Pertemuan PERSEPI di Hotel Morrissey, Jakarta (Photo: Jul Allens/BD)

Pertemuan Terbuka PERSEPI : Expose Data Quick Count Pemilu 2019

(Berita Daerah – Nasional)  PERSEPI (Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia) mengadakan pertemuan terbuka dengan mengundang media untuk hadir dalam topik “ Expose Data Quick Count Pemilu 2019” . Acara digelar Sabtu (20/4/2019) di The Icon Room Hotel Morrissey, Jalan KH. Wahid Hasyim No.70, Menteng, Jakarta Pusat.

Hadir dalam acara ini  8 lembaga survei dari 32 anggota PERSEPI yaitu: SMRC, Indo Barometer, Charta Politika, CSIS, Cyrus Network, Poltracking, Indikator Politik Indonesia, LSI (Lembaga Survei Indonesia). Ketua PERSEPI: Philips J. Vermonte membuka acara ini. Hadir pula Andi Syafrani, legal dari PERSEPI dan Hamdi Muluk, Dewan Etik PERSEPI. Mereka membahas secara terbuka proses dari quick count sebagai upaya melawan tudingan melakukan kecurangan dan membuktikan bahwa pekerjaan yang dilakukan adalah pekerjaan professional.

Memang didalam quick count ada beberapa hal yang penting dalam sampling yaitu:
1. Kejelasan sampling
2. Pengukuran validitas
3. Pengukuran reliabilitas
4. Software pengolahan data yang digunakan dan prosedur pengawasannya

Dalam pertemuan ini, anggota-anggota PERSEPI menegaskan kembali tujuan dan fungsi diadakannya quick count, seperti Deni Irvani dari SMRC menegaskan quick count adalah bagian dari partisipasi masyarakat untuk ikut membantu kontrol agar pemilu berjalan berkualitas dan demokratif. Bukan alat untuk menutupi kecurangan. Justru alat untuk untuk memilih referensi apakah hasil resmi mengalami masalah atau tidak. Itu fungsi dasar quick. Dikatakannya “1.500 Pilkada di Indonesia plus 7 kali Pemilu Nasional selalu ada qc dari berbagai lembaga. bayangkan ada ribuan quick count dan secara umum tidak ada masalah dengan quick count. Jadi sebetulnya kita semua masyarakat dan terutama politisi sudah terbiasa dengan quick count.”

Pertemuan PERSEPI (Photo: Jul Allens/BD)

 

Quick count yang adalah pelengkap demokrasi ini memang berbeda dengan survei ataupun exit poll. Quick count memiliki jenis data yang berbeda dengan survei dan exit poll. Quick count disebut sebagai alat kontrol kecurangan karena sampelnya adalah data langsung dari TPS. Polster menurunkan banyak enumerator yang diterjunkan langsung ke TPS. Hasil dari TPS dikirimkan langsung ke pusat.

Asep Saefuddin, penanggungjawab umum quick count Indo Barometer menyatakan sangat penting perlu dijelaskan bahwa survei dan exit poll sama-sama merupakan opini respons dari pemilih. Sedangkan quick count atau real count adalah data pasti penghitungan masing-masing TPS, hanya sebatas sampling terhadap populasi.

Ketika ada beberapa pihak yang membandingkan apple to apple antara quick count dengan real count dan dengan survei atau exit poll tentu tidak bisa. Survei dilakukan sebelum hari H dan exit poll dilakukan setelah pemilih menentukan pilihan. Quick count merupakan kegiatan panjang yang susah payah dipersiapkan hingga hari H dengan matang berbulan-bulan dan banyak tim yang diturunkan mulai dari update dalam menyusun sample, menyusun instrumen, pergi ke lapangan, menyusun server, IT programmer, dan lainnya.
Asep mengeluhkan “Rasanya tidak ada harganya sama sekali walaupun sudah bersusah payah namun dihargai dengan tukang bohong, hoax dan sebagainya. “

Setiap polster tentunya ingin hasilnya adalah yang tercepat dan terakurat. Akurat dalam arti bila dibandingkan dengan hasil KPU secara deviasi masih dalam batas wajar. Hasil dari para polster bisa sama, hal ini menunjukkan adanya proses yang benar, bukan persengkongkolan.

Namun demikian ditegaskan bahwa hasil final tetap ada di KPU dan terserah apakah masyarakat mau percaya atau tidak terhadap hasil quick count sambil menunggu hasil resmi KPU diumumkan. Di akhir acara Hasan Nasby dari Cyrus Network menegaskan bahwa tidak satupun polster memaksa untuk percaya kepada hasil quick count. Polster selalu bilang yang unggul versi siapa setelah itu silahkan menunggu hasil resmi KPU. Quick count dipakai untuk memuaskan keingintahuan orang siapa yang menang hari itu karena menunggu perhitungan resmi perlu waktu. PERSEPI mengatakan perlu untuk menjelaskan kepada publik sebab sudah dua kali pilpres berturut-turut mereka difitnah oleh pihak-pihak yang tidak puas dengan hasil quick count.

Jul Allens/Journalist/BD