis fosil, tetapi seluruhnya dari bahan terbarukan seperti jagung, kelapa sawit atau lainnya. B100 memiliki keunggulan yakni lebih efisien 40 persen dibanding bahan bakar fosil, yaitu dapat menempuh jarak 13 km per liter. Bila dibandingkan dengan solar yang menempuh jarak 9,4 km per liter. B100 ini selain bisa menghemat devisa, pastinya juga akan berdampak langsung pada kesejahteraan petani sawit. (Lihat juga:Kebutuhan CPO Meningkat, 391 Pabrik Kelapa Sawit Tersebar Diseluruh Indonesia)

(Vera Herlina/BD)

About Vera Herlina

Partner of Management and Technology Services Vibiz Consulting, Journalist Vibiz Media Network